
Bab 45 Kekuasaan Penuh Keluarga Qodir
Kakek dan cucu bercanda dengan senang sampai tidak mempedulikan orang-orang yang berdiri di samping.
Menantu kedua Liki menatap Ibramsyah yang sedang ngobrol dengan bersemangat Abdul Qodirdengan sangat dingin, dalam hati terlintas banyak pemikiran.
Tidak lama, para suster masuk ke dalam, bilang pasien harus minum obat dan beristirahat.
Keluarga besar ini satu per satu berpamitan dengan tuan besar, saat ini ekspresi Ibramsyah diam-diam senang dan sudah membaik banyak.
"Nicholas, kamu tunggu dulu baru pergi, kakek mau ngbrol sebentar denganmu."
Abdul Qodirmenganggukkan kepala, iya.
Pandangan mata Liki juga sudah berubah, lalu, seperti tanpa masalah ikut di belakang kerumuman orang keluar dari kamar pasien.
Ibramsyah menunggu sampai orang keluar habis, juga menyuruh para suster itu menyingkir keluar.
Wajah tuan besar yang tua tapi tidak kehilangan semangat yang luar biasa.
"Bagaimana keadaan nenekmu?"
"Kadang baik kadang tidak." Abdul Qodirmenjawab, masih kepikir mau memberitahunya situasi tak terduga yang terjadi pada Gery, tapi dipikir-pikir, akhirnya masih tidak dibicarakan. "Dia selalu ingin bertemu denganmu." Ibramsyah mengerutkan alis putihnya yang panjang, menunjukkan banyak kelembutan.
"Kamu pikirkan cara memberitahunya, agar dia baik-baik di rumah untuk melakukan pemulihan, jangan selalu berpikir untuk keluar, tubuhnya juga selalu tidak baik. Tunggu badanku sudah baikan juga akan pulang."
"Baik!" Abdul Qodirmenganggukkan kepala.
"Aku akan memikirkan cara menyembunyikan riwayat penyakit, sebisa mungkin membuat orang-orang di luar tahu kalau aku sudah sakit sampai kritis. Aku mau lihat, anak durhaka itu sebenarnya sedang melakukan perencanaan apa!"
Abdul Qodirtidak menjawab.
Ibramsyah tersenyum, "Bocah, kamu tidak perlu berpura-pura tidak tahu apa-apa lagi."
Abdul Qodirmengangkat alis, tidak tahan, malah tersenyum.
Pandangan tuan besar menghadap keluar, menatap dalam-dalam kesana.
Keluarga orang kaya pasti akan mengalami perjalanan seperti ini, di ganti dengan yang baru, tidak bisa di hindari lagi. Tapi, asalkan dia Ibramsyah masih ada, tidak ada orang yang bisa mengambil keputusan sendiri, berharap bisa mendapatkan kekuasaan penuh Keluarga Qodir tanpa izin darinya!
"Nak." Ibramsyahmenarik kembali pandangannya, pelan-pelan memanggil sekali.
__ADS_1
"Iya!"
"Buru-buru tidak?"
Abdul Qodirmenggelengkan kepala.
Ibramsyah menganggukan kepala, "Baik, baik kalau begitu! Kakek cuma takut kamu buru-buru, melakukan sesuatu bisa kehilangan batas, tidak bisa tenang menghadapi sesuatu! Sifatmu masih belum cukup matang, masih perlu banyak-banyak latihan."
"Baik," Abdul Qodirmenjawabnya, di atas kepala cahaya lampu yang lembut menyinari wajahnya yang tampan. Ujung bibir dan alis pria, sangat tenang dan datar.
Ibramsyah menganggukkan kepala, "Pergilah, sementara yang mau dibicarakan cuma segini."
Barulah Abdul Qodirberdiri, berpelukan sebentar dengan kakeknya, lalu berpamitan.
Abdul Qodirkeluar dari pintu rumah sakit, sekelompok orang, semua anggota dan profesor senior rumah sakit swasta, termasuk direktur rumah sakit, secara pribadi juga keluar mengantarnya.
"Tuan muda Nicholas, selamat jalan." Umur direktur rumah sakit sudah paruh baya, tidak gemuk, agak botak, di atas hidung ada sebuah kacamata. Sekali lihat sudah tahu seorang sarjana kejuruan yang berusaha keras dan disiplin.
"Eng." Abdul Qodirmerespon sekali dengan datar, langsung berjalan ke arah mobilnya.
Pria membuka pintu mobil, tubuh yang kuat dan kekar masuk ketempat duduk pengemudi.
Dia pelan mengangkat kepala, tatapan mata yang tenang menghadap ke depan. Sesekali, dia mengeluarkan ponsel.
"Tuan muda Nicholas." Suara ini sengaja di rendahkan.
"Situasi bagaimana." Bibir tipis Abdul Qodirpelan bergerak.
"Kondisi tubuh nyonya besar sudah tenang, hanya saja emosinya masih kurang stabil. Jika dalam jangka panjang begini, takutnya tidak baik."
Mendengarkan, kedua mata Abdul Qodiryang cuek mempererat pandangannya.
Di dalam hati pria terlintas sebuah pemikiran, wajah yang sempurna itu tetap dingin seperti embun beku.
"Baik, aku sudah tahu. Terus perhatikan, jika ada kondisi mendadak yang terjadi langsung menghubungiku."
"Baik!"
Mobil hitam off-road yang liar dan berkuasa mulai dihidupkan mesinnya, body mobil membelok, perlahan-lahan dikemudikan keluar dari pintu utama rumah sakit swasta Keluarga Qodir, berada dijalanan yang mulus tanpa hambatan, seperti seekor macan tutul hitam sangat cepat berlari ke arah yang jauh.
Sebuah mobil pribadi di tempat pengemudi, Feby mengemudikan mobil dengan tenang, Liki duduk di jok belakang. Dia pergi tidak membawa supir, juga kebetulan Feby pulang untuk makan malam keluarga, jadi sekalian membawanya bersama ke rumah sakit, dan sekarang mengantarnya pulang.
__ADS_1
Di dalam mobil jelas-jelas AC dibuka, Liki tetap merasa panas dan membosankan. Menarik sebuah nafas yang panjang, dengan aneh berkata.
"Kekuasaan penuh Keluarga Qodir kita, nantinya mungkin akan jadi milik Nicholas." Sambil bicara masih menghela nafas dengan dingin, dan menatap keluar jendela.
Dia bergumam begini, langsung membuat Feby yang duduk di jok pengemudi jadi tidak puas.
"Kamu bisa jangan banyak bicara? Kakek masih terbaring baik-baik saja, kata-kata kamu yang durhaka ini jika sampai terdengar di telinganya, pasti tidak akan mampu menanggung akibatnya."
Liki tidak merasa begitu dan mulutnya jadi manyun, "Aku juga tidak salah bicara, kamu tidak melihat adegan tadi ya. Dalam mata tuan besar, hanya ada Nicholas. Juga tidak tahu ada apa dengan ayah dan anak itu, kekuasaan penuh jatuh ke tangan ayahnya, bukankah nantinya akan di serahkan pada Nicholas. Ayah dan anak berdua, apakah masih perlu saling berebut."
Feby tersenyum pelan, kedua tangan memegang kemudi mobil, dalam mati terpancar sinar mengejek.
"Kamu juga, tadi ada begitu banyak orang, perlukah kamu berbuat begitu padaku." Membicarakan hal ini dalam hati Liki merasa tidak puas.
Feby meliriknya sekilas, berkata, "Jika aku tidak berkata begitu, menurutmu apakah kamu bisa menyelelesaikan masalah ini, kalau tidak aku masih harus membantumu berbicara."
Krak.
Liki mengedipkan matanya, tidak berbicara lagi.
"Masih ada lagi, sekarang kakek memanjakan Nicholas, masih bisa bagaimana lagi?
Tuan besar sehari tidak keluar rumah sakit, kekuasaan penuh Keluarga Qodir akan berada pada tangan kakak pertama. Kalau pun keluar rumah sakit bisa bagaimana? Apakah menurut kamu kakak pertama akan menyerahkan kekuasaan penuhnya, kembalikan padanya, atau akan di berikan pada Nicholas?
Kamu hanya akan diam saja, membiarkan mereka saling berebut, kita yang akan menjadi pemenang terakhirnya!"
Liki mengerutkan alis, "Aku juga maunya tidak mempedulikannya, tapi tidak mau begitu. Sekarang kelihatannya semua yang ada di Keluarga Qodir dikendalikan secara diam-diam oleh kakak pertama, kamu tidak melihat sikapnya yang gelisah. Walau bagaimana pun tidak mau pergi ke gedung utama untuk makan malam."
Nada Feby tidak baik mengajarinya berkata, "lihat saja kemampuan kalian yang sedikit ini. Jika hal-hal kecil tidak bisa sabar maka akan merusak hal-hal besar, jika sedikit penderitaan seperti ini sudah tidak sanggup menerimanya, nantinya jangan berharap bisa memegang kekuasaan Keluarga Qodir."
Mata Liki menjadi terang karena kata-kata ini, "Aku akan pulang menasehatinya, menyuruhnya agar tidak gegabah dalam melakukan sesuatu."
Dalam mata Feby terasa sejuk, tidak berbicara lagi.
Mobil hitam off-road mengemudi masuk, sebuah bangunan mewah dia area perumahan. Abdul Qodirmembuka pintu mobil, berjalan menuju lift.
Membuka pintu kamat tidur, kamar yang sangat luas walau di dekor dengan teliti, sederhana tapi elegan.
Pria berdiri dia aula masuk, mengganti sandalnya. Kunci ditangan, tas kantor, ditaruh di atas lemari. Telapak tangan diatas lemari, lalu mengganti sandalnya.
Walaupun sekarang hanya seorang diri, semua gerakannya tetap sangat elegan dan tenang.
__ADS_1
Seluruh badan dari atas sampai bawah, penuh dengan aura bangsawan yang elegan.