Pacar Settingan

Pacar Settingan
Bab 28


__ADS_3

.


Selama dua hari Aksa berusaha keras tidak memikirkan Zanna. Ia mencoba fokus karena dapat tawaran film layar lebar.


Semalaman dia gelisah, tapi bertekad untuk melupakan Zanna.


“Sa, kapan dateng?” Adnan mengejutkannya. “Kok gue nggak denger suara mobil lo?”


“Baru aja.” Aksa menyahut sambil duduk di sofa. “Gue barusan naik taksi, mobil lagi diservis.”


Adnan heran melihat sikap adiknya. “Lo lagi ada masalah?”


Aksa menoleh. “Nggak ada, Bang.”


“Muka lo kusut gitu. Cerita aja sama gue.”


Sungguh malas berbicara dengan Adnan. “I’m okay.” Ia melirik tongkat yang digunakan Adnan. “Sekarang lo bisa jalan pake tongkat?”


Adnan tersenyum. “Iya nih, berkat Zanna terus maksa gue latihan jalan, sekarang kaki gue udah membaik. Walau masih dibantu tongkat, tapi kata dokter, ada harapan buat kaki gue sembuh total.”


Kenapa Adnan mesti nyebut nama Zanna sih? Bikin Aksa galau lagi.


Tapi ia tidak mau menunjukkan kecemburuannya. “By the way, jadi kapan rencana kalian nikah?”


Adnan kontan bengong. “Nikah? Gue? Sama siapa?”


Aksa meninju pelan lengan Adnan. “Gue udah tau, lo sama Zanna mo nikah. Pake nutupin segala.”


“Nikah?” Adnan malah bingung.


“Gue liat waktu lo ngelamar Zanna di taman.”


Adnan mengingat-ingat dan matanya membulat. “Ohhh itu…”


Aksa heran reaksi Adnan di luar dugaan.


***

__ADS_1


“Will you marry me?” tanya Adnan menatap Zanna lekat.


Zanna tersenyum. “I will.”


Adnan ikut tersenyum dan menghela nafas lega. “Kira-kira gitu deh, Na. Rencanaku.”


“So sweet amat sih, Nan. Yakin deh Senna meleleh kalo denger pernyataan kamu kayak gitu,” komentar Zanna.


“Menurut kamu, dia bakal jawab begitu?”


“Hmm… kayaknya sih. Soalnya Senna kan sayang banget sama kamu, Nan.”


Adnan tersenyum pahit. “Eh kamu jangan baper, aku cuma nunjukin rencana aku lamar Senna dulu.”


“Diiihh siapa juga yang baper.” Zanna tergelak. “Yang penting kamu udah terima kenyataan tentang Senna. Mulai sekarang, kamu harus jalanin hidup kamu baik-baik. Senna pasti nggak mau liat kamu pesimis.”


“Iya Na, aku sadar kok. Nggak seharusnya aku kacau begini. Makasih ya, Na, udah nemenin aku.”


Zanna mengangguk. “Semoga nanti kamu dapat wanita yang bisa mengerti kamu ya, Nan.”


***


“Iya lah, emang lo pikir gue mau nikahin dia? Gue kan cinta banget sama Senna. Gue cuma menghibur diri aja, dengan nunjukin cara gue lamar Senna dulu. Lagian mana mungkin gue bisa bikin adik gue patah hati.”


“Gue kira…” Aksa sampai kehabisan kata-kata.


“Lo kira apa?” selidik Adnan. “Lo bicara apa sama Zanna?”


“Gu-gue…”


“Hmm… gue ngerti sekarang. Pantesan dia sedih waktu kemarin ke sini.”


“Dia ke sini?”


“Lo salah paham kan sama dia? Kemarin sore dia ke sini. Dia bilang udah ketemu sama lo. Tapi dia nggak bicara apa-apa sama gue. Gue udah tebak pasti ada yang nggak beres.”


“Ta-tapi… kemarin dia minta putus sama gue? Gue pikir karna dia mau nikah sama lo.”

__ADS_1


Adnan menepuk jidat. “Pantesan dia nangis. Lo udah salah paham lagi kan. Harusnya lo denger penjelasan dia dulu.”


“Tapi kalo bukan, trus kenapa dia putusin gue?”


“Dia dapat beasiswa S2 ke New York. Makanya dia minta putus sama lo. Karena dia harus pergi beberapa tahun, bisa jadi nggak bakal balik kalo keterima kerja di sana.”


“APA?!!” Aksa shock bukan main. “Di-dia… kapan dia berangkat?”


“Tadi malam.”


Aksa terjatuh lemas.


“Dia titip salam buat lo. Katanya maaf kalau nggak sempat pamit. Soalnya lo juga susah dihubungi.”


Aksa tidak mendengar kelanjutan kata-kata Adnan, tatapannya kosong, shock dengan kepergian Zanna.


***


Aksa, terima kasih ya. Secara nggak langsung, kamu bantu usahaku untuk menggapai impianku untuk dapat beasiswa S2. Bantuan kamu dengan pinjamkan laptop waktu itu, sangat berarti buat aku.


Terima kasih untuk semuanya. Walau kamu cuek, tapi aku tau kamu sebenarnya baik. Seharusnya aku nggak berharap lebih sama kamu. Dengan segala perhatian yang kamu berikan. Tapi kadang aku suka terbawa suasana dan berpikir kamu benar-benar suka sama aku.


Harusnya aku tau diri.


Aku juga senang bisa dekat sama kamu, walau hanya pura-pura.


Dan… selesaikan kuliah kamu. Aku udah siapkan beberapa diktat kuliah yang belum kamu selesaikan. Ada di kamar kamu. Aku nggak bisa bantu kamu belajar. Tapi aku yakin kamu bisa.


Good luck!


Email dari Zanna, membuatnya menyesal tidak bisa bertemu Zanna sebelum dia pergi.


Meski sibuk mengurus banyak keperluan, Zanna masih sempat-sempat memikirkan dirinya. Semua diktat yang disiapkan Zanna untuk memudahkannya belajar.


Aksa memandang foto Zanna di HP-nya. “Aku sayang kamu, Na.”


***

__ADS_1


__ADS_2