
Bab 43 Bayangan Gelap Masa Kecil Yang Hancur
Anak laki-laki bermain-main, berkelahi adalah hal yang normal.
Karena dia lebih besar ditarik oleh wanita cantik ke samping, dan menyalahkannya dengan tegas. Malam itu, setelah ayah pulang, wanita cantik itu juga tidak lupa untuk mengeluhkannya di hadapan ayah, akhirnya membuat ayah memarahinya lagi.
Dan wanita cantik itu, adalah ibunya, Gery.
Masalah seperti ini, bagi dia yang masih kecil terasa hal yang normal, sudah sering terjadi.
Membuat kehidupan masa kecilnya di lewati dalam bayangan gelap seperti ini, dia bahkan merasa curiga, apakah dirinya adalah anak kandung mereka? Setelah agak besar dan lebih mengerti, dia pernah diam-diam menyelidikinya, tapi malah tidak ada sedikit pun petunjuk dan informasi.
Pandangan yang bimbang, ada orang berjalan keluar dari dalam, sampai di hadapannya, pelan-pelan memanggilnya.
"Tuan."
"Eng." Pikiran Marsely cepat ditarik kembali, wajah yang tampan kembali ke sikap yang dingin dan tegas. "Bagaimana keadaan nyonya besar?"
"Nonya besar sudah tidak apa-apa. Dokter dengan teliti memeriksa sebentar, kemungkinan besar saat keluar pada malam hari terkena angin, sehingga membuat badannya jadi tidak nyaman, dan mengakibatkan demam. Sekarang sudah minum obat penurun panas, besok mungkin akan lebih baikan."
"Eng." Marsely menganggukkan kepala, rasa khawatir yang tersisa dalam pandangannya perlahan mulai menghilang." Dengarkan, kejadian malam ini tidak boleh diungkit pada siapa pun, walaupun cuma satu kata, tidak diperbolehkan!"
"Baik, aku mengerti."
Marsely merasa ragu-ragu dan mondar mandir sangat lama di depan pintu, tapi akhirnya tetap tidak masuk, berbalik badan dan berjalan ke bangunannya sendiri.
Malam yang terasa dingin, suasana hati yang terasa berat.
Langit penuh dengan bintang berjejeran, tapi tetap tidak bisa menerangi villa mewah Sanjaya Group yang bagaikan sebuah istana kastil. Rumah lama yang sangat tenang, diselubungi bayangan gelap yang tebal.....
Eki Tobingmembawa Rizki, pulang ke rumah lama keluarga Lin yang sangat luas.
Melihat pemandangan dan rumah yang tidak asing, dalam kebingungan ada sebuah perasaan yang merasakan waktu seperti berputar kembali.
"Mama, lelah tidak? Rizki bantu kamu membawa kopernya." Rizki turun dari mobil, langsung mau membantu Eki Tobingmembawa kopernya.
Pria kecil sambil berbicara, kedua tangan memegang gagang pada koper, alis hitam saling tertumpuk bersama, mengeluarkan tenaganya sampai bersuara ngg ngg, tapi koper sama sekali tidak bergerak.
Eki Tobingtersenyum, menundukkan kepala berkata, "Si kecil yang lugu, sekarang kamu masih terlalu kecil, tunggu kamu sudah dewasa baru membantu mama melakukan pekerjaan berat.
Baik tidak?"
Saat berbicara, pembantu di rumah keluar untuk buka kan pintu. Dibelakang badan ada sosok Bu Ayu yang mengikuti.
"Nona besar, anda akhirnya pulang juga."
Pembantu bermarga Ji, orang-orang di keluarga Lin memanggilnya kakak Ji. Eki Tobingdari kecil diasuh sampai besar oleh kakak Ji, hubungan mereka juga pasti lebih erat.
"Kakak Ji." Dia masih memakai panggilan yang dulu dipakainya, seperti dirinya masih gadis muda yang naif dan selalu bersifat apa adanya.
"Nona besar." Kakak Ji terlalu bersemangat, sangat senang mulai menyeka air matanya. Lalu mengahlikan pandangannya, berkata pada Rizki, "Ya, ini adalah tuan muda kecil ya?"
"Rizki, ayo cepat panggil bibi Ji."
"Bibi Ji apa kabar." Rizki menyapa dengan suara manis.
"Ai ai ai! Hehehe..... Baik baik, sangat baik. Nona besar, tuan muda kecil, cepat masuk ke rumah. Nyonya memberitahuku malam ini anda akan pulang, aku senang sampai semalaman tidak bisa tidur. Pagi-pagi bangun, sudah bikin banyak makanan yang dulu anda sukai."
Bibi Ji menyambutnya dengan hangat, saat ini Bu Ayu juga berjalan keluar.
"Raline, Rizki, cepat masuk ke rumah."
Saat bersamaan bibi Ji mengambil koper yang ada di tangan Raline, tanpa berbicara dan menegakkan kepala langsung berjalan ke dalam.
Membuka pintu kamar yang dulu sangat akrab, Eki Tobingtertegun menemukan, kamarnya sudah beberapa tahun tidak ada yang menempatinya, tetap bersih seperti semula. Bahkan, tidak ada debu dan bau sedikit pun.
Bibi Ji membawa masuk koper, penuh perhatian bertanya, "Nona besar, cepat duduk beristirahat sebentar, aku pergi buatkan teh untukmu.
Eki Tobingtahu, semua ini di lakukan oleh bibi Ji. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi malah melihat badan bibi Ji yang agak gemuk dan bergoyang, berjalan ke arah ruangan untuk mengambil air.
Lima tahun tidak bertemu, perubahan pada kakak Ji tidak sedikit.
Tidak lama, kakak Ji kembali, memberikan gelas air di depan Raline, lalu mendengarnya berkata, "Nona besar, sejak kamu pergi meninggalkan rumah, kamar ini setiap hari aku selalu datang membersihkannya. Aku percaya, suatu hari anda pasti akan pulang. Jadi, semua penempatan barang di dalam kamar, aku hampir tidak menyentuhnya, masih sama persis saat kamu pergi."
Eki Tobingmendengarkannya, dan melihat-lihat di sekeliling kamarnya.
Setiap barang, penempatan setiap perabot, bahkan meja, kursi penempatannya, sama persis dengan lima tahun yang lalu. Jika bukan dia sendiri yang sudah mengalami beberapa masalah, dia akan sangat curiga, waktu sepertinya tidak pernah bergerak maju.
__ADS_1
"Kakak Ji, terimakasih!" Eki Tobingtidak bisa mengucapkan kata-kata yang lain.
Kakak Ji tersenyum dan melambai-lambaikan tangannya, "ha! Nona besar, semua ini sudah seharusnya aku lakukan, untuk apa anda berterimakasih." Tidak lama, raut wajahnya mengeluarkan sedikit kesedihan, sepasang mata yang bersih mengeluarkan sedikit kabut berair, seperti sedang mengenang hari-hari di masa lalu yang melaju bagaikan air mengalir."
"Sebelum nyonya pergi berulang kali terus berpesan padaku, harus menjagamu dengan baik, harus memperlakukanmu bagai putri kandungku sendiri. Tapi, aku merasa.... Aku nyonya...."
Sambil bicara, dia menundukkan kepala, menggunakan lengan baju menghapus air mata yang keluar dari ujung mata.
Dan ibu yang belum pernah bertemu itu, Eki Tobingsekejap juga merasa hidungnya mulai berair, seketika dalam hati semua perasaan bercampur jadi satu.
Mengejutkan, di luar pintu kamar terdengar sederet suara tumit yang sangat jelas.
Kakak Ji tergesa-gesa menghapus bekas di wajahnya, lalu dengan cepat memberi peringatan pada Eki Tobingmenggunakan isyarat mata.
"Raline, kamu coba lihat, di dalam kamar masih perlu menambah barang apa lagi."
Bu Ayu datang, dia membuka pintu kamar, langsung berjalan masuk ke dalam kamar Raline。
"Tidak usah, mama tiri, semuanya sama dengan dulu, tidak ada barang yang perlu di tambah lagi," Eki Tobingjuga menyingkirkan perasaannya, kembali pada raut yang normal.
Suasana di dalam kamar, juga terpengaruh karena kedatangan Bu Ayu yang tiba-tiba. Kakak Ji seketika juga merasa canggung dan tak bersuara.
Bu Ayu sepertinya merasakan ada sesuatu, sepasang mata yang cerdik melirik di badan kakak Ji.
"Nyonya, nona besar, kalian ngobrol saja. Aku ke dapur siapin makanan buat nanti malam." Kakak Ji berdiri, dengan sopan membungkukkan punggung pada Bu Ayu.
Bu Ayu dengan datar 'eng' sekali, langsung berjalan ke samping Raline, sekalian menarik satu kursi untuk duduk.
"Raline, ada apa dengan kakak Ji? Sepertinya ada sesuatu dalam pikirannya."
Sinar mata Eki Tobingbagai air, berkata "Mungkin aku pulang, dia merasa senang sampai menangis."
Bu Ayu tidak merasa begitu dan cemberut, berkata, "tangisan bahagia? He... Dia hanya pembantu senior di rumah ini saja, kamu pulang ada hubungan apa dengannya."
Eki Tobingdiam-diam menarik ujung bibirnya, kelihatannya Bu Ayu masih sama persis dengan dulu, tidak ada perubahan sedikitpun.
"Mama tiri, kakak Ji dari kecil melihatku sampai dewasa. Aku bisa pulang, dia memang sudah seharusnya bersikap begini."
Sepatah kalimat, membuat mulut Bu Ayu terdiam. Dia sepertinya ada sedikit merasakan, Eki Tobingsepertinya sangat waspada padanya. Bukan hanya Eki Tobingyang begini, putranya juga begitu. Sikap Rizki padanya, sama sekali tidak seperti sikap seorang anak kecil kepada neneknya.
Kebalikannya, mereka ibu dan anak sangat waspada padanya, semuanya diam-diam menjaga jarak dengannya.
"Hufff. Wanita tua ini benar-benar menyebalkan." Setelah menunggu Bu Ayu pergi, Rizki menarik nafas panjang dan dengan tidak senang berkata.
Eki Tobingcepat-cepat menghentikannya, "Rizki, nantinya kata-kata seperti ini sama sekali tidak boleh dibicarakan di hadapan orang lain. Walau pun di hadapan mama, juga jangan mengatakannya, sudah mengerti?"
"Ouhhh!" Pria kecil antara mengerti dan tidak mengerti, malah menurut dan mengangguk-anggukkan kepala.
"Sini, mama membawamu pergi lihat-lihat album foto." Eki Tobingsambil bicara, membawa Rizki sampai di atas sofa, dari dalam laci mengeluarkan satu album foto yang sangat tebal.
Dia menunjukkan penampilan dirinya saat masih kecil, penampilan kakeknya saat masih muda, dan masih ada penampilan nenek kandungnya, memberitahunya satu persatu.
Foto lama sedikit usang dan menguning, tetapi wanita di dalam foto tetap terlihat anggun, cantik dan menarik. Punggung bersandar pada pohon besar, cantik bagaikan malaikat yang tidak terikat dengan dunia fana. Dari kelima indera yang halus seorang wanita tidak sulit menemukan, penampilan Eki Tobingmempunyai beberapa kemiripan dengannya.
"Rizki, kamu tahu yang ini siapa?" Eki Tobingmenunjuk pada salah satu foto, juga satu-satunya foto ibunya menanyakan.
Rizki melihat-lihat, lalu mengangkat kepala melihat-lihat Raline, "Aku tahu, dia barulah nenek ku yang sebenarnya."
Eki Tobingtersenyum, mengelus kening putranya, "Sungguh hebat."
Rizki di puji, tidak di hindari dia sedikit berbangga diri, mulut kecilnya bergerak, mengatakan, "Aku sudah tahu yang di luar adalah nenek palsu. Mama begitu cantik, nenek kandungku pasti lebih cantik lagi."
Mama Eki Tobingdigoda anak kecil sampai tertawa, dia tak tahan mengulurkan tangan memegang hidung kecil putranya.
Pandangan matanya diahlikan kembali ke album foto, pandangan mata Eki Tobingtak terkendali lebih mendalam lagi.
Dulu terlalu muda dan tidak pengertian, setiap kali mendapatkan ketidakadilan, dia akan duduk terbengong sendirian di dalam kamar, sangat tenang terus menatap foto ini. Melihat-lihat wajah ini yang akrab tapi terasa asing juga, dalam hati semua perasaan bercampur aduk.
Dia dulu pernah membencinya.
Benci karena dia tidak bertanggung jawab, tidak peduli langsung meninggalkannya.
Ada saatnya, dia merasa dirinya juga sangat beruntung. Sepertinya semua sudah ditakdirkan dari awal, semua karena perlindungannya, dirinya baru merasa bangga bisa sehat dan bahagia.
"Mama Raline, apa yang anda pikirkan?"
Samping telinga terdengar suara kanak-kanak dari Rizki, juga menarik keluar pikiran Raline. Dia berbalik, dan menunjukkan senyuman pelan pada putranya, "Tidak apa-apa. Mama hanya rindu dengan mama sendiri."
__ADS_1
Rizki turun, berdiri di depan Raline, mendongakkan kepala kecilnya, dengan sangat serius berkata.
"Rizki juga sedang memikirkan mama sendiri."
Tidak lama Raline, memeluk Rizki dalam pelukkannya.
Makan malam sangat mewah, walau pun makan keluarga, masakan bisa dibandingkan dengan restoran berbintang.
Bu Ayu tentu saja sangat penuh perhatian, tidak berhenti terus mengambil sayur buat Eki Tobingdan Rizki. Selain semua ini, dia juga menanyakan banyak hal tentang Raline. Misalkan pekerjaan, kehidupan, masa depan.
Eki Tobingmenjawabnya satu persatu, kelihatan jawabannya terasa sempurna tapi terdapat banyak jawaban yang menjauh, tidak memberitahu semua tentang dirinya pada wanita ini yang hal sekecil ujung jari pun bisa sampai dipikirkannya, dia adalah wanita yang tidak berniat baik.
Ada beberapa pertanyaan Bu Ayu, menanyakan masalah yang sangat tidak jelas, ada sebagian pertanyaan yang ingin dikatakan tapi tidak dikatakan.
Misalkan pernikahannya, punya rencana seperti apa.
Eki Tobingtidak menjawabnya secara langsung, tapi mengahlikan pandangan mata yang lembut pada putranya Rizki.
"Masalah ke depannya aku belum memikirkannya, sementara ini merasa bisa bersama dengan Rizki, aku sudah merasa sangat puas."
Rizki menggoyangkan kepala kecilnya, menjawab dengan sangat gembira.
"Rizki setiap hari bisa bersama mama, Rizki juga sudah sangat puas."
Semua orang di sini jadi tertawa.
Setelah makan malam, Eki Tobingmembawa Rizki kembali ke kamar sendiri.
Malam sudah semakin larut, terbaring di atas ranjang yang dulu sangat akrab, Eki Tobingmalah sangat susah ketiduran walau bagaimana pun.
Seorang diri diam-diam berpikiran sembarangan sampai tengah malam, sangat kacau balau, apa pun ada.
Misalnya pekerjaan, taman kanak kanak Rizki dimana, bagaimana perjalanan ke depannya
Terkejut, wajah Abdul Qodiryang tampan muncul di dalam pikirannya.
Kenapa tiba-tiba malah terpikir sama atasan?
Saat ini Abdul Qodirsedang berada dimana, apa yang sedang di lakukannya?
Apakah dia akan sama dengannya, di saat tidak sengaja, diam-diam memikirkannya!
Saat pemikiran ini melompat keluar dari dalam otaknya, bahkan Eki Tobingsendiri juga sangat terkejut.
Dia merasa malu dan takut dengan pemikirannya yang begitu tidak masuk akal dan aneh.
Tergesa-gesa menghentikan semua pikiran kacau ini, memejamkan mata, memaksa diri agar bisa tertidur....
Kota G ada sebuah rumah sakit swasta yang sangat terkenal, total areanya mencakup sekitar 30.000, dibangun pada saat Hongkong kembali.
Lingkungan rumah sakit sangat elegan, penuh kicauan burung dan semerbak bunga, udara sangat segar dan menyejukkan. Dilengkapi peralatan medis kelas satu dari luar negeri, mengumpulkan dokter dan profesor internasional terkemuka.
Rumah sakit swasta ini mempunyai nama, Sanjaya Group Hospital.
Mobil off-road yang keren dan liar berkendara masuk ke rumah sakit, sangat menarik perhatian orang.
Sebuah mantel panjang berwarna hitam, membuat postur tubuhnya terlihat sangat ramping dan tampan. Raut wajah pria sangat terhormat dan dingin, wajah yang tampan bagai dipahat dengan pisau, menawan sampai membuat orang merasa tidak nyata.
Mendengar kedatangan Nicholas, direktur rumah sakit juga menyambutnya secara pribadi.
"Tuan muda Nicholas."
Alis Abdul Qodirpelan terangkat, termasuk respon yang sopan, dan berlalu dengan cepat.
Dia mendorong pintu kamar pasien vip departemen rawat inap khusus, di atas lantai cendana yang sangat bagus terdapat beberapa pecahan dari pajangan keramik.
"Klotang......"
"Semuanya keluar!"
Terdengar suara dari pria tua yang tetap gagah dan berkuasa, segera gelas teh juga di lempar, seperti ada dendam apa, pecahan yang jatuh berserakan di atas lantai.
Dia tak tahan mengerutkan alis, melangkahkan kaki rampingnya masuk.
"Tuan yang tampan, sedang marah apaan malam-malam begini."
Abdul Qodirmasuk ke dalam kamar, juga tidak peduli di samping berdiri berapa banyak orang, di dalam apakah ada seniornya, lengan yang ramping menarik sebuah kursi, duduk di samping ranjang tanp peduli apa-apa.
__ADS_1
Bisa berbuat begini sampai tidak peduli siapa pun, dan bersikap sesuka hati, dalam Keluarga Qodir selain Abdul Qodirtidak ada orang lain lagi.