Pacar Settingan

Pacar Settingan
Bab 15


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Aksa tidak masuk kuliah. Padahal sejak dapat peringatan dari kampus, Aksa rajin masuk. Jadwal syuting pun disesuaikan dengan jadwal kuliahnya.


Mulanya hal itu biasa saja. Tapi lama-lama membuat Zanna gelisah, cemas memikirkan apa yang terjadi pada cowok itu.


HP-nya tidak bisa dihubungi. Coba menghubungi Niko pun tidak ada respon.


Ia jadi galau, merasa digantung tanpa kejelasan. Sampai tidak berani berinteraksi di dunia maya karena tidak tahan membaca komentar-komentar pedas dari fans Aksa yang menjadi haters-nya Zanna.


Setelah pekerjaannya selesai, ia segera pulang. Agar tidak ketahuan banyak orang, Zanna pesan ojek online dan pergi menggunakan masker menutup wajahnya.


Pikirannya semrawut tak karuan.


Sampai di rumah, ia heran melihat Cici duduk di ambang pintu, dengan wajah lesu. Kentara banget Cici lagi ada masalah.


“Ci, ngapain di sini?”


Cici tidak menjawab, malah makin kosong pandangan.


Zanna jadi kuatir Cici kesambet. Harus ambil tindakan secepatnya.


“Duuuuhh…!” jerit Cici sambil memegang hidungnya. “Zanna apaan sih emang idung Cici jemuran apa dijepit-jepit!”


Zanna tertawa geli. Sejak dulu kalau Cici sudah mulai melamun, Zanna langsung memencet hidungnya keras-keras supaya dia sadar.

__ADS_1


“Eh anak gadis nggak bagus lho diem di pintu begini. Pamali.”


“Pamali kenapa? Bakal jauh dari jodoh gitu?”


“Bukan. Ya pamali, ngehalangin pintu. Aku mau masuk nih! Minggir deh!”


Cici cemberut dan menggeser, membiarkan Zanna masuk.


“Na, Cici mau curhat nih.”


“Curhat apaan?” sahut Zanna dari dalam kamar. Tak lama ia keluar sudah ganti baju, sambil menggulung rambut pakai tusuk rambut.


“Kayaknya Cici sama Abid mau pindah aja dari sini, Na.”


Zanna kaget. “Pindah? Kenapa?”


“Kenapa nggak bilang sih, Ci? Aku kan bisa bantu. Nggak perlu kamu sama Abid pindah dari sini.” Zanna coba menghibur.


“Tapi Cici nggak bisa bayar untuk dua bulan ke depan, Na. Soalnya Cici udah kasbon gaji dua bulan ke bos, untuk biaya ibu.”


Zanna terdiam, mau nggak mau dia ketempuhan juga. Kalau Cici dan Abid pergi, mereka mau tinggal di mana?


Tapi kalau pun mereka pergi, toh Zanna harus berjuang sendiri mencari dana tambahan untuk biaya kontrakan.

__ADS_1


Lagipula kasihan mereka kalau terlantar di Jakarta.


“Kontrakan dua bulan ke depan nggak usah kamu pikirin, Ci. Aku akan usahain. Tapi kamu sama Abid nggak perlu pindah.”


“Tapi Cici nggak enak sama Zanna.”


“Kita kan saudara, Ci. Kalau Cici sama Abid pergi yang nemenin aku di sini siapa?”


Cici langsung menangis. “Maafin Cici ya. Zanna baik banget sama Cici.”


“Tapi dengan syarat, kalau ada berita tentangku yang bocor ke orang lain dari kamu, aku bisa marah banget lho.” Untuk makhluk cerewet kayak Cici emang perlu ‘ancam’ sedikit.


“Iya Cici janji, Na.”


Setelah itu, Zanna berpikir lagi, bagaimana mendapat uang dalam waktu cepat?


Karena pemilik kontrakan terkenal tepat waktu, jika sudah waktunya bayar kontrakan, sudah diwanti-wanti sejak seminggu sebelumnya. Jika ia telat, sadisnya ia bisa diusir. Terutama karena banyak juga yang ingin mengontrak di rumah bagus yang tidak terlalu mahal ini.


Pinjam pada Pak Randy?


Dia merasa tidak enak akhir-akhir ini selalu membuat kesalahan dalam pekerjaannya.


Kalau sudah begini, ia harus memikirkan cara lain untuk mendapat uang.

__ADS_1


“Ci, kamu bilang di tempat kamu ada lowongan?”


***


__ADS_2