
Pagi-pagi sekali Zanna sudah tiba di kampus. Karena Pak Randy memberi tugas mendadak untuk menyiapkan materi ujian. Sedangkan datanya ada di komputer ruangan Pak Randy.
Begitu dirasa siap, ia menuju kelas.
Tapi jantungnya seperti lompat ke dengkul begitu melihat spanduk besar-besar bertuliskan “I Love You, My Sweet Zanna”. Dia tidak akan sekaget ini kalau spanduk bukan dipasang di tengah lapangan.
Kerjaan siapa ini?
“Ah mungkin bukan buat aku. Bisa jadi di kampus ini ada yang namanya Zanna juga.” Ia berusaha tidak terbawa perasaan, dan bergegas masuk kelas.
Di kelas sudah ada beberapa mahasiswa.
Semua mata langsung memandangnya, kasak kusuk nggak jelas.
Menjaga wibawa sebagai asdos, Zanna berusaha cuek dan mulai sibuk menata kertas ujian di meja.
“Mbak Zanna, jadi kapan nih?” Rey mahasiswa yang terkenal tukang gosip meneriakinya.
“Kapan apanya?” Zanna balik nanya.
“Ah Mbak Zanna suka malu-malu. Kapan nih nikahnya?”
Nikah?
Ihh udah makin ngaco.
Tapi kebingungannya terjawab begitu menemukan sekuntum mawar merah di mejanya.
“Will you marry me?”
Ia tersentak, suara itu… sepertinya suara…
Begitu menoleh ke belakang, tampang shock-nya tidak bisa ditutupi. Di layar raksasa ada video yang ditayangkan melalui infocus. Tepat dugaannya, itu suara Aksa!
Aksa dengan lantangnya berbicara seakan Zanna ada di hadapannya.
“Zanna, please maafin aku. Aku tau kadang aku masih childish. Tapi itu karena aku sayang banget sama kamu dan aku nggak mau kehilangan kamu. Please, maaf kalau kemarin aku nggak percaya sama kamu. Asal kamu tau, aku begitu karena aku cemburu. Dan itu bikin aku down. Apa aku nggak pantes jadi pacar kamu? Aku nggak mau patah hati. Tapi aku lebih takut kehilangan kamu. Maafin aku ya, Sayang. Kapan pun kamu siap, aku akan setia nunggu jawaban kamu. I love you.”
Klik.
Video selesai diiringi teriakan dan tepuk tangan membahana.
“Cieeee…. Mbak Zanna malu-malu!”
“Romantis banget!”
“Terima aja, Mbak!”
Sumpah, Zanna malu abis seperti ditelanjangi di muka umum.
Pipinya memerah seperti mendidih.
“Ini kenapa malah dipake sembarangan?” omel Zanna sambil mencabut kabel infocus. “Ini property kampus dan cuma untuk keperluan perkuliahan. Kalau ada yang menyalahgunakan, saya akan beri peringatan.”
“Aku yang pake itu. Jadi aku layak kamu kasih peringatan.”
Zanna tersentak dan berbalik.
Aksa sudah berdiri menjulang menatapnya. Tas masih tersampir di bahunya.
Tatapannya begitu lembut dan dalam.
“Aksa, kamu apa-apaan sih?” Zanna panik berusaha menahan suaranya. “Ini di kampus, jangan aneh-aneh deh!”
Mahasiswa sudah berdatangan memenuhi kelas dan berteriak-teriak heboh melihat adegan sinetron. Semua tidak ada yang lupa merekam dan mengambil gambar moment romantis secara langsung. Bahkan ada yang live di instagram. Pasti lebih menghebohkan lagi.
Tanpa diduga, Aksa memegang tangan Zanna lembut dan berlutut seperti adegan pangeran.
Ya Allah… buat aku menghilang! Jerit Zanna dalam hati.
“Kamu mau maafin aku?”
Sungguh Zanna tidak tahu harus menjawab apa. Kenapa Aksa tiba-tiba begini?
Apa settingan lagi?
Pintu kelas terbuka, Zanna kaget dan spontan menarik tangannya. “Ada Pak Randy!” sentaknya tertahan dan bergegas kembali menyusun kertas ujian.
__ADS_1
Semua mahasiswa kembali ke kursi masing-masing sambil bisik-bisik.
Sepanjang ujian, pikiran Zanna terganggu akan kejadian barusan. Sementara dari sudut jam 9, Aksa mengerjakan soal ujian sambil curi-curi pandang ke arahnya.
Dan sepanjang dua jam ia harus mengendalikan perasaan GR-nya kalau tidak mau pekerjaannya kacau lagi.
Tapi jantungnya deg-degan super hebat.
***
Sejak kejadian itu, Zanna berusaha menghindar dari Aksa. Karena tidak tahu harus bicara apa jika bertemu. Ia bersembunyi di ruangan Pak Randy meski Pak Randy sudah pergi dari kampus.
Dia bingung dan panik membayangkan di luar pintu sudah ramai yang ingin merecokinya.
Tapi dia harus pergi untuk mengurus beasiswanya. Harus minta tolong sama siapa?
Oh ya, Niko!
Segera dia aktifkan HP dan menghubungi Niko.
“Halo, Nik.”
“Iya, Na.”
“Nik, ini settingan lagi kan? Aksa cuma mau ngerjain aku doank?” tanyanya panik.
“Settingan apaan?” Niko terdengar bingung.
“Jangan pura-pura deh! Kalian bikin settingan lagi supaya Aksa lamar aku?”
“LAMAR??”
“Nik, nggak usah akting deh, aku tau ini pasti kerjaan kalian!”
“Gue nggak tau apa-apa, Na. Gue baru aja balik dari Bandung. Karena Aksa nggak ada agenda syuting hari ini, dia bilang sih mau kuliah karena ada ujian.”
“Nggak mungkin kamu nggak tau tentang ini!”
“Serius. Oke, gini aja. Lo di mana sekarang? Biar gue jemput, dan kita bicara.”
“Lo tunggu di sana. Gue ke sana sekarang bawa bala bantuan.”
Klik.
Zanna menghempaskan tubuh di sofa, dan menoleh ke pintu. Terdengar ribut-ribut di luar pintu, dan banyak bayangan hitam dari celah pintu menandakan di depan pintu banyak orang.
Ya Allah… semoga Niko cepat datang, doanya.
***
Setelah setengah jam, berhasil juga Zanna masuk mobil Niko dibantu dua asisten Aksa.
“Gue emang rencanain dia buat baikan sama lo.” Niko memulai pembicaraan sambil menyetir. “Tapi yang gue rencanain bukan ngelamar. Dan nggak secepat ini.”
“Lalu dia apa-apaan tadi? Bikin aku malu.” Zanna terlalu capek untuk marah. Nafasnya pun jadi sesak. Tapi tidak mungkin ia buka kancing kemeja di depan Niko.
“Gue juga belum bisa hubungin dia. Lo tau dia ke mana?”
“Mana aku tau. Abis ujian aku langsung ngehindar dari dia.”
“Jadi lo nggak liat dia?”
Zanna menggeleng dan melepas ikat rambutnya.
Niko memperhatikannya menggerai rambut. “Na, gue boleh kasih saran?”
“Apaan?”
“Mending lo ganti model rambut deh.”
“Buat apaan?”
“Ya lebih bagus aja. Menurut gue model rambut lo terlalu kaku.”
“Emang apa urusannya aku ganti model rambut?”
“Gini Na, sekarang lo jadi sorotan publik. Lo juga denger kan komentar fans-fans Aksa tentang lo? Cewek yang kaku, biasa aja, dan terlalu polos. Walau lo bilang nggak peduli, tapi gue yakin lo keganggu sama komentar mereka. Jadi gue saranin, lebih baik lo ganti penampilan. Minimal lo nggak terlalu diremehin orang-orang.”
__ADS_1
Zanna tercenung, ada benarnya yang Niko bilang. “Tapi aku nggak punya uang lebih buat itu.”
“Lo tenang aja. Untuk biaya biar gue yang tanggung. Lo cukup ikutin, gue jamin lo aman.”
“Tapi Aksa…?”
“Ada bagusnya dia ngejauh. Jadi lo punya waktu make over semua. Oke. Kita ke salon sekarang.”
“Eh Nik, tapi sebelum itu, tolong anter aku ke suatu tempat. Aku harus ngurus kerjaanku sebentar aja.”
“Di mana?”
“Di jalan Rasuna Said.”
“Oke gue anter ke sana.”
Zanna memalingkan pandangan ke luar kaca mobil. Kenapa dia merasa sulit menolak kemauan Aksa?
Meski cowok itu jelas-jelas bersikap kurang sopan, tapi entah kenapa dia jadi terbawa perasaan.
***
Tidak ada yang lebih membuat Aksa kaget selain kemunculan Zanna di lokasi syutingnya sore itu.
Wajahnya tidak bisa disembunyikan sehingga scene syuting gagal lagi.
“CUT! Sa, lo kenapa jadi nggak fokus sih? Kita dikejar jam tayang nih. Jangan bikin gue naik darah deh! Sekali lagi, dan gue nggak mau ada salah!”
Peringatan dari sutradara cukup keras mengingat hanya Aksa yang kurang serius.
“Sorry Mas, bisa minta waktu lima menit?”
Sutradara terlihat kesal, tapi mengiyakan. “Oke. Break lima menit!”
Aksa langsung menghampiri Zanna. “Kamu?”
Zanna langsung heran, Aksa bisa “aku-kamu” meski mereka cuma berdua.
“Ini… apa?”
“Aneh?” tanya Zanna datar. Ia tahu Aksa pasti terkejut lihat penampilan barunya. Niko membantunya untuk merubah penampilan. Dari mulai gaya rambut dan baju. Rambut panjangnya dipotong layer sebahu. Wajahnya juga diberi sedikit make up. Dress selutut dengan lengan panjang cukup membuat Aksa jadi terpesona.
Aksa sampai tidak bisa berkata-kata.
“Aku ke sini cuma mau anter ini buat kamu.” Zanna memberikan kotak makanan. “Semoga kamu suka. Soalnya aku yang masak.”
Meski bingung, Aksa menerima dan membuka kotaknya. Tak lama para fans menyerbu mereka dan heboh melihat isinya.
Nasi goreng dengan ukiran telur dadar di atasnya membentuk hati.
Aksa menatapnya heran.
Tanpa peduli semua orang memotretnya terutama mengambil gambar makanan buatannya, Zanna tersenyum sekilas. “Aku pergi dulu ya.”
Aksa mau mencegah, ketika sutradara berteriak syuting akan mulai.
Zanna bertemu Niko di depan rumah lokasi syuting, dan mengacungkan jempol.
“Sukses pastinya Aksa terpesona sama lo.”
“Tapi gimana kalo dia makin nggak fokus syuting?” tanya Zanna.
“Kita liat aja nanti. Sekarang mending gue anter lo pulang. Jangan keluar rumah kecuali urusan pekerjaan lo. Nanti gue bakal kabarin perkembangannya.”
Zanna jadi heran. “Kenapa kamu jadi ngatur semua kegiatan aku?”
Niko memegang bahu Zanna. “Gue berusaha supaya Aksa bersikap lebih baik sama lo. Karena gue nggak tega liatnya. Dengan lo bersikap perhatian sama dia, gue yakin dia jadi mikirin lo terus. Dan bisa bersikap baik sama lo.”
Zanna bergidik ngeri. “Maksud kamu, Aksa jatuh cinta gitu?”
“Mungkin.”
Membayangkan harus benar-benar pacaran dengan Aksa saja Zanna tidak berani. Settingan saja sudah jadi bulan-bulanan netizen. Apalagi jadi pacar beneran, bisa nggak tenang hidupnya.
Tapi kenapa dia jadi mikirin Aksa juga?
***
__ADS_1