Pacar Settingan

Pacar Settingan
Bab 1


__ADS_3

Siapa yang tidak kenal Perkasa Harinanda, alias Aksa?


Cowok ganteng dan keren yang jadi idola para kaum hawa. Yang wajahnya sering muncul di televisi, dari mulai sinetron, layar lebar, bahkan sampai iklan.


Meski baru umur 20 tahun, Aksa bergemilang dan sedang naik daun. Dia memulai karir sebagai model majalah dan karirnya melejit sejak membintangi sinetron ketika umur 15 tahun. Sinetron yang digandrungi remaja.


Sekarang ke mana saja dia pergi, apapun kegiatannya, selalu jadi liputan asyik untuk para fans.


Dia juga terkenal cool dan tidak banyak bicara. Mungkin itu yang membuatnya banyak penggemar. Setiap sinetron yang dibintanginya selalu mendapat rating tinggi. Nggak heran dia termasuk aktor bayaran yang mahal.


Seperti siang ini, ketika matahari sedang terik-teriknya, ia harus melakukan pengambilan gambar untuk produk suplemen pria. Sementara para fans berteriak-teriak memanggil namanya. Beberapa security kewalahan menyuruh mereka diam karena mengganggu proses foto.


“Nih minum cepetan. Sebelum lo dehidrasi.”


Aksa menerima sebotol air mineral dan menatap Niko, sahabat sekaligus manajernya. “Bilang sama Mas Dewo, gue nggak mau ngulang foto.”


Niko mengangguk-angguk. “Iye. Pas lo teken kontrak juga mereka harusnya udah paham kalo lo cuma ngulang 3 kali pemotretan.”


“Burger pesenan gue mana?”


“Udah dibeli. Cuma si Boim kejebak di luar gerbang gara-gara fans lo kebanyakan. Gue udah suruh Windi buat ngambil burger-nya.”


Di taman sebuah resort, memang pemandangannya oke banget. Tapi karena mengarah ke tempat umum, jadilah para fans bisa menyerbu masuk hingga para penjaga pasang badan. Boim dan Windi, dua asisten setia Aksa, berjuang demi mengantar makanan untuk sang bintang.


“Bilang sama Windi, cepet ambil soalnya gue udah laper dari tadi.” Aksa membuka HP dan berinteraksi dengan para fans lewat sosmed.


Niko bergegas menghubungi Windi dengan HP.


***


“Sa, tadi Om Sendi telepon.”


Aksa hanya menoleh sekilas dan asyik main game di HP-nya. “Ngomong apa dia?”


“Bang Adnan ngamuk lagi.”


Mendengar nama kakaknya, ia menghentikan kegiatan. Air mukanya berubah dan menghela nafas berat. “Bilang sama Om, gue nggak bisa balik sekarang. Tapi gue bisa panggilin Dokter Deni ke rumah. Dia pasti cepet tenang.”


Niko menatapnya agak ragu. “Lo yakin nggak mau balik? Udah lama lo ninggalin rumah. Apa lo nggak mau nengokin abang lo sebentar aja?”

__ADS_1


Aksa menggeleng. “Lo lebih tau kenapa gue menjauh. Karena gue nggak tau apa yang mesti gue lakuin untuk sembuhin Bang Adnan.”


“Tapi cuma lo satu-satunya yang bisa bantu sembuhin dia, Sa. Lo nggak kasian sama Mama? Sejak Bang Adnan kecelakaan, Mama jadi makin kurus karena jarang makan.”


Aksa terdiam. Sejujurnya dia juga rindu ingin pulang ke rumah. Kalau saja dia sudah menemukan yang dicarinya. Seseorang yang ingin ditemukannya.


Adnan sang kakak yang berumur 5 tahun di atasnya, mengalami kecelakaan dua tahun lalu yang menyebabkan kedua kakinya lumpuh. Dan itu membuatnya frustasi dan mengamuk setiap hari. Adnan tinggal bersama Mama dan Om Sendi, adik Mama. Papa sudah meninggal sejak Aksa masih SD.


“Gue pasti pulang. Tapi nggak sekarang.”


Niko tidak banyak bertanya lagi dan membaca pesan di HP. “Oke kita fokus lagi. Produser yang satu ini ribetnya luar biasa. Tapi rating filmnya selalu paling tinggi. Gue harap lo bisa bersikap lebih sopan sama dia.”


“Sopan?” Aksa tergelak geli. “Lo kayak baru kenal gue sehari aja. Mereka tuh yang butuh gue. Mereka harus ikutin cara gue.”


“Iya tapi mereka pasti punya aturan dalam kontrak kerja.”


“Nik, lo takut gue nggak tenar lagi kalo nggak main filmnya dia?”


Niko angkat bahu. “Gue malah ragu lo masih bertahan sampai akhir tahun, Sa.”


Aksa mendelik. “Maksud lo?”


“APA?!”


Niko geleng-geleng kepala. “Bener kan lo ketinggalan berita.”


“Itu pasti kerjaan haters gue. Trus kalian diem aja gitu gue digosipin gay?” Aksa mulai naik darah.


“Gimana gue mau bertindak kalo lo juga cuek?”


Aksa mendengus kesal dan melihat ke luar. Jalanan Jakarta seperti biasa padat dan macet.


“Sa, gue udah atur jadwal kerja, dan mulai besok lo harus ke kampus.” Niko menyerahkan kertas. “Udah ada peringatan dari kampus karna lo bolos beberapa bulan ini.”


“Gue sibuk, mana ada waktu belajar.” Aksa meremas kertas peringatan dari kampusnya dan melemparnya kesal. “Gue lagi badmood, bisa nggak lo bicara yang ngehibur gue dikit.”


Niko menghela nafas dan menggeleng. “Lo harus kuliah, Sa. Mama udah nitip gue jagain lo. Gue bakal bantu supaya kuliah lo lulus.”


Aksa berdecak malas dan main game lagi.

__ADS_1


“Dan, gue rasa lo harus cari pacar.”


“Pacar?” Aksa tertawa geli. “Lo bercanda? Gue mana ada waktu pacaran.”


“Serius. Lo perlu buktiin kalo lo normal suka sama cewek. Kalo lo mau gosip gay lo ini surut.”


Aksa berdecak malas dan angkat bahu. “Ya lo atur aja deh.”


***


Suasana kelas jadi heboh karena Aksa masuk kuliah. Aksa mengambil jurusan Hubungan Internasional semester 3. Namun dia harus mengulang dua semester karena absennya kurang.


“Nih lo liat.” Niko menunjukan HP-nya.


Aksa mengerutkan kening. “Lo ngapain nunjukin foto-foto mereka?”


“Buat lo pilih jadi pacar lo. Ya kalo lo nggak suka minimal lo punya pacar settingan lah buat meredam gosip itu. Nih gue udah sortir cewek-cewek yang masuk kriteria lo. Kalo lo udah pilih, serahin sama gue biar gue yang urus. Gue bakal negosiasi.”


Aksa menggeleng malas. “Gue nggak demen cewek-cewek yang lo pilihin.”


Niko bengong. “Sakit lo? Ini semua model terkenal lho. Masa’ lo nggak tertarik? Lo masih demen cewek kan?” tanyanya langsung dapat tendangan di kaki.


“Bosen idup lo kalo kemakan gosip itu?” ancam Aksa sambil mencoret-coret tidak jelas di diktat kuliahnya. Membosankan memang kuliah di sela-sela sibuknya pekerjaan. Niko ikut masuk dalam kelas mengawasi setiap tindakannya.


“Emang lo mau yang kayak gimana?” tanya Niko penasaran.


Aksa mengedarkan pandangan ke sekeliling. Semua mata cewek sedang memandang kagum ke arahnya. Berharap Aksa terpesona.


Tapi tatapan Aksa tertuju pada sosok yang baru masuk kelas. Tubuhnya langsung menegang. Darahnya naik ke ubun-ubun.


Niko mengikuti tatapannya. “Ngapain lo liatin dia?”


Tangan Aksa mengepal tanpa disadari, wajahnya memerah.


“Sa, dia bukan tipe lo kan?” tanya Niko hati-hati.


Aksa menundukkan pandangan ketika professor yang mengajar mata kuliahnya masuk kelas. Ia menulis di kertas dan diberikan pada Niko.


Niko kaget membaca tulisan “I wanna her!”.

__ADS_1


***


__ADS_2