Pacar Settingan

Pacar Settingan
Bab 21


__ADS_3

“Ternyata lo yang coba rebut dia dari gue!”


Aksa kaget disambut Adnan dengan amarah yang tidak diduganya. Adnan berdiri tanpa kursi rodanya!


“Bang, kaki lo udah sembuh?!” Aksa surprise.


BUKKKK!!


Bukannya jawaban, malah pukulan yang diterimanya telak hingga tersungkur ke belakang.


Baru mau maju, Adnan terjatuh lagi.


“Brengsek lo! Beraninya lo lamar dia di depan semua orang! Lo kan tau dia pacar gue!”


Aksa menyeka darah di bibirnya. Pukulan Adnan penuh kemarahan.


“Ada apa ini?” Mama datang langsung kaget melihat dua anaknya terkapar di lantai.


“Kenapa Mama nggak pernah cerita sama aku?” Adnan masih emosi.


“Cerita apa, Nak?”


“Aksa mau nikahin Rapunzel. Ini semua ide Mama kan?!”


Mama kaget. “Nikah? Sa, apa bener?”


Aksa berdiri sambil membalas tatapan Adnan. “Benar, Ma. Aku udah lamar Rapunzel.”


“Ya Allah.. Nak, kamu bisanya bikin masalah. Mama nggak pernah setuju ya kamu berhubungan dengan perempuan itu. Apalagi kalian berdua sampai berantem gara-gara dia. Mama nggak ikhlas dan nggak akan restuin pernikahan kamu.”


“Aku udah gede, Ma. Aku berhak bikin keputusan sendiri.”

__ADS_1


“Meski begitu kamu tetap anak Mama. Dan Mama tidak merestui hubungan kalian. Segera mungkin kamu tinggalkan dia.” Mama membantu Adnan duduk di kursi roda dan membawanya ke kamar.


Mama sudah mengetahui Zanna yang meninggalkan Adnan dulu. Itu sudah cukup alasan Mama membencinya.


Namun Aksa tidak peduli.


Menurutnya ini harus diselesaikan dengan caranya.


Jika Adnan mengetahui maksud dan tujuan Aksa, Adnan pasti berterimakasih padanya. Karena sudah membalaskan dendam pada Rapunzel.


Tapi kenapa hatinya tidak rela?


***


Sepuluh hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Zanna pulih dan diperbolehkan pulang. Walau dianjurkan agar banyak istirahat.


Tapi harapannya untuk segera berbaring di kasurnya yang nyaman ternyata tidak tersambut.


“Lho, Ibu?” Zanna surprise juga lihat Mamanya Aksa.


Mama mendelik tidak suka.


“Sudah lama, Bu?” Zanna hendak cium tangan namun ditepis.


“Kamu tidak usah bersikap sok manis. Saya tetap tidak suka.”


Zanna menelan ludah. “Silahkan masuk, Bu?”


“Saya nggak lama.”


“Ngg kalau begitu silahkan duduk.”

__ADS_1


“Tidak perlu. Saya nggak akan basa-basi lagi.” Mama mengeluarkan amplop tebal dari tasnya. “Ambil ini.”


Zanna menerima dan membuka isinya. Segepok uang. “Ini untuk apa, Bu?”


Mama membelakanginya, dengan wajah sinis. “Putus dengan anak saya. Bagaimanapun juga saya tidak akan merestui pernikahan kalian. Kamu ambil uang ini, dan pergi dari kehidupan anak saya.”


Zanna menggeleng dan mengembalikannya. “Maaf saya tidak bisa terima ini, Bu. Saya juga tidak bisa meninggalkan Aksa.”


“Kamu emang tidak tahu diri ya! Belum puas kamu bikin anak saya menderita, dan sekarang kamu mau mempermainkan adiknya?”


“Ibu bicara apa? Saya tidak mengerti.”


“Nggak usah sok bodoh kamu ya! Setelah kamu campakkan kakaknya Aksa, sekarang kamu mau berbuat yang sama pada Aksa? Kenapa ada wanita sejahat kamu?”


Zanna tidak mengerti arah pembicaraan Mama. “Campakkan kakaknya Aksa? Bu, saya saja tidak kenal dengan kakaknya Aksa.”


“Masih saja pura-pura. Anak saya jadi depresi gara-gara kamu. Saya nggak akan biarin kamu permainkan Aksa juga. Mulai sekarang, jauhi Aksa. Batalkan pertunangan kalian, atau saya akan hancurkan hidup kamu!”


“Bu.. tapi saya benar-benar nggak kenal kakaknya Aksa,” Zanna makin panik, ketika mamanya Aksa pergi.


Mama tidak peduli penjelasannya.


Air matanya menitik, apa benar dia melakukan kesalahan yang tidak diingatnya?


Kepalanya mulai sakit lagi. Ia berbalik hendak masuk rumah, ketika tiba-tiba bahunya ditepuk dari belakang.


“Kita perlu bicara, Na.”


Gita!?


Zanna ingin menolak, tapi penasaran apa yang ingin Gita sampaikan.

__ADS_1


***


__ADS_2