
Urusan Gita tidak terlalu dipikirkannya. Semenjak ia hubungan settingan dengan Aksa banyak yang mendekatinya. Mencoba mengakrabkan diri. Itu membuatnya sulit mempercayai orang lain.
Mungkin Gita hanya mengarang cerita.
Tiba di rumah Aksa, dia mematung di depan pagar.
Kenapa sepi?
Halaman rumah yang biasanya ada mobil diparkir kosong melompong.
Tapi Aksa memintanya datang. Lebih baik dia masuk saja.
Tiba-tiba terdengar jeritan dari dalam rumah. Sepertinya suara laki-laki.
Ia bergegas masuk dan kaget melihat Bi Murti asisten rumah tangga Aksa terjatuh di lantai.
“Mas tenang…”
“Pergi kamu! Mana Rapunzel!?”
Zanna mendekati mereka dan terkejut melihat seorang lelaki terbaring di lantai, ada kursi roda yang terguling.
“Bi Murti?” tegur Zanna.
“Eh Neng!” Bi Murti sudah kenal Zanna waktu membantunya mencuci piring.
“Ini siapa, Bi?”
“Mas Adnan, kakaknya Mas Aksa. Dari tadi Mas Adnan ngamuk terus. Mana Ibu lagi nggak di rumah. Bibi bingung, Neng.”
“Ya udah, Bibi telepon Ibu aja. Biar saya yang jaga dia.”
“Baik, Neng.”
Begitu Bi Murti berlalu, Zanna memandang Adnan yang belum menyadari kehadirannya.
Tanpa sengaja tatapan mereka bertemu, Adnan kaget setengah mati.
“Na!”
Zanna menaikkan alis. Adnan mengenalinya?
“Kamu ke mana aja? Kenapa baru datang sekarang?”
Makin bingung aja dengan pertanyaan Adnan. Tapi Zanna tidak banyak bicara, dan membantu Adnan bangun. Begitu duduk di kursi roda, lelaki itu tidak lepas menatap Zanna.
“Kenapa kamu ninggalin aku, Na? Apa karena sekarang aku lumpuh?”
Zanna bingung harus menjawab apa. Karena dia tidak mengerti yang Adnan bicarakan. Kepalanya berdenyut.
Apa mungkin dia benar amnesia?
__ADS_1
Apa ia kenal dengan Adnan?
Adnan memegang tangannya erat-erat, berharap dapat jawaban.
Tapi Zanna tetap membisu.
***
Hari ulang tahun Aksa tiba. Sejak pagi, kafe elite di kawasan Jakarta Selatan sudah didekorasi dan persiapan yang dilakukan Laura cukup membuat terkesan. Suasana dibuat romantis.
Tepat pukul tujuh malam, para tamu mulai berdatangan. Rekan dari dunia selebritis dan banyak fans-nya yang datang. Mereka bawa hadiah yang cukup bikin panitia kerepotan saking banyaknya.
Niko mana ya? Zanna resah berduaan dengan Aksa di belakang panggung.
Aksa menatapnya heran. “Kamu nyari siapa?”
“Ngg… tadi Niko bilang mau bicara sesuatu. Tapi dia ke mana?”
Aksa terdiam. Jantungnya berdebar kencang. Karena malam ini akan jadi ujung settingan hubungan mereka. Setelah ia melamar Zanna di depan semua orang dan media, dia akan mengungkap identitas Zanna sebagai Rapunzel.
Tapi kenapa ia merasa gelisah?
“Sa, kamu kenapa?” tanya Zanna membuatnya tersentak. “Muka kamu pucet banget. Kamu sakit?”
Aksa menggeleng dan menatap Zanna, tidak tega.
Malam ini Zanna tampil cantik dengan dress hijau selutut lengan pendek. Rambutnya digulung dan make up natural membuatnya lebih manis. Sungguh mirip dengan foto masa SMA kakaknya.
Apa yang dikatakan Zanna sampai Adnan mengamuk lagi?
Apa Zanna sudah menjelaskan semuanya?
Atau ia tidak ingat sama sekali?
“Sa, waktunya naik.”
Salah satu kru mengingatkannya.
Aksa menarik nafas dan menggandeng tangan Zanna menaiki panggung.
Zanna mati-matian menahan debar jantungnya.
Teriakan membahana menyambut kemunculan mereka.
***
Di satu sudut, seorang gadis seksi yang cantik merengut menyaksikan kejadian di panggung.
“Ma, aku sebel banget deh. Capek-capek ngurusin pesta ulang tahunnya Aksa, Aksa malah bawa pacarnya ke panggung. Padahal nggak pantes banget dia sama Aksa.” Sambil kesal, ia curhat pada Mamanya di telepon.
“Jangan minder dong, Nak. Anak Mama kan tercantik. Sekarang kamu ke panggung aja samperin Aksa. Mana lah dia nolak, kan kamu yang atur semua acara ini.”
__ADS_1
“Tapi aku harus ngapain di sana, Ma?”
“Buktiin di depan semua, kalo anak Mama ini jauh lebih cantik dari pacarnya Aksa. Mama yakin nanti kamu bakal terkenal.”
“Iya deh, Ma. Aku coba.”
Klik. Telepon terputus.
Baru mau naik panggung, Aksa sudah duduk memegang gitar. Sementara Zanna berdiri di sampingnya.
Semua bersorak riuh begitu Aksa menyanyikan lagu dengan gitar akustik untuk Zanna.
Laura makin kesel aja dibuatnya.
***
Teriakan histeris membahana bercampur dengan tepuk tangan meriah begitu Aksa selesai menyanyikan lagu romantis.
Aksa menatap Zanna yang terkesima.
Ini saatnya.
Suasana mendadak hening ketika Aksa mengeluarkan sebuah kotak kecil cantik berwarna merah dari saku jasnya, dan berlutut di depan Zanna.
Zanna mencoba bersikap biasa, ketika melihat cincin berkilauan di depannya. Memang ini skenario yang dirancang.
Settingan ini sungguh menyiksa perasaannya.
Kenapa Aksa amat tega memaksanya mengikuti permainan sampai tahap ini?
Tapi Aksa memang Aksa, rajanya akting.
Ketika kalimat “will you marry me?” terlontar dari mulut Aksa yang menyebabkan suasana lebih ricuh dengan teriakan para wanita, jantung Zanna berdebar tidak terkendali.
Aksa meremas tangannya halus, memberi isyarat untuk bereaksi.
Susah payah Zanna menarik bibir membentuk senyuman, dan menganggukkan kepala.
Ketika cincin disematkan di jari manisnya, Aksa mengecup tangannya.
Semua bersorak dan bertepuk tangan meriah.
Tiba-tiba…
DUUUKKKKK!!
Suasana haru berubah jeritan histeris ketika lampu gantung terjatuh dan menimpa…
“Zanna!”
Darah mengalir di kepala Zanna, dalam sepersekian detik, gadis itu jatuh pingsan.
__ADS_1
***