
“APA!?”
Reaksi Aksa super kaget dengar kabar dari Niko.
“Dia berani ancam gue balik?”
Untung saja ruang make-up hanya ada mereka berdua.
“Lo mestinya nyadar yang lo hadapin bukan cewek sembarangan. Dia cerdas, bisa memutarbalikkan keadaan.”
“Trus lo nyerah gitu aja? Gimana dengan reputasi gue?”
Niko menatapnya aneh. “Bukannya bagus kalo dia ngelawan? Ini bisa jadi alasan lo putusin dia.”
“Maksud lo apa? Gue belum puas masa’ harus putusin dia?”
“Gue rasa ini saat yang tepat lo bawa dia ketemu Bang Adnan. Sebelum kondisi Bang Adnan makin parah. Barusan Mama nelpon gue ngabarin Bang Adnan berusaha kabur dari rumah sambil terus manggil Rapunzel.”
Aksa kaget. “Mama bukannya hubungin gue?”
“Karena lo terlalu sibuk sama dendam lo doank buat bikin Zanna menderita. Lo harus temuin dia sama Bang Adnan, dan setelah itu lo lepas berita hubungan kalian putus.”
“Terlalu gampang buat dia!” seru Aksa. “Dia harus ngakuin dulu kesalahannya sama Bang Adnan.”
Niko terdiam dan hati-hati bertanya. “Lo yakin Zanna yang salah ninggalin Bang Adnan?”
Aksa mendengus kesal. “Kenapa harus nggak yakin?”
“Mungkin dia ada alasan lain.”
“Apapun itu, dia udah bikin Bang Adnan kayak begini. Gue nggak peduli apapun alasannya.” Aksa beranjak meninggalkan ruang rias menuju studio tempat syuting talkshow yang mengundangnya jadi bintang tamu.
Niko masih penasaran akan satu hal. Ekspresi Zanna waktu itu.
“Kenapa dia nggak bereaksi begitu gue tunjukin gambar Rapunzel?”
***
Suasana malam di Jakarta seperti biasa, ramai dan macet. Zanna meninggalkan kontrakan diam-diam, ingin bertemu seseorang yang janjian dengannya.
“Maaf ya telat.” Zanna masuk mobil.
Cowok itu tersenyum memandang Zanna. “Nggak pa-pa. Gara-gara foto itu kamu jadi kesulitan bepergian ya?”
Zanna angkat bahu. “Semua yang aku jalanin jadi sulit karena kejadian aku difitnah mencuri.”
“Aku bisa bantuin kalau kamu ingin bebas dari dia.”
__ADS_1
“Belum perlu. Aku harus bertahan ikutin permainan dia. Sampe dia ngaku sendiri maksud dan tujuannya.”
“Tapi aku nggak tahan liat kamu diperlakukan begitu.”
“Aku baik-baik aja kok. Meski sakit hati dan tertekan sama perlakuan dia, tapi aku harus bertahan. Mungkin aku hanya punya waktu 3 bulan untuk selesaikan masalahku sama dia.”
“3 bulan? Kenapa?”
“Waktuku udah nggak banyak. Tapi aku harap bisa ketemu sama dia.”
Untuk beberapa saat, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Lalu cowok itu meraih tangan Zanna. “Tapi kita masih bisa ketemu kan?”
Zanna menggenggam tangannya. “Pastinya. Setelah sekian lama aku bisa nemuin orang yang berarti buatku. Makasih ya.”
Cowok itu tersenyum dan mengelus kepala Zanna penuh sayang. “Aku akan selalu ada buat kamu.”
Tanpa mereka tahu, ada sepasang mata mengintai dari kejauhan dan menyaksikan adegan di dalam mobil.
***
Ada yang aneh dengan Aksa.
Itu yang dirasakan Niko dan dua asistennya.
Aksa uring-uringan tidak jelas dan sering mengulang scene ketika syuting sinetron.
Sutradara mulai kesal karena Aksa tidak kunjung fokus. “Sa, lo kenapa sih? Ini udah kesepuluh. Lo masih salah-salah juga?”
Aksa menarik nafas sejenak. “Sorry Mas, bisa sekali lagi?”
“Oke. Ini kesempatan terakhir. Atau lo kena peringatan dari gue. Semua stand by!”
Aksa meregangkan otot lehernya dan menarik nafas. Berusaha fokus.
“ACTION!”
Niko yang memperhatikan jadi bingung. “Dia kenapa ya? Nggak biasanya dia begini.”
“Mas Aksa dari tadi emang gitu, Mas. Marah-marah nggak jelas.” Windi berkomentar.
“Marah gimana?”
“Tadi Windi bawain kopi, eh dia malah marah dan nyuruh Windi buang kopinya, katanya nggak suka. Padahal kan tiap pagi juga Mas Aksa cuma mau minum itu.”
“Sama, Mas. Barusan juga saya kena marah gara-gara salah bawain cheeseburger saus mayonnaise-nya kebanyakan.” Boim menambahkan.
__ADS_1
“Kayaknya Mas Aksa lagi galau.”
“Iya juga sih, nggak biasanya dia marah karena hal-hal sepele gitu. Tapi kalian liat dia abis dari mana tadi? Soalnya dia bawa mobil sendiri.”
“Lagi sariawan kayaknya, Mas. Dari tadi ditanya diem aja.”
Pembicaraan mereka terhenti karena Aksa sudah selesai scene terakhir. Walau sutradara terlihat belum puas, tapi menyerah melihat Aksa begini.
“Lo kenapa sih?” tanya Niko langsung.
Aksa membuka jaket dan menyerahkan pada Windi. “Gue lagi suntuk. Balik yuk?”
“Lo nggak mau makan dulu?”
“Nggak selera.” Aksa berjalan menuju mobil.
Sementara Windi dan Boim sibuk membereskan semua barang Aksa.
Niko langsung menyusulnya. “Tapi lo belum makan dari pagi.”
“Gue nggak nafsu makan.”
Niko heran. “Lo ada masalah?”
Aksa memakai kacamata hitamnya. “Ke mana tu Rapunzel?”
“Ngapain lo cari Zanna? Dia kan lagi nggak boleh ketemu lo. Skandalnya dengan Aris masih jalan.”
Aksa mendengus kesal. “Gue nggak mau tau, gimana pun caranya bikin skenario dia minta maaf sama gue.”
“Gue nggak bisa ngelakuin itu, Sa. Dia nggak bisa kita manfaatin lagi. Dia mau ketemu lo kalo lo mau dateng minta maaf ke dia.”
“Dia udah gila? Mana mungkin gue mau.”
Niko jadi bingung. “Ya udah, kita kelarin kalo gitu. Posisinya sekarang publik masih anggep Zanna selingkuh. Dan Zanna udah bodo amat. Itu pengaruh sama karir lo. Ada komentar negatif maupun positif untuk Zanna. Ada yang bilang dia berani ninggalin lo tanpa peduli lo artis. Itu ngebuktiin Zanna bukan cewek yang gila popularitas. Dan pamor lo jatoh karna dibuang sama cewek yang umurnya lebih tua dari lo.”
“Lho kok? Lo diem aja denger komentar begitu tentang gue?”
“Makanya lo dengerin gue. Kalo lo masih ngotot pengen lanjutin bales dendamnya Bang Adnan, kita harus ganti cara. Mulai sekarang, lo baik-baikin Zanna. Lo harus bersikap lebih baik.”
Baru Aksa mau menjawab, Niko lebih dulu menyela.
“Itu juga kalo lo mau popularitas lo selamet. Karena banyak juga dukungan buat Zanna yang udah ninggalin lo.”
Aksa mengepalkan tangan keras. “Apa ada pilihan lain?”
“Sayangnya nggak ada.”
__ADS_1
Masa’ gue mesti acting juga di depan dia? Batin Aksa kesal.
***