Pacar Settingan

Pacar Settingan
Pacar Settingan - Bagian 10


__ADS_3

Jam dinding menunjukkan pukul 18.30.


Zanna baru selesai mandi dan masuk kamar. Dia sendirian di kontrakan. Cici dan Abid sedang pulang kampung karena ibu mereka sakit. Tapi itu membuatnya lebih lega. Ada baiknya Cici pergi sementara waktu agar tidak ada yang mencecarnya dengan berbagai pertanyaan seputar Aksa.


Sambil menyeka rambutnya ia duduk di kasur tengah dan menyalakan TV.


“Ugh gara-gara usul Niko, aku jadi harus potong rambut.” Gerutunya.


Bete juga sendirian nggak ada teman.


Mending dia buka sosial media. Udah lama juga dia nggak posting.


Begitu membuka instagram-nya, ia kaget follower-nya membludak menjadi dua ratus ribu pengikut.


Banyak tag foto, semua pose ketika bersama Aksa terpampang. Seketika dia jadi seleb lokal, walau jarang posting foto atau apapun. Dia memang terlalu sibuk belajar dan bekerja, sehingga tidak ada waktu santai main sosial media.


“Serius nih, follower-ku segini banyaknya?”


Yang terbaru, foto makanan yang diberikannya untuk Aksa. Cukup menghebohkan mengingat Zanna terlalu kaku melakukan hal seromantis itu.


Ekspresi Aksa ketika menerimanya begitu lucu membuatnya tertawa.


Iseng dia buka direct message. Banyak yang kirim pesan yang pastinya bertanya seputar Aksa.


Matanya menyipit melihat salah satu nama pengirim. Pesannya cukup membuat penasaran. Ia membuka message dari akun bernama Gita.


Baru membaca sedikit, tiba-tiba HP-nya berdering, ada telepon masuk.


“Duuhh ngagetin aja!” gerutunya, dan heran. “Aksa? Ngapain dia nelepon? Baiknya aku jawab nggak ya? Tapi dia mau ngomong apa?” akhirnya ia jawab. “Halo?”


“Na, kamu di rumah kan?” suara Aksa terdengar lembut bikin jantung Zanna jumpalitan lagi.


“Iya.”


“Aku di depan rumah kamu nih.”


APA?!


Buru-buru Zanna membuka gorden, dan kaget benar-benar ada Aksa.


“Aksa! Kamu ngapain ke sini?” tanyanya panik.


“Bukain dulu dong pintunya. Atau kamu mau orang-orang liat aku di sini.”


“Eh jangan.. duhh tapi gimana ya?” Zanna jadi bingung, kalau di luar pasti Aksa ketahuan. Tapi dia cuma sendirian di rumah.


“Cepetan. Udah mulai banyak orang ini.”


Daripada makin heboh, ia mempersilakan Aksa masuk. Pintunya dibuka sedikit.


“Kamu ngapain malem-malem ke sini?” omel Zanna.


Sambil membuka tudung jaket, Aksa menyerahkan kotak makanan. “Mau balikin ini.”


“Apa? Kamu dateng cuma buat balikin ini?” Zanna heran campur bingung. Ajaib amat ni cowok berubahnya.


“Sekalian mau marah juga sama kamu, kenapa tadi maen pergi aja? Bukannya nunggu aku selesai syuting.”


“Emang aku ada kewajiban nungguin?”


“Ya ada lah, kita kan pacaran.”


“Settingan,” sambung Zanna. “Kita cuma pura-pura.”


Aksa mendengus kesal. Mati kutu di depannya.


“By the way, tumben ngomong aku-kamu? Kan nggak ada orang. Santai aja lagi, bicara kayak biasa aja.”


Suasana jadi kikuk, Zanna pun rikuh berduaan dengan Aksa di rumah.


Sampai akhirnya…


“Kita jalan yuk?”


***


Meski cara Aksa mengajaknya kencan cukup aneh. Tapi Zanna mengiyakan agar mereka pergi dari rumah. Lebih gawat kalau orang-orang tahu Aksa ada di rumahnya.


Yang bikin Zanna tercengang lagi, Aksa naik motor!


Bukan motor kayak pembalap, tapi motor matik biasa.


“Supaya nggak ketahuan aku jalan sama kamu.” itu alasan Aksa.


Kenapa mesti malu ketahuan kalau aku cuma pacar settingan? Batin Zanna.


“Pegangan dong. Aku kan bukan abang ojek online yang risih dipegang.”


Makin nervous aja Zanna dibuatnya. Tapi tangannya memegang pinggang Aksa juga.

__ADS_1


“Na, kamu suka film kartun?” pertanyaan Aksa bikin Zanna heran.


“Kartun? Nggak terlalu sih. Emang kenapa?”


“Biasanya cewek kan suka kartun Disney.”


“Cowok juga suka kan.”


“Yup. Makanya pengen tau aja kamu suka tokoh kartun apa.”


“Aku nggak terlalu hafal tokoh-tokoh kartun. Paling suka dari kecil sih kartun Doraemon.”


“Kalo Barbie, kamu suka?” Aksa mulai memancingnya.


“Waktu kecil aku tomboy. Mana suka yang kayak gitu.”


“Masa’ sih?”


“Kamu sendiri, suka sama Barbie?”


“Suka.”


Jawaban enteng Aksa bikin Zanna kaget. “Serius kamu suka?”


Aksa mengangguk, diam-diam melirik ekspresi Zanna di kaca spion. “Aku suka sama tokoh Barbie yang rambut panjang.”


“Perasaan semua tokoh Barbie rambutnya panjang kan?” kok jadi bicarain Barbie?


“Coba deh tebak ada tokoh Barbie yang rambutnya super panjang?”


“Rapunzel maksud kamu?”


Aksa melihat raut wajah Zanna begitu datar.


Zanna terdiam. Kemarin Niko bahas tentang Rapunzel, sekarang Aksa juga bahas itu. Ada apa sebenernya?


“Nggak tau kenapa pertama liat kamu aku kepikiran kamu mirip tokoh Rapunzel itu.”


“Ahh kamu ngaco deh. Aku kan bukan ABG, nggak ada imut-imutnya.” Zanna baru sadar mereka sudah jauh ke arah Depok. “Mau bawa aku ke mana?”


“Nanti juga kamu tau.”


Tak lama motor berhenti di sebuah rumah.


“Ini rumah siapa?”


Zanna kaget dan menggeleng. “Nggak mau. Kamu apaan sih?”


“Masuk aja. Ada Mamaku di rumah. Dia mau ketemu kamu.”


“Mama?!” Zanna makin terkejut.


“Iya. Mama mau kenalan sama calon mantunya.”


CALON MANTU!??


Aksa udah gila kali ya!


Zanna menarik tangannya. “Sa, kamu jangan keterlaluan! Aku cuma pacar settingan kamu. Dan nggak ada perjanjian aku harus lebih jauh masuk ke keluarga kamu.”


Aksa menatapnya serius. “Mama lihat hebohnya berita kita. Setidaknya kamu datang dan kenalan aja sama Mama. Mengenai rahasia settingan kita, cuma aku, kamu, dan Niko yang tau. Bahkan dua asistenku aja taunya kita beneran pacaran. Jadi, anggap aja ini settingan juga. Mengenai gimana ke depannya, kita pikirin lagi nanti. Gimana? Kamu mau kan? Mama berharap banget ketemu kamu.”


Zanna terdiam. Duuhh masa’ aku dianggap calon mantu beneran?


Belum menjawab, Aksa sudah menarik tangannya masuk rumah. Akhirnya Zanna cuma bisa pasrah.


Mama sudah menunggu kedatangan mereka.


Begitu tiba, Zanna langsung cium tangan Mama.


Mama memandangnya heran, dan menarik Aksa menjauh.


“Dia lebih tua dari kamu kan, Nak?” tanya Mama langsung.


Aksa tersenyum kecil. “Nggak ada masalah kan, Ma?”


“Tapi dia seumuran dengan kakakmu. Mama rasa dia lebih cocok jadi kakak kamu.”


“Mama kenalan aja dulu. Dia pacar Aksa. Nggak tau kalo nanti.”


Kentara banget Mama kurang suka anaknya punya pacar lebih tua. Tapi Aksa sudah dewasa, dan tidak bisa dilarang-larang.


***


Jelas Zanna sadar Mama tidak menyukainya. Terlihat dari cara Mama memandangnya. Tapi apa daya kalau dia dipaksa datang.


“Na!”


Ia kaget dan lihat kanan-kiri. Siapa yang memanggilnya barusan?

__ADS_1


Sepertinya bukan suara Aksa.


“Silahkan diminum.” Tiba-tiba muncul Mama membawakan dua cangkir teh.


“Terima kasih, Bu. Mohon maaf jadi merepotkan.” Zanna membantu menyusun cangkir di meja.


Mama tersenyum tipis dan duduk di hadapan Zanna.


Tatapan Mama membuat perasaannya tidak nyaman.


“Sejak kapan Nak Zanna berhubungan dengan Aksa?”


Mulai interogasi nih kayaknya.


“Sudah dua tahun lebih, Bu.” Untung dia sudah hafal skenario yang disusun Niko dan Aksa seputar settingan mereka.


“Bagaimana kalian bisa kenal?”


Dengan lancar Zanna bercerita skenario mereka, berkenalan di Bali ketika Zanna datang untuk workshop, dan Aksa ada agenda syuting. Lalu sejak pulang ke Jakarta Aksa rajin menghubunginya, dan mengajak bertemu. Awalnya dia ragu dekat dengan artis. Tapi karena Aksa terus mendekatinya, akhirnya ia menerima pernyataan Aksa untuk menjadi pacarnya.


“Apa kamu ada tujuan tertentu berpacaran dengan anak saya?”


Zanna kaget, pertanyaan Mama tidak diduganya. Duuh jawab apa nih, ia mulai panik.


“Ma, laper nih, makan yuk!” Kemunculan Aksa menyelamatkan suasana.


“Oh ya udah Mama siapin.” Mama ngeloyor ke dapur tanpa melihat Zanna.


Sungguh Zanna sakit hati dengan perlakuan Mama.


Aksa duduk di sampingnya. “Jangan baper. Mama emang begitu orangnya. Kurang berkomunikasi sama orang. Dia cuma kaget aja kenalan sama kamu.”


“Aku di sini bukan kemauan sendiri. Walau cuma pura-pura, tapi aku nggak harap dapat perlakuan sinis dari Mama kamu, Sa.”


“Iya aku tau. Tapi kalian baru kenal. Ntar lama-lama juga kamu terbiasa.” Aksa menggamit tangan Zanna. “Yuk makan.”


“Makan?” Zanna heran. “Emang Mama kamu ngajakin aku?”


“Aku yang ajakin kamu. Jangan belagak nolak deh.”


“Enggak deh makasih. Aku nggak laper.”


KRIUUUKKK!


Aksa bengong, pipi Zanna memerah malu.


Duuhh… ni perut kenapa pake bunyi, lagi! Rutuk Zanna malu.


Aksa menahan senyum. “Atau kepengen masuk rumah sakit lagi gara-gara nggak makan?”


Akhirnya Zanna mengangkat muka. “Tapi Mama kamu gimana?”


“Gimana apanya? Mama baik-baik aja kok. Yang penting tunjukin aja kalo kamu pacar yang baik buat aku. Walau cuma settingan.”


Zanna masih ragu tapi Aksa sudah menarik tangannya.


“Oh ya, Sa. Tadi kamu manggil aku?” tanya Zanna penasaran.


Aksa malah heran. “Manggil? Aku kan baru dateng. Dari tadi aku di kamar. Kenapa?”


“Enggak sih, cuma tadi ada yang manggil nama aku. Tapi nggak ada orang.”


Spontan Aksa melihat ke kamar pojok, pintunya terbuka sedikit. Ada sepasang mata memandang mereka.


“Mungkin perasaan kamu aja. Oh ya kamu duluan ke ruang makan. Aku mau ambil sesuatu di kamar.”


Zanna menurut dan meninggalkan Aksa.


Aksa bergegas masuk kamar pojok dan menguncinya.


“Rapunzel! Dia Rapunzel kan?!”


“Bang, lo udah minum obat?”


“Kenapa lo nggak jawab?! Dia Rapunzel! Ngapain dia ke sini?”


“Justru gue bawa dia ke sini buat lo, Bang. Lo tenang dulu.”


“Trus kenapa dia ninggalin gue? Mentang-mentang gue cacat!”


Aksa melihat kakaknya begitu emosi. Tapi belum saatnya Aksa membiarkan mereka bertemu. Ia harus tahu dulu alasan Zanna meninggalkan kakaknya dahulu.


Setelah memberi kakaknya obat penenang, ia keluar kamar.


Sesaat mematung di depan pintu, galau.


“Ada apa dengan perasaan gue? Dendam jelas, tapi kenapa gue nggak rela kalau dia ketemu Bang Adnan?”


***

__ADS_1


__ADS_2