
Malam sudah larut ketika Zanna baru tiba di kontrakan.
Sepertinya Cici udah tidur. Terang aja udah jam 10 malem.
Selesai mandi dan ganti baju, Zanna duduk di kasur sambil memandangi foto Senna bersama Adnan ketika hari kelulusan SMA di mana seragam SMA mereka penuh coretan pilox.
Air matanya jatuh, hatinya sakit bukan main.
“Kamu yang tenang di Sana, ya Senna. Meski aku sedih kita belum sempat kenal, tapi aku lega mengetahui yang sebenarnya kalau kamu memang sudah nggak ada. Andai kita sempat bertemu, mungkin aku nggak akan merasa kehilangan seperti sekarang. Kehilangan sebelum aku memiliki kamu.”
Ia memeluk foto Senna dan berbaring.
Matanya tertuju pada cincin yang melekat di jari manisnya. Ia teringat pada Aksa.
Sudah berhari-hari ia tidak bertemu dengan Aksa. Sejak kejadian di hutan.
Tiba-tiba HP-nya berdering nyaring hingga ia kaget.
Aksa!
Baru aja dipikirin udah nelepon, batinnya senang. “Halo, Aksa?”
“Halo, Na. Belum tidur?” suara Aksa datar seperti biasa.
“Belum. Kamu lagi di mana?”
“Airport.”
Zanna kaget. “Airport? Kamu mau pergi?”
“Bukan. Aku baru balik dari Singapore. Urusan kerjaan.”
“Oh.. kirain…”
“Denger-denger kamu udah baikan sama Bang Adnan?”
“Tau dari mana?”
“Mama yang cerita.”
Memang semenjak Zanna menjelaskan semua yang terjadi, sikap Mamanya Aksa berubah jadi lebih ramah. Bahkan meminta maaf sudah salah paham. Dan meminta maaf atas sikap Aksa yang kurang baik karena salah mengira dirinya sebagai Rapunzel.
“Aku cuma pengen Adnan nggak salah paham lagi sama Senna, Sa,” jelas Zanna.
“Baguslah. Setidaknya dia nggak bakal ngamuk-ngamuk kayak sebelumnya. Aku harus pulang.”
“Kamu mau ke rumah mama kamu?”
“Malam ini aku nginep di rumah Niko. Besok aku ke rumah mama.”
“Oke. Hati-hati di jalan.”
***
Telepon diputus.
Aksa memandangi HP-nya, sendu.
__ADS_1
“Sa, yuk balik. Mobilnya udah dateng.” Niko menegurnya yang melamun.
Tanpa banyak bicara, Aksa mengikuti Niko masuk mobil.
Tak lama mobil meluncur meninggalkan kawasan bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng.
“Abis nelepon siapa? Kok muka lo sedih gitu?” tanya Niko.
“Zanna,” jawab Aksa singkat.
“Kenapa dia? Marah gara-gara lo nggak bilang pergi ke Singapore?”
Aksa tidak menjawab.
Niko menduga ada yang tidak beres. “Lo belum bilang sama Zanna?”
Aksa menoleh. “Bilang apaan?”
Niko berdecak. “Berlagak bloon. Ya bilang perasaan lo lah. Gue tau lo naksir berat sama Zanna.”
“Apaan sih lo?” pipi Aksa memerah.
“Nggak usah ditutupin lagi. Lo tuh udah kebaca banget. Saran gue nih, secepatnya lo bilang sama Zanna. Kalo kelamaan, direbut Bang Adnan tau rasa lo.”
“Kok lo jadi ngomporin gue? Emangnya Bang Adnan suka juga sama dia?”
“Bisa jadi. Mukanya aja sama banget sama Senna. Nggak ada jaminan dong abang lo move on ke sodara kembar ceweknya?”
Aksa berpikir lalu menggeleng. “Lo salah, Abang gue tuh setia. Gue rasa nggak segampang itu dia jatuh cinta sama kembaran ceweknya.”
Aksa jadi penasaran. “Lo tau dari mana dia belum pernah pacaran?”
“Ya gue investigasi kehidupan dia lah. Dari sikapnya juga ketauan dia masih polos soal pacaran.”
“Ah gue nggak percaya. Hari gini masa’ ada cewek umur 25 belum pernah pacaran?”
“Yang naksir sih banyak. Cuma ya itu terlalu jenius untuk dideketin. Kadang kita juga kalo ngadepin cewek yang lebih pinter ada mindernya kan.”
Aksa merenungkan kata-kata Niko. Apa timing-nya tepat gue ngomong sama Zanna tentang perasaan gue?
“Nggak usah ragu lagi, Sa. Kalo lo ketemu dia, jangan buang waktu, lo nyatain cinta lo sama Zanna.” Niko memberi semangat.
“Tapi…” Aksa masih ragu. “Kalo dia nolak gue gimana?”
Niko geleng-geleng kepala. “Cetek amat sih mental lo. Belum terjun perang udah bendera putih duluan. Gimana lo bisa tau bakal ditolak? Eh denger ya, menurut gue Zanna malah nunggu lo nyatain ke dia.”
“Masa’?”
“He-eh.”
“Emang menurut lo dia suka juga sama gue?”
“Keliatannya sih. Cuma menurut gue, dia terlalu takut dimainin sama lo.”
“Jadi gue mesti gimana?”
“Errggghh… gue telen juga lo lama-lama. Ya tembak dia lah! Emang dari tadi gue ngomong apaan? Pokoknya gue nggak mau tau, begitu lo ketemu Zanna, nyatain cinta lo sama dia. Gue nggak mau kerjaan kita berantakan gara-gara lo galau mikirin Zanna mulu.”
__ADS_1
Aksa tercenung memikirkan semua kejadian bersama Zanna.
Dengan sikapnya yang semena-mena dulu, apa Zanna bakal maafin dan terima dia?
***
Rencana manis yang sudah disusun semalaman ternyata tidak seindah bayangannya.
Paginya begitu Aksa sampai di rumah dan melihat sepatu Zanna di depan pintu, hatinya begitu gembira karena akan bertemu gadis pujaannya.
Sambil membawa setangkai bunga cantik, ia bersemangat masuk rumah.
“Kok sepi?” Aksa celingukan.
Langkahnya sampai di taman belakang rumah.
“Lho itu Zanna? Sama … Bang Adnan?” Aksa terpaku melihat mereka.
Sepertinya Zanna dan Adnan belum menyadari kehadiran Aksa.
Adnan duduk berhadapan dengan Zanna. Tangan mereka bertautan. Tatapannya begitu dalam.
Perasaan Aksa mulai tidak nyaman. Apa mungkin…?
“Will you marry me?”
Pluk!
Bunga terjatuh di lantai, bertepatan dengan lamaran Adnan yang terlontar.
Tubuh Aksa menegang.
Bang Adnan ngelamar Zanna?
Nggak! Ini nggak mungkin!
Na, gue sayang sama lo, please jangan terima lamaran Bang Adnan!
Aksa merasakan tubuhnya lemas ketika Zanna menatap Adnan penuh kasih dan berkata “I will.”
Hancur sudah!
Kenapa begini?
Aksa tidak sanggup berlama-lama berdiri, ia segera berbalik pergi membawa hati yang hancur.
Apa gue terlalu lama buat nyatain sama lo, Na? Makanya lo terima lamaran Bang Adnan!
Aksa melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Berharap sakit hatinya berkurang.
Tapi makin lama sakit terasa.
Tanpa terasa air matanya menetes.
***
__ADS_1