
Bab 39 Keluarga Palsu
Tangan Bu Ayu sudah menggantung selama lebih dari 10 detik.
Meskipun 10 detik bukanlah waktu yang lama, tetapi cukup untuk membuatnya sedikit canggung. Terlihat ekspresi senyum yang ada di wajahnya perlahan mulai kaku.
Eki Tobingmenyadarinya dan segera mengingatkan anaknya itu, "Rizki,cepat ambil, jangan terdiam seperti itu, kenapa tidak berterimakasih kepada nenek?"
Meskipun Rizki tidak mengatakan apa-apa, tetapi ekspresi wajahnya menyerutkan ketidaksenangannya. Tetapi dia tidak mungkin tidak mendengarkan perkataan mama nya, segera mengeluarkan tangannya dan menerima apa yang Bu Ayu maksud dengan hadiah pertemuan itu dan berkata, "terimakasih."
Setelah itu Bu Ayu baru mulai kembali tersenyum dan menarik MZakiah untuk mendekat, dan berkata kembali, "Rizki, dia adalah tantemu."
Sorot mata yang dipancarkan Rizki terlihat ada aura kewaspadaan. Tubuh kecil nya lagi-lagi bersembunyi dibelakang tubuh mama nya itu. Setelah mendengar mamanya memperingatkannya dengan lembut, dia baru bersedia berkata, "tante apa kabar."
MZakiah meskipun tidak menunjukkan ekspresi seperti ibunya itu, tetapi dia juga memaksakan dirinya untuk tersenyum.
Makanan sudah datang, Bu Ayu tanpa henti memperhatikan Eki Tobingmembantunya mangambil sayur. Begitu juga dengan Pak AngZakiah, bertanya bagaimana keadaannya selama beberapa tahun ini.
Eki Tobingmenjelaskannya dengan pelan.
Keluarga ini terlihat sangat bahagia, dan suasana kekeluargaannya membyat orang terharu. Eki Tobingtetap merasa ada sesuatu yang tidak benar disini.
Dia sebenarnya sangat mengerti sifat ibu tiri dan adiknya, kedua orang itu juga membencinya sampai ke tulang rusuk. Tetapi hari ini malah........ melihat senyum diwajah Bu Ayu sepertinya dia cukup tulus, apa hanya perasaan dia saja yang berpikir terlalu banyak.
Setelah makanan di meja tersisa setengah, Bu Ayu bertanya, "Raline,kamu sekarang sudah kembali, kamu tinggal dimana?"
"untuk semntara tinggal ditempat Ujang Arif."
"Ujang Arif ?" Bu Ayu mengulanginya sekali lagi dan melanjutkan dengan ekspresi terkejutnya, " ooh, maksud kamu Ujang Arif yang itu? eii dengar-dengar dia sudah mempunyai pacar dan hubungannya sangat baik. Raline, mama cuma ingin memberitahumu. Kamu kan sudah kembali, kenapa tidak pindah kerumah saja, selalu tinggal ditempat temanmu itu juga tidak enak kan."
"……"
Ibu tiri yang dulu selalu berusaha mengusirnya dari rumah, ternyata dengan entengnya memintanya kembali pulang kerumah.
__ADS_1
Kata-kata itu sempat terlintas di benak Raline, dia mengira bahwa Bu Ayu sudah berubah menjadi baik, dan bukan seperti apa yang dipikirkannya.
"Ibu, seperti ini saja." Eki Tobingmenjawab, sorot mata yang lembut dan hangat tertuju pada Rizki. Anaknya itu baru kemarin malam memintanya agar mempunyai rumah sendiri, dan dia tidak menyukai perasaan tidak nyaman tinggal bersama orang lain.
Bu Ayu menghembuskan nafasnya dan berkata, " kenapa harus tidak enak. Ditambah lagi itu adalah rumahmu sendiri. Membiarkan ibu dan anak sepertimu merantau diluar, bukan hanya ayahmu saja yang tidak setuju, aku juga tidak setuju."
"ini...." Eki Tobingmerasa tidak enak.
Dia mengangkat pandangannya melihat sorot mata papanya yang penuh dengan kasih sayang. Dia tau bahwa papanya merindukannya. Tetapi apakah Bu Ayu dengan tulus memintanya kembali kerumah?
"Raline, yang ibumu katakan benar. Ditambah lagi kamu yang belum menikah, membiarkanmu tinggal diluar membuat kami merasa khawatir." Pak AngZakiah akhirnya mengeluarkan pendapatnya.
Sebenarnya dalam ruangan ini hanya Pak AngZakiah yang bersungguh-sungguh memintanya untuk pulang. Sedangkan yang lain penuh dengan tipu muslihat yang tidak bisa diungkapkan.
"sudah, hal ini sudah diputuskan. Nanti saat kamu kembali aku akan meminta supir untuk menjemputmu." Bu Ayu tampak sangat tergersa-gesa dan khawatir bahwa Eki Tobingakan kembali menolaknya, dan kemudian membantunya memutuskan.
Ditempat makan Eki Tobingsibuk membantu Rizki makan, dan tidak memperhatikan dirinya yang tidak makan begitu banyak. Tetapi dia juga tidak menyadarinya, disisi yang lain ada ibu dan anak perempuannya yang saling mengisyaratkan pandangannya.
Akhirnya MZakiah mengalah kepada Bu Ayu, seketika berdiri dan menuangkan minuman kedalam gelas kakaknya itu.
"……"
Eki Tobingsedikit tertegun.
Apa maksud dari kembali dengan tenang? kata-kata ini sedikit ambigu.
"hahaha, Raline. Kamu juga tau adikmu ini seperti apa, dari kecil tidak suka belajar, sering salah mengartikan sebuah kata-kata, kamu jangna terlalu menyimpannya dalam hati." Bu Ayu kembali memecah suasana, kemudian memaksanya dan berkata, "ini, makanlah lebih banyak lagi...."
Perjamuan makan berlangsung sampai hampir pukul satu.
Bu Ayu dengan sedikit tidak rela dan menarik-narik tanganRaline, dan berbincang sesuatu bersamanya. Sedangkan Rizkimengikuti Pak AngZakiah pergi ke toilet.
Rizkisangat gesit dan pengertian, setelah selesai dia segera menuju keluar dan menunggunya.
__ADS_1
Dari tembok seketika menmpilkan iklan yang sangat menarik perhatiannya, dia seketika menghentikan langkahnya dan memalingkan pandangannya. Tetapi karena tubuhnya yang begitu pendek, dia sama sekali tidak dapat melihat apa yang sedang ditampilkan. Hanya mendengar bahwa ada seseorang yang sedang berbicara dan seakan sedang mewawancarai seseorang.
Rizki mengangkat kakinya melangkah mundur.
Selangkah, dua langkah, tiga langkah.......
"aiyoooo!"
Seketika dari belakangnya tersengar suara seseorang yang terkejut.
Saat dia hendak membalikkan badannya dan meminta maaf, tiba-tiba terdengar suara perempuan itu berteriak dengan kasar.
"kamu anak kecil kenapa tidak ada sopan santun sama sekali, berani-beraninya, keluargamu pergi kemana?" PUjang Arifa berkata dengan menggosok-nggosok kakinya dan mengerutkan kedua alisnya. "anak kecil jaman sekarang kenapa seperti tidak didik dengan benar."
Rizki menyadari bahwa dia salah, tetapi dia tidak suka saat orang lain menyebutnya bocah nakal.
Alhasil, anak kecil itu berlagak layaknya orang dewasa dan meletakkan kedua tangannya dipinggangnya, dan berkata kepada PUjang Arifa dengan nada sombong yang mulai dikatakannya.
"lalu kamu itu wanita jahat dari keluarga mana. Berbicara sekeras itu, dengan lantangnya berkata aku anak nakal, aku curiga kamu tidak didik dengan benar."
PUjang Arifa sejak kapan bisa dibentak seperti ini oleh orang lain? Apalagi orang itu adalah anak nakal yang masih bau ingus.
Dia marah sampai kedua alisnya terangkat dan memarahinya dengan keras, "kamu anak liar dari keluarga mana? Orang tuamu dimana, kalau mereka tidak bisa mendidik kamu dengan benar, maka aku yang akan menggantikannya."
Rio saputrayang berada disebelahnya tidak tahan lagi,dengan segera menghentikannya,"sudah, sudah, dia hanya seorang anak kecil, kenapa kamu menjadi begitu perhitungan sama anak kecil."
"benar, paman ini berkata dengan benar, aku hanya anak kecil, kalau tidak sopan itu wajar. Tetapi kamu, peremuan sebesar ini perkataannya sangat kasar, mana ada seperti wanita dari keluarga baik-baik."
Rizki adalah anak kecil yang tidak kenal takut, jangan lihat bahwa tubuhnya kecil, harga dirinya itu sangat kuat dan tidak bisa dihiraukan begitu saja.
PUjang Arifa tidak dapat berkata-kata, marah sampai membuat wajahnya putih pucat.
"kamu ini anak yang tidak pernah dididik, sebenarnya dari keluarga mana kamu ini!"
__ADS_1
Dibandingkan dengan PUjang Arifa yang meledak-ledak, Rizki justru terlihat sangat tenang. Dia memutar otaknya dengan keras mencari jawaban untuk pertanyaan dia ini.