Pacar Settingan

Pacar Settingan
Pacar Settingan - Bagian 17


__ADS_3

Perlahan, semua mulai membaik. Ada rasa nyaman, dan takut. Rasa yang dipagarinya sejak lama tidak mampu ditahannya.


Memandangi gadis itu tertidur di pundaknya, membuatnya merasa begitu bahagia.


“Ehmmm…”


Aksa kaget. Niko memandangnya usil dari kaca spion.


“Dalem banget tatapannya. Gue ampe baper nih.” Niko meledeknya sambil menyetir.


“Berisik lo!” semprot Aksa tertahan. “Ntar dia bangun.”


“Nggak akan bangun. Barusan kan dia minum obat flu. Dijamin pules sampe malem.” Niko masih meledek. “Ngaku deh, kalian ngapain aja semalaman nginep berduaan?”


“Eh sekate-kate lo, gue nggak ngapa-ngapain. Kayak nggak tau gue aja.”


Niko terkikik geli. “Bisa jadi hot news nih. Perkasa Harinanda nginep berdua di gubuk tengah hutan sama tunangannya.”


“Sembarangan lo kalo ngomong! Gue nggak berduaan sama dia. Ada Kakek Amin dan Nenek Ningrum pemiliknya kok.”


“Tapi tetep aja, kalo ini disebar, gue yakin pamor lo meledak kayak kembang api. Hari gini nginep di gubuk? Kalo di vila gue masih maklum. Kreatif amat sohib gue ini.” Niko makin semangat meledek melihat wajah Aksa memerah.


“Awas lo ya kalo sampe kesebar!” Aksa melirik Zanna yang masih tidur pulas di pundaknya. “Gue nggak mau dia kena masalah lagi.”


“Cieee… benci jadi cinta nih kayaknya?”


BUGGHHH!


“Duuhh kira-kira dong gue lagi nyetir,” omel Niko kena bogem mentah Aksa.


“Lo yang kira-kira! Kalo dia denger gimana?”


Niko langsung mingkem walau belum puas godain sahabatnya.


***


Semenjak salah paham antara mereka bersih, bukan berarti keadaan lebih baik.


Demi Senna, Zanna memutuskan untuk lebih dekat dengan Adnan. Membersihkan nama Senna di mata orang yang dicintai.


Walau tidak mudah meyakinkan Adnan, tapi Zanna tidak putus asa.


Mulanya Adnan marah sekali dan kerap mengusirnya. Tapi Zanna terus datang dan berusaha menjelaskan tentang Senna.


“Ngapain lagi kamu datang?!”


Sapaan Adnan terlontar lagi, lebih tepatnya bentakan keras.


Zanna mendekatinya membawa bungkusan. “Kamu udah makan?”


Adnan tidak menjawab, ekspresinya jelas marah.


“Ini aku bawain bakmi kesukaan kamu. Kata Senna kamu suka banget sama bakmi.”


Adnan terkesiap dan memandang Zanna.


“Aku cuma denger dari Gita.” Zanna menambahkan. “Senna banyak cerita sama Gita tentang kamu. Jangan tersinggung ya.”


“Sampai kapan kamu mau pura-pura, Senna?” Adnan menatapnya tajam. “Kamu tinggal jujur sama aku alasan kamu pergi.”


“Aku bukan Senna.” Zanna menatapnya lurus. “Dan aku nggak bohong. Aku ini Zanna, saudara kembar Senna. Kami nggak saling kenal karena kami diadopsi orangtua yang berbeda.”


Adnan mendengus kesal. “Bisa banget ngarang cerita.”


Zanna memegang tangan Adnan. “Kalo kamu masih nggak percaya, kamu bisa lihat aku, Nan.”


Adnan terdiam dan menatap mata Zanna dalam-dalam.


“Kalo kamu cinta sama Senna, mana mungkin kamu salah mengenal dia. Aku dan Senna berbeda. Hanya fisik kami yang sama. Senna itu mencintai kamu, aku yakin kamu nggak lupa kan tatapan Senna setiap melihat kamu.”


Kenapa aku nggak lihat kamu di mata gadis ini, Rapunzel? Batin Adnan terpukul.


“Sekarang apa lagi yang kamu ingat tentang Senna?” tanya Zanna. “Apa lagi yang perlu aku buktikan kalau aku bukan Senna.”


Mata Adnan mulai berkaca-kaca. “Senna punya bekas luka di balik telinganya.”


Tanpa pikir panjang, Zanna menyibakkan rambut dan memperlihatkan telinganya.


Air mata Adnan jatuh melihat tidak ada bekas luka pada kedua telinga Zanna.


“Mana mungkin nggak ada? Luka itu nggak akan bisa hilang.” Adnan tidak percaya. “Waktu kami OSPEK masuk SMA, aku jelas lihat ada senior yang ngelukain Senna dengan rokok. Cuma karena Senna nolak hukuman. Telinganya luka parah. Bahkan bekas luka di balik telinganya nggak hilang.”


“Karena aku bukan Senna.” Zanna menegaskan. “Tolong kamu jangan begini, Adnan. Kasian Senna. Dia sudah meninggal. Tepat ketika kamu kecelakaan.”


Lalu Zanna menceritakan yang didengarnya dari Gita. Beserta catatan medis yang didapat Niko tentang Senna. Kalau Senna sudah meninggal. Karena kelumpuhan otak yang dideritanya setelah jatuh dari tebing. Tapi Zanna tidak bercerita tentang ginjal yang Senna donorkan pada Adnan. Adnan pasti jauh lebih terpukul kalau tahu.


“Bukan cuma kamu, Nan. Tapi aku juga terpukul dengan kematian Senna.” Mata Zanna mulai berkaca-kaca. “Bahkan aku iri sama kamu yang udah kenal Senna sejak lama. Aku nggak pernah tau aku punya saudara kembar. Tapi aku berterima kasih pada adik kamu, Aksa. Dia yang bantu aku cari kebenaran tentang saudara kembarku. Dan aku harap kamu jangan menyalahkan Senna lagi. Dia sudah tenang di Sana.”


Adnan berharap yang dikatakan Zanna adalah kebohongan. Tapi yang dilihatnya hanya kejujuran.

__ADS_1


Zanna mulai terisak mengingat Senna.


Tiba-tiba tangan Adnan membelai kepalanya.


Mereka saling bertatapan dengan mata sembab.


***


Malam sudah larut ketika Zanna baru tiba di kontrakan.


Sepertinya Cici udah tidur. Terang aja udah jam 10 malem.


Selesai mandi dan ganti baju, Zanna duduk di kasur sambil memandangi foto Senna bersama Adnan ketika hari kelulusan SMA di mana seragam SMA mereka penuh coretan pilox.


Air matanya jatuh, hatinya sakit bukan main.


“Kamu yang tenang di Sana, ya Senna. Meski aku sedih kita belum sempat kenal, tapi aku lega mengetahui yang sebenarnya kalau kamu memang sudah nggak ada. Andai kita sempat bertemu, mungkin aku nggak akan merasa kehilangan seperti sekarang. Kehilangan sebelum aku memiliki kamu.”


Ia memeluk foto Senna dan berbaring.


Matanya tertuju pada cincin yang melekat di jari manisnya. Ia teringat pada Aksa.


Sudah berhari-hari ia tidak bertemu dengan Aksa. Sejak kejadian di hutan.


Tiba-tiba HP-nya berdering nyaring hingga ia kaget.


Aksa!


Baru aja dipikirin udah nelepon, batinnya senang. “Halo, Aksa?”


“Halo, Na. Belum tidur?” suara Aksa datar seperti biasa.


“Belum. Kamu lagi di mana?”


“Airport.”


Zanna kaget. “Airport? Kamu mau pergi?”


“Bukan. Aku baru balik dari Singapore. Urusan kerjaan.”


“Oh.. kirain…”


“Denger-denger kamu udah baikan sama Bang Adnan?”


“Tau dari mana?”


“Mama yang cerita.”


“Aku cuma pengen Adnan nggak salah paham lagi sama Senna, Sa,” jelas Zanna.


“Baguslah. Setidaknya dia nggak bakal ngamuk-ngamuk kayak sebelumnya. Aku harus pulang.”


“Kamu mau ke rumah mama kamu?”


“Malam ini aku nginep di rumah Niko. Besok aku ke rumah mama.”


“Oke. Hati-hati di jalan.”


***


Telepon diputus.


Aksa memandangi HP-nya, sendu.


“Sa, yuk balik. Mobilnya udah dateng.” Niko menegurnya yang melamun.


Tanpa banyak bicara, Aksa mengikuti Niko masuk mobil.


Tak lama mobil meluncur meninggalkan kawasan bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng.


“Abis nelepon siapa? Kok muka lo sedih gitu?” tanya Niko.


“Zanna,” jawab Aksa singkat.


“Kenapa dia? Marah gara-gara lo nggak bilang pergi ke Singapore?”


Aksa tidak menjawab.


Niko menduga ada yang tidak beres. “Lo belum bilang sama Zanna?”


Aksa menoleh. “Bilang apaan?”


Niko berdecak. “Berlagak bloon. Ya bilang perasaan lo lah. Gue tau lo naksir berat sama Zanna.”


“Apaan sih lo?” pipi Aksa memerah.


“Nggak usah ditutupin lagi. Lo tuh udah kebaca banget. Saran gue nih, secepatnya lo bilang sama Zanna. Kalo kelamaan, direbut Bang Adnan tau rasa lo.”


“Kok lo jadi ngomporin gue? Emangnya Bang Adnan suka juga sama dia?”

__ADS_1


“Bisa jadi. Mukanya aja sama banget sama Senna. Nggak ada jaminan dong abang lo move on ke sodara kembar ceweknya?”


Aksa berpikir lalu menggeleng. “Lo salah, Abang gue tuh setia. Gue rasa nggak segampang itu dia jatuh cinta sama kembaran ceweknya.”


“Masa’ iya? Eh gue kasih tau ya. Jangan ngeremehin cewek kayak Zanna. Dia tu mandiri, dewasa, pinter banget lagi. Dari sejak kuliah dia dapet beasiswa. IP-nya selalu tertinggi di angkatannya. Makanya dia diangkat jadi asisten dosen professor Randy. Yang paling menarik, dia tu belum pernah pacaran.” Niko semangat mempromosikan Zanna.


Aksa jadi penasaran. “Lo tau dari mana dia belum pernah pacaran?”


“Ya gue investigasi kehidupan dia lah. Dari sikapnya juga ketauan dia masih polos soal pacaran.”


“Ah gue nggak percaya. Hari gini masa’ ada cewek umur 25 belum pernah pacaran?”


“Yang naksir sih banyak. Cuma ya itu terlalu jenius untuk dideketin. Kadang kita juga kalo ngadepin cewek yang lebih pinter ada mindernya kan.”


Aksa merenungkan kata-kata Niko. Apa timing-nya tepat gue ngomong sama Zanna tentang perasaan gue?


“Nggak usah ragu lagi, Sa. Kalo lo ketemu dia, jangan buang waktu, lo nyatain cinta lo sama Zanna.” Niko memberi semangat.


“Tapi…” Aksa masih ragu. “Kalo dia nolak gue gimana?”


Niko geleng-geleng kepala. “Cetek amat sih mental lo. Belum terjun perang udah bendera putih duluan. Gimana lo bisa tau bakal ditolak? Eh denger ya, menurut gue Zanna malah nunggu lo nyatain ke dia.”


“Masa’?”


“He-eh.”


“Emang menurut lo dia suka juga sama gue?”


“Keliatannya sih. Cuma menurut gue, dia terlalu takut dimainin sama lo.”


“Jadi gue mesti gimana?”


“Errggghh… gue telen juga lo lama-lama. Ya tembak dia lah! Emang dari tadi gue ngomong apaan? Pokoknya gue nggak mau tau, begitu lo ketemu Zanna, nyatain cinta lo sama dia. Gue nggak mau kerjaan kita berantakan gara-gara lo galau mikirin Zanna mulu.”


Aksa tercenung memikirkan semua kejadian bersama Zanna.


Dengan sikapnya yang semena-mena dulu, apa Zanna bakal maafin dan terima dia?


***


Rencana manis yang sudah disusun semalaman ternyata tidak seindah bayangannya.


Paginya begitu Aksa sampai di rumah dan melihat sepatu Zanna di depan pintu, hatinya begitu gembira karena akan bertemu gadis pujaannya.


Sambil membawa setangkai bunga cantik, ia bersemangat masuk rumah.


“Kok sepi?” Aksa celingukan.


Langkahnya sampai di taman belakang rumah.


“Lho itu Zanna? Sama … Bang Adnan?” Aksa terpaku melihat mereka.


Sepertinya Zanna dan Adnan belum menyadari kehadiran Aksa.


Adnan duduk berhadapan dengan Zanna. Tangan mereka bertautan. Tatapannya begitu dalam.


Perasaan Aksa mulai tidak nyaman. Apa mungkin…?


“Will you marry me?”


Pluk!


Bunga terjatuh di lantai, bertepatan dengan lamaran Adnan yang terlontar.


Tubuh Aksa menegang.


Bang Adnan ngelamar Zanna?


Nggak! Ini nggak mungkin!


Na, gue sayang sama lo, please jangan terima lamaran Bang Adnan!


Aksa merasakan tubuhnya lemas ketika Zanna menatap Adnan penuh kasih dan berkata “I will.”


Hancur sudah!


Kenapa begini?


Aksa tidak sanggup berlama-lama berdiri, ia segera berbalik pergi membawa hati yang hancur.


Apa gue terlalu lama buat nyatain sama lo, Na? Makanya lo terima lamaran Bang Adnan!


Aksa melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Berharap sakit hatinya berkurang.


Tapi makin lama sakit terasa.


Tanpa terasa air matanya menetes.

__ADS_1


***


__ADS_2