Overbearing CEO : Petting Cute Wife

Overbearing CEO : Petting Cute Wife
Bab 33 Memberikan Perlakuan Khusus


__ADS_3

Bab 33 Memberikan Perlakuan Khusus


Eki Tobingmembungkukkan badannya dan mengambil dokumen yang berserakan di lantai.


Tiba-tiba sorot matanya seketika menjadi terang, dia seketika mengangkat kepalanya dan melihat ke arah pintu yang terbuka dari luar. Cahaya orange pekat matahari menusuk kedalam matanya, tanpa sadar seketika menyipitkan matanya karena silau yang dirasakannya.


Dalam pandangannya, terlihat warna orange gelap dari cahaya matahari dari arah pintu yang tenggelam di arah barat, dari sosok Abdul Qodiryang tinggi dan tampan terpancar cahaya keemasan yang bersinar terang.


Abdul Qodirterlihat seperti seseorang yang baru keluar dari dimensi lain, dibarengi oleh cahaya matahari dari belakangnya, seakan menerima persembahan dari seluruh penjuru dunia.


……Perawakannya yang sangat sempurna, aura yang sangat berkelas, serta keindahan yang ada pada dirinya....


Laki-laki ini benar-benar adalah seseorang yang sangat diberkati oleh tuhan dengan kesempurnaannya!


Saat itu, pikiran Eki Tobingbenar-benar terpikat tidak dapat teralihkan.


Sorot mata hitam pekat Abdul Qodirsamar-samar memandang seseorang yang sedang setengah berdiri di depannya, terdiam memandangi wanitanya. Selanjutnya sorot matanya beralih kepada Rio saputrayang juga berdiri disana.


Kedua sorot mata itu bertabrakan dalam ruang yang kosong, dan beradu menjadi satu dibawah sorot cahaya matahari.


Sorot mata Abdul Qodirtiba-tiba tertegun membawa aura yang mendominasi yang tidak bisa terelakkan.


Sedangkan sorot mata Rio saputramenunjukkan tatapan yang tenang, menunjukkan aura yang lembut dan elegan.


"Presdir." Rio saputraseketika menyembunyikan semua permasalahan yang sedari tadi tersirat diwajahnya, menyapa dengan hormat kepada presdirnya itu.


"Presdir." Saat itu Eki Tobingyang telah selesai mengambil dokumen yang terjatuh dilantaipun segera berdiri.


"Apa yang kalian lakukan disini?"


Abdul Qodirbertanya dengan dingin.


"Ki..kita.... " Eki Tobingpada dasarnya adalah seorang wanita, berpikir bahwa laki-laki yang bekerja di pemerintahan, dalam sega aspek tidak lebih baik daripada laki-laki yang menggeluti dunia bisnis. Meskipun dia dengan sekuat tenaga berusaha menenangkan pandangannya, tetapi sepasang mata yang menyembunyikan tatapan mencurigakan mengorbankannya begitu saja.


"Sebenarnya seperti ini." Jika dibandingkan dengan Raline, Rio saputraterlihat lebih tenang.


Dia hanya memancarkan senyum penuh hormat dan menjelaskan, "saya ada sebuah dokumen yang tidak sengaja tertinggal disini, kemudian kembali untuk mengambilnya. Kemudian tidak sengaja bertemu dengan penerjemah Raline, kemudian bertanya kepdanya apakah adal hal yang perlu saya bantu untuknya."


Abdul Qodirtidak begitu saja mempercayai apa yang dia katakan, tetapi dia tidak mengatakan apa yang dia curigai itu. Hanya saja, dia mengarahkan pandangannya pada Eki Tobinguntuk memastikan.


"Iya, memang benar seperti itu." Eki Tobingterdiam sesaat baru memberikan respon sambil menganggukkan kepalanya.


Sorot mata Abdul Qodirtidak bergeming, bahkan siapapun tidak dapat menduga apa yang sedang ada dalam pikirannya. Dia mengangguk, bibir tipisnya bergetar pelan, "barangnya sudah dibereskan semua belum?"

__ADS_1


"Iya, sudah semua." Jawab Eki Tobingdengan sorot mata yang berkilauan dan menganggukkan kepalanya.


"Oh." Abdul Qodirmenyaut melangkah kedepan, mengeluarkan tangannya, dan seketika meraih tangan  Eki Tobingdan berjalan keluar.


Terlihat ujung bibir Eki Tobingyang sedikit terangkat, tersenyum tipis yang membuat mukanya seketika memerah.


Sedangkan Rio saputrayang masih mematung di ruang rapat yang menyaksikan kejadian ini merasa dirinya seketika seakan ada sebuah petir yang menyambarnya. Melihat Abdul Qodiryang tadi menggandeng tangannya seakan ada getaran yang menyambar tubuhnya, seperti bukan pertama kali melihatnya. Jangan-jangan hubungan mereka memang sudah sampai sedekat itu?


Kaki Eki Tobingyang menginjak hells berjalan mengikuti langkah kaki laki-laki yang menggandengnya dengan tangan lembut dan hangat, membuatnya menjadi tidak karuan.


Dia dibelakang berjalan dengan sedikit kesusahan.


Seketika Abdul Qodirmenghentikan langkahnya, sorot matanya tertuju ke arahnya.


"Masih sakit?"


Eki Tobingmenjawab, "tidak, sudah tidak sakit lagi."


Abdul Qodirsedikit mengangkat kedua alisnya, dan berkata: "tidak boleh pakai heels lagi, besok-besok pakai sepatu flat saja."


Mendengar dia yang berkata seperti itu membuat hatinya tidak karuan dan berkata dengan terbata-bata, "tapi memakai hels adalah peraturan perusahaan, saat bekerja harus memakainya."


"……"


Nada suara yang terkesan sombong!


Peraturan ini jelas-jelas dialah yang menetapkannya, sekarang malah memintanya untuk tidak memakainya, bukannya dia hanya membuat Eki Tobingkesulitan?


Melihat raut wajah Eki Tobingyang terlihat murung, ekspresi muka Abdul Qodirjuga terlihat sedikit lebih tenang, suaranya juga tidak seperti saat tadi yang terlihat begitu dingin.


"Peraturan tidak dapat berubah, tetapi manusia dapat menentuka sikapnya sendiri akan peraturan itu. Jika kamu tidak biasa memakainya, kamu boleh tidak memakainya."


Saat dia mengatakannya terdengar sedikit perhatian. Kemurungan yang tadi terpancar dari wajahnya juga perlahan mulai memudar, hanya saja Eki Tobingmasih memanyunkan bibirnya, dengan tidak puas berkata, "kalau seperti itu, yang akan kena marah juga tetap aku, bukan kamu."


"Sembarangan saja! Ini perusahaan, semuanya aku yang mengatur, nanti aku akan meminta Pak Hadi untuk menghilangkan peraturan ini, aku mau liat siapa yang berani memarahimu!"


Eki Tobingterkejut oleh kata-kata yang dikatakannya dengan yang sedikit gila tetapi terdengar sangat keren.


Abdul Qodirtidak mengatakan apa-apa lagi, hanya menggandeng tangannya dan kembali berjalan keluar.


Terlihat bahwa mereka kaluar dari ruang rapat dan akan segera menuju ruang kantor, Eki Tobingmerasa sedikit gugup, dengan segera menarik tangannya dari genggaman Nicholas. Tetapi Abdul Qodirtidak mau melepaskannya, dia hanya menggerakkan tangannya sedikit, dia malah menggenggamnya semakin kuat dengan sengaja membuatnya kesal.


"Itu…… Presdir, aku……"Eki Tobingmenggigit ujung bibirnya,ekspresi wajahnya tidak terlihat mengenakkan,"kamu……lepaskan tanganku."

__ADS_1


Mata Abdul Qodirterlahir sangat indah, bulu matanya yang panjang dan lentik, sangat jernih layaknya perempuan. Terutama seperti saat ini saat dia memandang seseorang.


"Aku tidak akan melakukannya."


Eki Tobingmulai kesal!


Laki-laki ini kenapa bisa semena-mena seperti ini? Kenapa segala hal harus dilakukan sesuai dengan kemauannya?


Eki Tobingdengan amarah yang menggebu-gebu berkata, "kalau begitu aku tidak akan jalan."


Ekspresi merengek yang menggemaskan seperti ini membuat Abdul Qodirdari tenggorokannya mengeluarkan suara tertawa yang tertahan darisana.


Abdul Qodirkemudian melepaskannya dan berjalan pelan ke arah Raline.


Eki Tobingmenundukkan kepalanya seakan dirinya adalah seorang gadis yang sedang ditindas.


Area kantor terbuka.


Pak Hadi, Damiri, PUjang Arifa dan yang lainnya berada ditempat itu.


"Dimana Raline?"Damiri yang bertanya keberadaan Raline.


"Tidak tau tuh.


"Tidak jelas"


"Bukannya dia pergi rapat?"


Satu persatu para pegawai menunjukkan bahwa mereka tidak mengetahui keberadaan Raline.


Ekspresi wajah PUjang Arifa lama kelamaan semakin terlihat tidak senang, perempuan ini pergi mencari laki-laki itu kemana lagi! Kejadian yang terjadi di ruang rapat tadi, dia belum membalasnya dengan setimpal.


Pak Hadi melangkah maju dan berkata kepada Damiri,"ketua sekretaris, kejadian ini tidak boleh dibiarkan seperti ini. Bagaimanapun juga, semua keputusan boleh diputuskan jika sudah mendapat persetujuan Presdir"


Secara tidak sadar, Pak Hadi merasa bahwa Presdir tidak akan memecat Raline. Karena dia merasa bahwa presdir dan wanita itu ada suatu hubungan yang sulit dijelaskan. Dia telah mengikuti presdir selama ini, tetapi belum pernah menjumpai bahwa dia menunjukkan sikap seperti ini kepada wanita manapun.


Damiri dengan senyum dinginnya berkata,"Pak Hadi,kamu berkata sepertin ini kepadaku juga tidak ada gunanya, ini adalah keputusan wakil presdir. Jangan bilang kalau wakil presdir akan memecat seseorang harus melalui persetujuan dari Pak Hadi?"


"……bukan seperti itu!" Pak Hadi menjelaskan.


"Kalau begitu sudah jelas kan! "Damiri memberikan tatapan dinginnya.


Sorot mata PUjang Arifa seketika tertuju pada meja di depan meja milik Raline, yaitu meja Sidi Lestari.

__ADS_1


"Apakah kamu melihat Raline?"PUjang Arifa tanpa bertanya dia sapa dan langsung saja bertanya kepadanya.


"……tidak tau. " sejak kapan Sidi Lestari mempunyai hubungan yang dekat dengan petinggi Sanjaya Group? Ditambah lagi dia adalah wakil presdir, PUjang Arifa. Jawaban yang dilontarkannya terdengar bahwa dia sedikit gemetar, kemudian dengan hati-hati melanjutkan "sore tadi setelah rapat sampai sekarang dia belum kembali."


__ADS_2