Pacar Settingan

Pacar Settingan
Bab 27


__ADS_3

Tidak seorang pun tahu suasana hati Aksa saat ini.


Bahkan Niko kelimpungan melihat sahabatnya diam seribu basa. Tanpa ada pembicaraan.


Aksa patah hati. Itu yang sebenarnya. Sesuatu yang dia tidak siap hadapi. Walau memang bukan salah Zanna. Tapi penyesalan memang selalu datang terlambat.


Mungkin ini karma untuknya sudah mempermainkan gadis itu. Menyeretnya dalam skenario sebagai pacar settingan. Tanpa mempedulikan perasaannya. Ia jadi harus kehilangan Zanna sebelum menyatakan perasaan yang sesungguhnya.


“CUT!”


Sutradara puas pengambilan adegan terakhir hari ini.


Tanpa bicara, Aksa berbalik ke tempatnya.


Baik Niko, Boim maupun Windy tidak ada yang berani menegur.


Suasana hati Aksa sedang galau.


Untung saja adegan yang diambil tadi memang adegan sedih. Jadi Aksa tidak perlu pendalaman karakter karena suasana hatinya memang sesuai.


“Sa, ada pesen dari Zanna.”


Aksa menoleh. “Apaan?”


“Dia pengen ketemu lo. Dia coba telepon lo tapi HP lo off.” Niko menunjukkan message HP-nya.


Apa aku sanggup nemuin kamu lagi, Na?


***


Angin pantai membelainya lembut ketika tiba. Sore menjelang dan suasana tidak terlalu ramai.


Aksa mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tatapannya terhenti pada gadis yang duduk di bangku menghadap laut.


Zanna.


Gadis itu sedang menunggunya.


Seberapa keras ia berusaha menghindari Zanna, semakin ia rindu.


Tapi ia tidak bisa terima gadisnya sudah menjadi calon kakak iparnya. Dia belum siap kehilangan Zanna.


“Aksa!”


Ia kaget, baru sadar sejak tadi dia berdiri di tempat. Suara Zanna memanggilnya.


Dengan hati yang ditegar-tegarkan ia menghampiri Zanna.

__ADS_1


“Udah lama?” Aksa duduk di sampingnya.


Zanna cuma tersenyum kecil. “Kenapa HP kamu off?”


Aksa tidak menjawab. Hanya memandangi Zanna yang hari ini terlihat makin cantik.


Anehnya Zanna pun terlihat gelisah dan tidak berani membalas tatapan Aksa.


“Katanya mau bicara?” tanya Aksa karena Zanna diam saja. “Kenapa ke sini? Kenapa nggak di rumah?”


“Ngg… aku mau bicara serius sama kamu.”


Pasti Zanna mau bicarain rencana pernikahannya dengan Bang Adnan, batin Aksa terpukul.


“Aksa, aku mau kita putus.”


DEG! “Apa?”


Zanna menatapnya takut-takut. “Maksud aku, hubungan settingan kita. Kayaknya sudah saatnya kita berhenti. Lagipula semua salah paham kita sudah selesai. Kamu bisa umumkan sama fans-fans kamu semua, kalau hubungan kita udah….”


“Apa harus kita putus?” sedetik kemudian Aksa menyesal melontarkan pertanyaan konyol.


“Apa ada alasan kita harus pertahanin hubungan settingan ini?” Zanna balas bertanya.


Bego lo, Sa! Lo udah tau Zanna bakal minta putus! Ngapain lo pancing-pancing dia segala! Tubuh Aksa menegang.


“Kenapa kamu tiba-tiba minta kita putus? Kamu udah punya pacar lagi?”


Zanna terdiam.


Untuk beberapa saat mereka saling membisu.


“Aksa,” suara Zanna nyaris berbisik. “Kamu bisa tanpa aku?”


Aksa memejamkan mata perih. Nggak, Na! Aku nggak sanggup tanpa kamu!


“Pertanyaan apa itu?”


“Ya aku aneh aja. Kamu nggak suka sama aku. Tapi kayaknya kamu keberatan kalo kita putus. Seharusnya kamu senang.”


“Aku nggak senang!”


“Tapi kenapa?”


“Kamu bikin keputusan sepihak tanpa bicara dulu sama aku.”


“Aku udah berusaha hubungin kamu beberapa hari ini tapi HP kamu off. Kamu juga nggak datang ke rumah mama kamu. Padahal aku nungguin kamu dari kemarin. Ini juga bukan keputusan sepihak, kalau kamu memang nggak mau kita putus, kasih aku satu alasan kenapa?”

__ADS_1


“Ya karena aku suka sama kamu!”


***


Zanna kaget dan menatap Aksa tidak percaya.


Apa nggak salah tadi Aksa bilang…?


“Ka-kamu serius?”


Aksa terlihat salah tingkah dan tidak berani membalas tatapannya.


“Sa, kamu serius suka sama aku?” ia memastikan.


“Ya enggak lah, ngarep amat.” Aksa tergelak pelan. “Ya sebenernya sejak kemarin aku udah mau bicarain tentang itu. Cuma ya kemarin-kemarin aku sibuk dan nggak sempat ketemu kamu.”


Zanna menggigit bibir, kecewa.


“Tentang pertanyaan kamu tadi, logika aja, ya bisa lah aku tanpa kamu. Hubungan kita kan cuma settingan.”


Sebisa mungkin Zanna menahan air matanya.


“Lagian kenapa kamu nggak bicara langsung aja? Kamu putusin aku karena kamu mau nikah sama Bang Adnan kan? Kalian tuh kayak ABG aja pake diem-diem.”


Zanna kaget tapi tidak bisa membalas.


“Aku udah liat kalian kemarin. Dan aku seneng kok kalian akhirnya buat keputusan tepat. Selamat ya.”


“Sa, tapi aku nggak…”


“Udahlah, Na. Aku restuin kalian. Kalau perlu, nanti biar aku yang urus pernikahan kalian. Aku kenal banyak wedding organizer.”


“Kamu nggak perlu…” Zanna sulit menjelaskan. “Semua kan taunya kita…?”


“Bingung apa lagi sih, Na? Masalah media tenang aja, biar aku yang handle mereka untuk jelasin tunanganku menikah dengan kakakku. Aku nggak keberatan sama sekali.”


Zanna kehabisan kata-kata.


Aksa melihat jam tangan. “Aku harus pergi nih, masih ada pemotretan. Kamu bisa kan pulang sendiri?”


Zanna tidak menjawab, terpaku menatap Aksa.


Tiba-tiba Aksa mengusap kepala Zanna, lembut. “Maaf ya kalo selama ini aku memperlakukan kamu kurang baik. Semoga kamu bahagia sama Bang Adnan.”


Setelah berkata begitu, Aksa berlalu pergi.


Air mata Zanna menetes, lalu ia terisak tidak tertahan. Kenapa jadi begini?

__ADS_1


***


__ADS_2