
“Serius lo pengen dia jadi pacar lo?”
“Cuma pura-pura! Seperti yang lo minta.”
Niko agak ragu. “Tapi, kenapa dia?”
“Gue cuma mau dia. Lo harus cari tau tentang dia secepatnya.”
Niko akhirnya menyerah. “Dia asisten dosen kita.”
Aksa mengibaskan tangan. “Kalo itu gue udah tau. Yang lainnya?”
“Dia masih single. Almamater lulusan tiga tahun yang lalu. Udah kerja jadi asisten dosen sejak dia lulus.”
Aksa mengangguk-angguk.
Zanna Kirana. Umur 25 tahun. Asisten dari Profesor Randy. Berpenampilan biasa dengan rambut diikat dan selalu mengenakan kemeja blus. Orangnya polos dan kaku. Jarang bergaul.
“Lo yakin mau dia jadi pacar lo? Dia nggak terkenal, dan umurnya lebih tua dari lo.” Niko masih tidak yakin.
Aksa berdecak dan membaca skenario.
Niko akhirnya mengiyakan. “Tapi dia bukan tipe cewek yang bisa diajak negosiasi. Perlu ada skenario untuk narik dia ke permainan ini.”
“Gue percaya lo bisa ngatur ini semua. Yang jelas gue cuma mau dia.”
Mereka mengakhiri pembicaraan ketika sutradara memberi arahan syuting akan dimulai.
***
Suasana kelas sepi ketika Zanna memasuki kelas. Perkuliahan akan dimulai dan dia dapat arahan dari professor untuk materi mengajar.
Ia membuka tas mencari pulpen.
Tiba-tiba ia terdiam, “Eh apa ini?” ia mengeluarkan HP yang bukan miliknya.
“Punya siapa ini?” gumamnya sambil membolak-balik HP. Ia yakin bukan miliknya. Gajinya sebagai asisten dosen tidak mungkin cukup membeli HP semahal ini.
Mendadak HP berdering membuatnya kaget.
Belum hilang kekagetannya, beberapa orang menyerbu masuk kelas.
“Itu dia! HP-nya Aksa!”
“Mbak Zanna pencurinya!”
“Akhirnya ketemu juga!”
Zanna kaget semua mata menatapnya tajam. Ia sampai mematung ketika Aksa muncul. Seseorang yang dia tahu hanya seorang artis.
“Jadi kamu yang curi HP Aksa?” tanya Niko.
Zanna menganga dan menatap HP di tangannya. “Ngg.. saya tidak tau ini ada di tas saya.”
Sementara Aksa hanya berdiri sambil melipat kedua tangan menatapnya tajam.
__ADS_1
“Saya nggak bohong. Saya juga nggak tau kenapa…”
“Alaaaa pencuri mana ada yang ngaku!”
“Iya.. penjara penuh ntar!”
“Dasar klepto!”
“Kalo ngefans sama Aksa jangan main kayak gini dong!”
“Tau! Mau ikut tenar aja jadi pencuri!”
Zanna terpojok atas lontaran-lontaran makian para fans Aksa. Tapi tidak bisa membantah dan bingung siapa yang sudah memfitnahnya.
Aksa mengangkat tangan menyuruh semua diam.
“Gue mau bicara empat mata sama dia.”
Kasak-kusuk terdengar, tapi mereka tidak ada yang mau meninggalkan kelas karena penasaran Aksa ingin bicara apa.
Aksa melirik ke arah Niko.
Niko langsung paham dan membubarkan semua orang.
Semua masih penasaran ingin bertahan di kelas tapi Niko mengusir mereka.
Tinggal Aksa dan Zanna. Aksa mengunci pintu dan menatap Zanna yang memucat.
“Benar bukan saya. Saya nggak tau kenapa HP ini ada di tas. Dari tadi saya di perpustakaan.” Zanna coba membela diri.
Zanna melangkah mundur. “Kamu mau apa?”
Ketika sudah mentok ke meja, Zanna makin ketar-ketir. Karena tatapan Aksa membuatnya takut. Aksa menatapnya dekat-dekat.
Di luar para fans menjerit-jerit melihat adegan itu dari jendela.
“Pencuri mana ada yang ngaku.”
“Tapi bener bukan saya yang ambil.”
“Buktinya aja masih kamu pegang kan? Kalo sekarang polisi dateng, kamu bisa aja ditangkep.”
Zanna berkeringat dingin. Tidak menyangka terjepit di situasi seperti ini.
Aksa berbisik di telinga Zanna. “Gue nggak biasa bicara formal. Jadi dengerin gue baik-baik.”
Zanna mengerutkan kening dan menatapnya takut-takut.
***
Pintu kelas terbuka. Semua mata melotot melihat Zanna berjalan dirangkul mesra oleh Aksa.
Zanna tidak berani mengangkat muka. Semua mengacungkan HP mengambil gambar mereka.
Tanpa bicara Aksa menggiring Zanna keluar menuju mobil.
__ADS_1
Zanna menatapnya tajam begitu mobil meninggalkan wilayah kampus.
“Kenapa mesti aku?”
Aksa melirik sekilas dan konsentrasi menyetir lagi. “Lo itu ordinary woman. Macarin cewek yang jauh lebih tua bisa naikin pamor gue.”
“Apa? Kamu itu udah terkenal, untuk apa…?” Zanna tidak habis pikir.
“Atau lo lebih suka jadi bulan-bulanan fans gue?” ancam Aksa membuat Zanna kaget.
“Bukan aku pencurinya!”
“Tapi lo terbukti ngambil HP gue. Dan manajer gue lagi klarifikasi soal kejadian tadi.”
Zanna terperangah. “Apa yang kalian bilang tentang aku?”
Aksa angkat bahu. “Buka aja akun sosmed gue, semua pertanyaan lo bakal kejawab.”
Tanpa bertanya lagi, Zanna membuka HP dan mengecek akun instagram Aksa.
“Lo follower gue juga?” tanya Aksa sinis. “Ya gue nggak heran sih.”
Zanna mendengus kesal, kalau bukan Pak Danu penjaga perpus memaksanya follow akun Aksa, euugghh!
Ia terbelalak membaca berita, kalau Aksa sudah lama berpacaran dengan Zanna, hanya saja demi reputasi hubungan mereka dirahasiakan. Status Zanna yang merupakan asisten dosennya Aksa, Aksa ingin melamar Zanna dengan cara yang tidak biasa, maka diatur lah skenario agar moment itu tidak terlupakan.
“Lamar?!” Zanna tidak habis pikir. “Kamu tuh, apa maksudnya?!”
“Udah deh lo ikutin aja! Ini satu-satunya cara lo terbebas dari tuduhan mencuri. Atau lo lebih suka di penjara?”
“Kamu…” Zanna kehabisan kata-kata, dan terdiam sejenak. “Ini memang rencana kamu kan?”
Aksa tidak menjawab dan menambah kecepatan mobilnya. “Harusnya lo berterima kasih karena gue mau nyelametin lo dari tuduhan.”
Zanna mengalihkan pandangan ke luar. “Jadi mau kamu apa?”
Aksa menghentikan mobilnya di jalan yang agak sepi. “Kita pura-pura pacaran.”
“Pura-pura? Maksud kamu?”
“Hubungan kita cuma settingan. Setidaknya untung buat lo, bisa kebawa tenar karena jadi pacar gue.”
“Aku nggak perlu ketenaran. Karena aku nggak mau jadi pacar settingan kamu. Gimana dengan kerjaan aku?”
“Emang gue peduli? Lo itu bisa aja kehilangan pekerjaan akibat kasus mencuri. Gue udah selametin lo, dan lo harus bales jasa gue.”
Zanna heran dengan sikap Aksa. “Apa kamu diajar tatakrama? Aku lebih tua dari kamu seharusnya kamu bersikap lebih sopan.”
Aksa tergelak. “Sopan? Nggak gue banget.” ia menghentikan tawa dan menatap Zanna tajam. “Lo nggak punya pilihan selain terima tawaran gue.”
Zanna menghela nafas kesal dan mengalihkan pandangan.
Kenapa jadi begini?
***
__ADS_1