
3 tahun kemudian…
Bandara Soekarno-Hatta…
Seorang gadis berpenampilan tomboy sudah menunggu di terminal kedatangan luar negeri. Lekat memperhatikan turis-turis yang muncul sambil menyeret koper dan tas.
Cukup lama menunggu, seorang gadis berjilbab muncul dari pintu kedatangan mendorong troli berisi beberapa koper dan tas.
“Zannaaaaa…!!”
Suara cukup membuat semua menoleh kesal karena terlalu berisik.
Mereka berpelukan haru.
“Kamu apa kabar, Git?”
“Baik. Eh lo berhijab sekarang? Duuhh makin cantik aja.”
“Maaf ya ngerepotin harus jauh-jauh jemput ke sini.”
“Repot apaan sih? Buat bestfriend gue apa sih yang enggak. Yuk pergi, panas banget di sini.”
Setelah tas dan koper masuk bagasi mobil, mereka meninggalkan kawasan bandara.
“Gimana di New York?” tanya Gita sambil melajukan mobil kecepatan sedang.
“Gimana apanya?” Zanna malah balik tanya.
“Ya gimana tempatnya? Romantis? Macet? Atau gimana?”
Zanna tertawa pelan. “Aku di sana kuliah sambil kerja. Mana ada waktu jalan-jalan.”
“Ah masa’?”
“Lagian apa enaknya jalan sendirian. Kalo lagi libur, aku lebih suka diem di apartemen.”
“Tapi sidang tesis lo gimana? Lancar kan?”
“Lancar dong! Malahan professor ternama di Eropa hadir di sidangku.”
“Wah hebat lo. Kalo Senna mana tahan belajar kayak lo. Dia hobinya manjat gunung.”
“Walau kembar kan sifat kami jelas beda, Git.”
Jalanan lumayan macet, tapi tidak masalah jadi mereka bisa mengobrol banyak setelah bertahun-tahun pisah.
“Trus gimana ceritanya lo berhijab?”
Zanna tersenyum. “Biaya hidup di Amerika nggak sedikit. Walau aku dapat beasiswa, keperluanku juga banyak. Jadi aku dapat pekerjaan paruh waktu di restoran Turki. Jadi pelayan. Di sana juga aku memutuskan berhijab. Hati juga lebih tenang dan banyak bersyukur. Apalagi aku dapat apartemen gratis dari temannya professor Randy. Apartemennya nggak jauh dari kampus. Karena kosong, aku diijinin tempatin tanpa bayar sepeser pun.”
“Wahh beruntung banget hidup lo. Ada hikmahnya juga lo jadi kesayangannya professor. Segalanya dipermudah. Eh tapi kenapa lo balik? Kenapa nggak kerja di sana aja? Denger-denger banyak tawaran buat lo kan?”
“Aku kangen Indonesia.” Jawaban Zanna bikin Gita meledek.
“Kangen Indonesia, atau kangen Aksa.”
Zanna tertawa. “Apaan sih kamu…?”
“Ciieee langsung malu gitu.”
“Aku dapat tawaran kerja dari kampus. Pak Randy resign dan pindah ke Belanda. Aku diminta gantiin posisi Pak Randy ngajar mata kuliahnya.” Zanna menjelaskan tapi yakin Gita tidak berhenti menggodanya.
“Sayang banget deh.. kalo gue jadi lo, mending lanjut meniti karir di sana.”
“Kamu gimana sih? Kita kan orang Indonesia. Masa’ mau majuin Negara orang? Tuntut ilmu ke negeri lain, amalkan untuk membangun Negara sendiri. Gitu yang bener.”
“Gue rasa cita-cita lo sebenernya pengen jadi Presiden.” Komentar Gita.
Zanna tergelak. Tanpa sengaja tatapannya mengarah pada papan reklame raksasa di pinggir jalan. Ada foto Aksa, jadi model iklan produk suplemen kesehatan.
Ia jadi teringat tiga tahun lalu waktu terakhir bertemu Aksa. Reaksi cowok itu datar saja bertemu dengannya.
Meski berusaha sekeras mungkin, ia kerap memikirkan Aksa, dan paling parah, ia pernah menangis sendirian saking merindukannya.
Pertemuan terakhir mereka diwarnai dengan salah paham. Tidak memiliki keberanian bertemu Aksa lagi. Bahkan tidak berani berkirim email atau sekedar menyapa di sosial media.
Lagipula sekarang Aksa pasti sudah melupakannya. Karirnya di dunia entertainment sepertinya makin gemilang saja.
Mungkin ada baiknya segera melupakan cowok itu.
__ADS_1
***
“Selamat bergabung kembali, Bu Zanna.”
“Terima kasih, Pak.”
Zanna meninggalkan ruang rektor dan berjalan menuju ruangannya. Hari pertamanya mengajar. Senyumnya merekah mengingat sudah berhasil menggapai mimpinya.
Bukan hanya itu, sebagai ucapan selamat atas kelulusan magister-nya, Pak Randy menghadiahkan satu unit apartemen untuknya di bilangan Jakarta Selatan. Karena prestasi Zanna dan kecerdasannya, Pak Randy sudah menyiapkan hadiah apartemen itu sejak lama. Agar Zanna mempunyai tempat tinggal sendiri.
Zanna berencana mengumpulkan uang untuk ke Belanda menjenguk Pak Randy dan istrinya. Karena ia belum sempat bertemu Pak Randy untuk mengucapkan terima kasih.
Ia bertekad akan menjalankan tugas sebaik mungkin. Tidak mengecewakan Pak Randy, dan menyia-nyiakan pendidikan yang diraihnya susah payah.
Di kampus, dimana-mana wajah baru yang diingatnya. Wajar saja sudah tiga tahun ia meninggalkan kampus. Para mahasiswa yang diajarnya pasti sudah pada lulus.
Gimana kabar Aksa ya?
Apa dia udah lulus?
Zanna geleng-geleng kepala. “Ngapain mikirin dia lagi? Mending fokus deh kerja.”
Tiba di ruangannya (ruangan lama Pak Randy), ia bergegas duduk dan menyalakan komputer. Materi ajar yang lama sepertinya sudah tersedia. Tinggal ia modifikasi dengan gaya mengajarnya agar mahasiswa tidak pada jenuh.
“Hari ini cuma ada satu kelas. Besok ada tiga kelas. Besoknya kosong, besoknya lagi… wuih padat juga nih jadwalnya.” Zanna mencocokkan jadwal mengajar dengan materi yang diberikan.
Tok tok tok…
Pintu diketuk.
“Masuk!” seru Zanna tanpa mengalihkan perhatian dari dokumen-dokumennya. Paling juga OB antar minuman.
“Permisi Bu, saya dengar Bu Zanna sedang mencari asisten dosen?” suara laki-laki.
Zanna menggeleng tanpa melihat. “Saya nggak perlu asisten. Lagipula saya tidak membuat pengumuman. Mungkin kamu salah ruangan.”
“Benar Ibu tidak membutuhkan asisten?”
“Iya. Saya bisa handle sendiri.”
“Kalau begitu, saya ingin mengajukan menjadi teman hidup Ibu saja. Bagaimana?”
“Tapi saya datang ke sini untuk melamar.”
“Saya sudah bilang tidak butuh asisten.”
“Kalau teman hidup?”
Zanna mulai kesal dan mendongakkan kepala. Matanya langsung melotot.
“Aksa!?”
***
“Surprise ya kita bisa ketemu lagi.”
Pipi Zanna memerah. Aksa nekat ‘menculiknya’ ke pantai, tempat terakhir mereka bertemu.
Aksa tersenyum menatap Zanna. Wajah yang semakin cantik di matanya. Hijab yang menyejukkan hatinya setiap memandang Zanna.
“Kamu sendiri ngapain di sini?” Zanna berusaha menyembunyikan rasa gembiranya.
“Kan aku udah bilang mau ngelamar kamu.” Aksa mulai menggodanya.
Zanna tersenyum geli. “Kamu apa kabar?”
“Aku baik. Kamu gimana?”
“So far so good. Seperti yang kamu lihat. Kamu kok beda banget sekarang?"
“Beda apanya?”
“Ya lebih dewasa aja keliatannya.” Zanna pangling penampilan Aksa yang berbeda. Mengenakan kemeja biru, celana hitam, juga kacamata.
“Kamu juga tambah cantik,” sahut Aksa membuat Zanna memerah. “Aku dapat kabar dari Gita kalau kamu udah pulang ke Jakarta. Makanya aku buru-buru nemuin kamu.”
Zanna jadi malu. “Emang lagi nggak ada kelas?”
“Aku udah lulus, lagi. Dari tahun lalu.”
__ADS_1
“Oh ya?”
“Ada asisten dosen cantik yang bantu aku untuk ngejar semua mata kuliahku yang ketinggalan. Makanya aku cepat lulus, tanpa mengganggu jadwal kerjaku.”
Zanna terdiam, mengingat pertemuan mereka tiga tahun lalu. Masih membekas dan membuatnya sedih.
Aksa memperhatikannya. “Na, kamu kenapa? Nggak nyaman ya ketemu aku?”
Zanna tidak menjawab, kepalanya menunduk. “Kenapa kamu cari aku lagi? Settingan kita udah berakhir. Aku nggak mau jadi pacar settingan kamu lagi.”
Tiba-tiba Aksa menggenggam tangan Zanna membuatnya kaget. “Aku mau jujur tentang apa yang aku bilang sama kamu tiga tahun lalu di tempat ini.”
Kening Zanna berkerut waktu Aksa menatapnya lekat.
“Waktu aku bilang suka sama kamu, sebenarnya aku nggak bohong.”
DEG! “Ngg maksud kamu…?”
“Aku beneran suka sama kamu, Na. Tapi bodohnya waktu itu aku ngira kamu ada hubungan sama Bang Adnan. Aku udah salah paham dan membiarkan kamu pergi. Tiga tahun ini aku cuma berharap ketika kamu kembali, kamu belum menjadi milik siapapun. Karena aku nggak mau kehilangan kamu lagi.”
Aku juga suka sama kamu, Sa. Tapi aku takut kamu mainin aku lagi, batin Zanna.
“Aku tau kamu juga masih ada perasaan sama aku.” Aksa menyentuh cincin di jari Zanna. “Kamu masih pakai cincin tunangan kita.”
Zanna menarik tangannya. “Ngg… ini…”
Aksa tersenyum karena Zanna memerah. “Ini apa?”
“Ngg bukan gitu, Sa. Waktu di New York, aku ingin fokus nyelesein S2-ku. Makanya aku selalu pakai cincin ini biar cowok-cowok di sana nggak pada gangguin aku.” Dan aku juga berharap bisa bertemu kamu lagi.
“Masa’?”
“Aku juga rencana mau balikin ini ke kamu sebelum aku pergi. Tapi…”
“Tapi kamu nggak ingin kita putus kan?” goda Aksa.
“Ihh bukan gitu. Cuma … ini cincinnya terlalu sempit. Aku nggak bisa ngelepasnya.” Duuhh alasannya konyol banget deh.
Tiba-tiba Aksa menggenggam tangan gadis itu. “Apapun alasan kamu, jujur sama aku kalau perasaan kita masih sama?”
Zanna menggigit bibir, bingung menjawab apa. Karena sejujurnya dia tidak bisa melupakan Aksa.
“Aku takut kamu ninggalin aku, Sa. Disaat aku yakin sama perasaanku ke kamu.”
Aksa menggeleng. “Itu alasan yang nggak bisa aku terima. Kecuali kamu permasalahkan status sosial kita saat ini.”
“Maksud kamu?”
“Sekarang kamu udah jadi dosen. Sedangkan aku mantan mahasiswa yang kamu ajar. Apa kamu ngerasa aku nggak pantas untuk kamu?”
“Eh bukan itu maksudku, Sa. Aku…”
“Zanna!”
Mereka berdua sontak menoleh.
Seorang cowok bule berbadan tinggi dan hidung mancung melambaikan tangan semangat.
“Dalton?” Zanna heran ketika mendekat.
“Thank god I found you here.”
“What are you doing here? I though you went to Zurich.” Zanna masih bingung karena Dalton teman kuliahnya di magister akan melanjutkan S3 di Jerman.
“I’m here to wedding my cousin. How are you, Zanna?” Dalton berseri-seri memandangnya.
“I’m fine.”
“I miss you much. Why didn’t tell me that you have go back to Indonesia?”
“I work here, Dalton.”
Tatapan Dalton mengarah pada Aksa yang wajahnya ditekuk.
“He is your boyfriend?” tanya Dalton.
Zanna cuma tersenyum kecil. Kentara ia kikuk berada diantara Aksa dan Dalton.
***
__ADS_1