Pacar Settingan

Pacar Settingan
Bab 14


__ADS_3

Jelas Zanna sadar Mama tidak menyukainya. Terlihat dari cara Mama memandangnya. Tapi apa daya kalau dia dipaksa datang.


“Na!”


Ia kaget dan lihat kanan-kiri. Siapa yang memanggilnya barusan?


Sepertinya bukan suara Aksa.


“Silahkan diminum.” Tiba-tiba muncul Mama membawakan dua cangkir teh.


“Terima kasih, Bu. Mohon maaf jadi merepotkan.” Zanna membantu menyusun cangkir di meja.


Mama tersenyum tipis dan duduk di hadapan Zanna.


Tatapan Mama membuat perasaannya tidak nyaman.


“Sejak kapan Nak Zanna berhubungan dengan Aksa?”


Mulai interogasi nih kayaknya.


“Sudah dua tahun lebih, Bu.” Untung dia sudah hafal skenario yang disusun Niko dan Aksa seputar settingan mereka.


“Bagaimana kalian bisa kenal?”


Dengan lancar Zanna bercerita skenario mereka, berkenalan di Bali ketika Zanna datang untuk workshop, dan Aksa ada agenda syuting. Lalu sejak pulang ke Jakarta Aksa rajin menghubunginya, dan mengajak bertemu. Awalnya dia ragu dekat dengan artis. Tapi karena Aksa terus mendekatinya, akhirnya ia menerima pernyataan Aksa untuk menjadi pacarnya.


“Apa kamu ada tujuan tertentu berpacaran dengan anak saya?”


Zanna kaget, pertanyaan Mama tidak diduganya. Duuh jawab apa nih, ia mulai panik.

__ADS_1


“Ma, laper nih, makan yuk!” Kemunculan Aksa menyelamatkan suasana.


“Oh ya udah Mama siapin.” Mama ngeloyor ke dapur tanpa melihat Zanna.


Sungguh Zanna sakit hati dengan perlakuan Mama.


Aksa duduk di sampingnya. “Jangan baper. Mama emang begitu orangnya. Kurang berkomunikasi sama orang. Dia cuma kaget aja kenalan sama kamu.”


“Aku di sini bukan kemauan sendiri. Walau cuma pura-pura, tapi aku nggak harap dapat perlakuan sinis dari Mama kamu, Sa.”


“Iya aku tau. Tapi kalian baru kenal. Ntar lama-lama juga kamu terbiasa.” Aksa menggamit tangan Zanna. “Yuk makan.”


“Makan?” Zanna heran. “Emang Mama kamu ngajakin aku?”


“Aku yang ajakin kamu. Jangan belagak nolak deh.”


“Enggak deh makasih. Aku nggak laper.”


Aksa bengong, pipi Zanna memerah malu.


Duuhh… ni perut kenapa pake bunyi, lagi! Rutuk Zanna malu.


Aksa menahan senyum. “Atau kepengen masuk rumah sakit lagi gara-gara nggak makan?”


Akhirnya Zanna mengangkat muka. “Tapi Mama kamu gimana?”


“Gimana apanya? Mama baik-baik aja kok. Yang penting tunjukin aja kalo kamu pacar yang baik buat aku. Walau cuma settingan.”


Zanna masih ragu tapi Aksa sudah menarik tangannya.

__ADS_1


“Oh ya, Sa. Tadi kamu manggil aku?” tanya Zanna penasaran.


Aksa malah heran. “Manggil? Aku kan baru dateng. Dari tadi aku di kamar. Kenapa?”


“Enggak sih, cuma tadi ada yang manggil nama aku. Tapi nggak ada orang.”


Spontan Aksa melihat ke kamar pojok, pintunya terbuka sedikit. Ada sepasang mata memandang mereka.


“Mungkin perasaan kamu aja. Oh ya kamu duluan ke ruang makan. Aku mau ambil sesuatu di kamar.”


Zanna menurut dan meninggalkan Aksa.


Aksa bergegas masuk kamar pojok dan menguncinya.


“Rapunzel! Dia Rapunzel kan?!”


“Bang, lo udah minum obat?”


“Kenapa lo nggak jawab?! Dia Rapunzel! Ngapain dia ke sini?”


“Justru gue bawa dia ke sini buat lo, Bang. Lo tenang dulu.”


“Trus kenapa dia ninggalin gue? Mentang-mentang gue cacat!”


Aksa melihat kakaknya begitu emosi. Tapi belum saatnya Aksa membiarkan mereka bertemu. Ia harus tahu dulu alasan Zanna meninggalkan kakaknya dahulu.


Setelah memberi kakaknya obat penenang, ia keluar kamar.


Sesaat mematung di depan pintu, galau.

__ADS_1


“Ada apa dengan perasaan gue? Dendam jelas, tapi kenapa gue nggak rela kalau dia ketemu Bang Adnan?”


***


__ADS_2