
Hari mulai gelap ketika Aksa kelelahan mencari Zanna. Di tempat terakhir ia tinggalkan Zanna juga tidak ada. Hujan sudah mengguyur sejak tadi. Dia mengenakan jas hujan tapi Zanna pasti kedinginan.
Ia harus cari ke mana lagi?
Sinyal HP pun putus-putus di tengah hutan begini.
Aksa mulai kedinginan, namun tidak putus asa mencari Zanna.
Ia harus minta maaf!
Di atas bukit ada gubuk kecil. Mungkin rumah penduduk.
Apa Zanna ada di sana?
Berbekal harapan, Aksa bergegas menuju gubuk. Walau kakinya hampir mati rasa karena kelelahan.
“Permisi, Kek.” Kebetulan ada kakek-kakek lewat bawa keranjang penuh rumput. “Apa Kakek pernah liat perempuan ini?” Aksa menunjukkan foto Zanna di HP-nya.
“Oh iya adik ini kerabatnya? Barusan istri saya menemukan dia pingsan di hutan. Sekarang ada di rumah saya. Silahkan masuk.”
Aksa bergegas masuk gubuk, dan kaget melihat Zanna terbujur kaku, dengan bibir membiru.
***
“Zanna..!”
Aksa menggenggam tangannya yang dingin.
“Nenek temukan adik ini di hutan. Tapi sejak tadi dia belum sadar.” Nenek menjelaskan. “Kami ingin membawa ke puskesmas tapi karena hujan amat berbahaya menyeberangi jembatan untuk ke puskesmas desa seberang.”
“Terima kasih, Nek. Sudah menolong teman saya.” Aksa merasa bersalah melihat wajah Zanna begitu pucat dan belum sadarkan diri.
“Hari sudah malam. Sebaiknya kalian menginap di sini. Mudah-mudahan dia segera sadar.” Nenek memberi selimut. “Maaf tempatnya seadanya. Tapi lebih baik kalian istirahat dulu.”
“Maaf sudah merepotkan, Nek. Sekali lagi terima kasih.”
“Kalau begitu Nenek tinggal dulu.”
Tinggal mereka berdua.
Suasana gelap dan dingin karena hujan. Satu-satunya penerangan hanya lampu tempel.
“Na, kamu bangun dong. Aku minta maaf udah kurang ajar ninggalin kamu tadi. Tapi aku nyesel. Selama ini aku salah nilai kamu. Aku dibutakan oleh dendam yang salah. Andai kamu kasih aku kesempatan nebus kesalahan aku. Mungkin ada harapan untuk memperbaiki hubungan kita.”
Zanna bergeming namun matanya tetap terpejam.
Aksa menggenggam tangan Zanna dan tertidur di sampingnya.
***
Pagi-pagi sekali Aksa terbangun dan kaget melihat Zanna tidak ada di sampingnya.
“Ya Allah.. ke mana lagi tu cewek?!” Aksa jadi panik buru-buru memakai sepatu dan mengenakan kemejanya.
__ADS_1
“Eh Nak Aksa sudah bangun?” tegur Nenek.
“Nek, liat temen saya? Dia nggak ada di dalam.”
“Oh barusan dia pergi ke sungai, bantuin Nenek cuci baju.”
Sungai?
Cuci baju?
“Tapi dia udah sehat, Nek?”
“Sebetulnya Nenek minta dia istirahat. Tapi dia tidak mau dengar, dan sekarang sedang cuci baju di sungai. Kalau Nak Aksa mau ke sana, segera kembali ya, Nenek akan buatkan sarapan. Walau seadanya.”
Aksa tidak habis pikir, baru saja Zanna pingsan sudah main di sungai. “Sungainya sebelah mana, Nek?”
Nenek menunjukkan jalan ke arah sungai.
Tanpa pikir panjang, Aksa bergegas menuju sungai yang ternyata cukup jauh dari gubuk Nenek.
“Zanna…!” Aksa kaget lihat Zanna asyik cuci baju sambil duduk di atas batu. Mana pake kain kayak gadis desa nyuci.
“Eh Aksa, sini!”
Aksa geleng-geleng kepala dan menghampirinya susah payah melewati batu-batu licin.
“Kamu ngapain di sini?” omel Aksa begitu dekat.
“Kamu udah nggak pa-pa? Ada yang sakit? Kita ke rumah sakit ya?” Aksa mengusap kepala Zanna, cemas.
Zanna menggeleng. “Aku udah nggak pa-pa kok.” Seperti tidak terjadi apa-apa, Zanna melanjutkan mencuci baju menggunakan batu kali.
Aksa bisa merasakan Zanna berusaha menyembunyikan kesedihannya.
Dan itu membuat Aksa lebih merasa bersalah. Khawatir Zanna tidak mau memaafkannya.
“Aku bantu ya?” tawar Aksa.
“Nggak usah. Dikit lagi kok. Lagian kamu mana pernah nyuci pake beginian. Susah lho.” Zanna menoleh sekilas. “Ada apa kamu ke sini?”
Sikap Zanna terkesan dingin, tidak banyak membantah. Tanpa memandang Aksa yang duduk di dekatnya.
Zanna berdiri membawa keranjang baju.
Tangannya langsung disambar Aksa.
“Aku mau minta maaf.”
Zanna menoleh. “Aku udah maafin.”
Aksa belum yakin. “Tapi….”
“Mungkin kita ngobrol sambil jalan aja. Nenek pasti nungguin bajunya.” Zanna jalan duluan meninggalkan Aksa.
__ADS_1
Sambil menelusuri jalan berbatu dan hutan, Aksa membawakan keranjang baju.
“Selama ini aku udah salah dendam sama kamu. Aku nggak pernah mau denger kata Niko. Ternyata dia bener. Belum tentu yang aku pikir itu yang terjadi.” Aksa menyesali sikapnya.
“Nggak pa-pa, Sa. Aku pribadi yang mau ikutin settingan kamu. Karena aku ngerasa kamu bakal pertemukan aku dengan orang yang kucari.” Zanna duduk di batang pohon.
Aksa duduk di sampingnya. “Sejak kapan kamu tau punya saudara kembar?”
Zanna terdiam sejenak. “Sudah lama aku curiga. Tapi aku nggak pernah minat cari tau. Karena orangtuaku nggak pernah bicara tentang ini. Sampai aku ketemu Gita. Dia cerita semua tentang Senna. Tentang hubungan Senna dan Adnan. Akhirnya aku paham kenapa kamu sebegitu bencinya sama aku. Tapi aku jauh lebih sedih, karena kamu dendam sama orang yang sudah tiada.”
Air mata Zanna tidak tertahan membuat Aksa kaget.
“Setelah sekian lama aku menginginkan saudara, begitu orangtuaku meninggal aku bener-bener kesepian. Dan belakangan aku tau, saudara kembarku sudah meninggal. Bahkan sebelum kami kenal satu sama lain.” Zanna terisak pedih.
Aksa memeluk bahu Zanna berusaha menenangkannya.
“Mungkin emang takdirku untuk selalu sendiri. Meski kami belum pernah bertemu, tapi kami pernah bersama.” Zanna mengusap air matanya. “Atas nama Senna, aku minta maaf sudah membuat kondisi Adnan seperti sekarang.”
“Kamu nggak perlu minta maaf.”
Zanna memandang langit, sedih. “Tapi ada satu yang belum aku tau. Gita nggak tau bagaimana Senna meninggal. Karena Gita cerita dia kehilangan kabar setelah Senna masuk ICU. Melihat kondisi Senna, Gita menduga Senna mungkin tidak selamat. Makanya dia salah mengenali aku. Andai aku tau yang sebenarnya.”
Tiba-tiba Aksa teringat amplop yang diberikan Niko.
Gue rasa kalian berdua berhak tau ini. Ini akan menjelaskan semua penasaran lo.
Aksa mengeluarkan amplop dari sakunya. “Niko minta kita baca ini. Baiknya kamu duluan yang baca.”
“Apa ini?” Zanna membuka amplop dan membaca. Tiba-tiba tubuhnya menegang, tangisnya pecah.
“Na, kamu kenapa?” Aksa langsung memeluk Zanna yang histeris.
Zanna tidak menjawab, tangisnya makin keras.
Penasaran Aksa membaca kertas itu, dan kaget mengetahui yang sebenarnya.
***
Menurut catatan medis dua tahun yang lalu, Senna mengalami kelumpuhan otak setelah kecelakaan itu. Dalam kondisi kritis dia meminta agar salah satu ginjalnya diberikan pada Adnan.
Sudah beberapa tahun ke belakang Adnan menyembunyikan penyakit gagal ginjalnya dan berusaha bertahan dengan obat. Senna mengetahui itu tapi menyembunyikan demi menjaga perasaan Adnan.
Adnan selamat dari operasi ginjal, namun kakinya dinyatakan lumpuh.
Sedangkan Senna tidak bisa bertahan.
Aksa terpukul sudah salah paham pada Senna dan membencinya hingga mendarah daging. Ternyata Senna bukan orang jahat, tapi malaikat penolong Adnan.
Zanna sendiri tidak menyangka saudara kembarnya begitu mulia dan sangat mencintai Adnan. Pengorbanan yang ia sendiri tidak yakin sanggup melakukannya.
Walau begitu, pada akhirnya salah paham antara mereka bersih sudah.
***
__ADS_1