
“Ayo turun.”
Zanna memandang keramaian di lokasi syuting. “Aku harus ngapain di sana?”
Niko menyadari gadis itu nervous. “Banyak wartawan di sana. Lo nggak usah bicara apa-apa. Cukup ada di deket Aksa.”
“Tapi bajuku begini, apa nggak aneh?”
Niko mengamati penampilan Zanna yang terkesan formal. Memakai kemeja krem dan celana hitam.
“Lo nggak punya baju lain?”
Zanna menggeleng. “Setiap kerja aku begini.”
Sudah mengira hal ini bakal terjadi, Niko mengambil kantong kertas di belakangnya. “Nih lo ganti baju.”
Zanna mengeluarkan baju dari kantong dan kaget. “Aku harus pake baju begini?”
“Ya. Daripada penampilan lo sekarang kayak mau ngelamar kerja. Ganti baju aja di sini. Kaca mobilnya nggak transparan. Nanti Windi dan Boim bakal arahin lo ketemu Aksa. Oke. Gue duluan.”
Begitu Niko pergi, Zanna membolak-balik bajunya.
“Serius aku disuruh pake beginian?” gumamnya.
Dress selutut bermotif polkadot yang agak seksi di bagian atas. Membuatnya bergidik ngeri membayangkan harus memakainya.
Windi datang dan membantunya dengan sedikit make-up.
“Mas Aksa..”
Aksa menoleh dan terkejut melihat Windi membawa Zanna dengan penampilan lain.
Sementara Zanna hanya diam. Seperti arahan Niko.
Aksa masih terpana melihat Zanna, hingga menyadari semua kamera mengarah ke mereka.
Spontan Aksa menarik tangan Zanna untuk duduk di sebelahnya.
***
DEG!
Zanna kaget jantungnya bisa berdebar kencang ketika Aksa merangkulnya. Tangan hangat cowok itu menyentuh kulitnya.
Kenapa juga Niko kasih dia baju lengan pendek begini?
Aksa menjawab semua pertanyaan wartawan sambil berlagak sangat menyayangi Zanna kekasihnya.
__ADS_1
“Kapan pertama kali kalian ketemu?”
“Ceritain dong moment kalian bisa jadian.”
“Apa saja kecocokan kalian?”
Zanna mengatupkan bibir rapat-rapat. Niko berada di belakang para wartawan memberi isyarat untuk tersenyum.
“Kita ketemu di Bali. Waktu gue lagi syuting.”
Lhoo… kok Aksa ngarang cerita gitu?
Zanna mana pernah ke Bali.
Gimana kalau ada yang tanya tempat?
Mana sempet Zanna browsing di google.
“Love at first sight donk?”
Aksa melirik mesra pada Zanna dan tersenyum. “Maybe. Dan gue nggak nyangka aja setelah pertemuan singkat di Bali, gue bisa liat dia lagi di kampus ini.”
“Emang apa yang bikin kamu suka sama Zanna?”
Duuhhh ni pada bawel-bawel amat sih!
Mana Aksa dan Niko nggak bahas apa-apa tentang ini. Dia tidak tahu skenario apa yang direncanakan Aksa dalam hubungan settingan ini.
Dewasa?
Inner beauty?
Aksa makin ngaco deh!
Semua malah berdecak kagum dengan jawaban Aksa. Karena secara fisik Zanna memang biasa saja.
Aksa makin erat merangkul bahunya. Sesekali mengelus rambut panjangnya penuh sayang. “Gue sayang sama dia apa adanya.”
Mati-matian Zanna menekan untuk jangan terbawa perasaan.
“Gimana kalian bisa jadian?”
“Tapi ada kendala nggak sih dalam hubungan kalian?”
“Iya. Umur kalian yang beda jauh.”
“Gue jawab satu-satu. Gue jadian sama dia, ya begitu aja, nggak direncanakan. Karena itu emang cinta. Kalo udah cinta, gue nggak perlu nunggu waktu lama. Jadi kita jadian udah sekitar… hmm dua tahun.”
__ADS_1
Zanna makin nervous mencoba mengendalikan jantungnya yang gila-gilaan.
“Kalo kendala, yah cuma ribut-ribut biasa. Kita berdua sama-sama sibuk, jadi jarang luangin waktu ketemu. Mengenai perbedaan umur kita, that’s not big problem. Gue kan bukan ABG yang suka tante-tante umur 30-an. Umur 25 buat gue bukan hal besar. Cuma beda 5 tahun, bukan halangan buat gue jatuh cinta kan.”
Aksa amat santai menjawab semua pertanyaan. Tidak seperti Zanna yang salah tingkah sampai gemetar. Sebenarnya Zanna kelaparan.
“Kenapa kalian rahasiain hubungan sampe 2 tahun?”
“Itu rahasia. Yang jelas, sekarang kebukti gue masih suka perempuan, dan nggak akan pernah belok seperti gosip-gosip itu.”
Para wartawan memuji jawaban Aksa.
***
“Sa, kita harus ketemu Bu Melinda. Produser iklan coklat, untuk bicarain kontrak dan lain-lain. Zanna, sorry kita nggak bisa nganter. Lo bisa pulang pake taksi kan?”
Zanna hanya tersenyum asam. Tangannya gemetar hebat. Kepalanya berdenyut-denyut. Sementara di sampingnya Aksa acuh saja dengan laptopnya. Sepertinya sedang membaca kiriman email.
Mobil berhenti di pinggir jalan yang sepi.
“Na, di sini biasanya banyak taksi lewat. Lo ada ongkos buat taksi kan?” tanya Niko.
Zanna mengangguk dan mengambil tasnya.
“Jangan lupa baju lo.” Aksa menyahut cuek.
Zanna memejamkan mata dan mengambil kantong kertas berisi bajunya dan keluar mobil.
Ketika mobil melaju meninggalkannya, Zanna tidak bisa merasakan kakinya, tubuhnya lemas. Kepalanya sakit luar biasa. Dalam sepersekian detik ia terjatuh ke aspal.
***
“Tumben dia nggak banyak bantah gue hari ini,” komentar Aksa sambil menutup laptop.
Tanpa sengaja ia melihat kaca spion dan terkejut.
“Berhenti sekarang!” teriaknya.
Supir spontan menginjak rem.
“Ada apa, Sa? Kita udah terlambat.” Niko melihat jam.
“Lo liat ke belakang!”
Niko melihat ke belakang dan kaget. “Astagfirullah! Dia kenapa?!”
Tanpa buang waktu, Aksa keluar mobil dan berlari menghampiri Zanna yang tergeletak pingsan.
__ADS_1
Niko menyusul tak kalah panik. “Kita bawa ke rumah sakit.”
***