
“Surprise ya kita bisa ketemu lagi.”
Pipi Zanna memerah. Aksa nekat ‘menculiknya’ ke pantai, tempat terakhir mereka bertemu.
Aksa tersenyum menatap Zanna. Wajah yang semakin cantik di matanya. Hijab yang menyejukkan hatinya setiap memandang Zanna.
“Kamu sendiri ngapain di sini?” Zanna berusaha menyembunyikan rasa gembiranya.
“Kan aku udah bilang mau ngelamar kamu.” Aksa mulai menggodanya.
Zanna tersenyum geli. “Kamu apa kabar?”
“Aku baik. Kamu gimana?”
“So far so good. Seperti yang kamu lihat. Kamu kok beda banget sekarang?"
“Beda apanya?”
“Ya lebih dewasa aja keliatannya.” Zanna pangling penampilan Aksa yang berbeda. Mengenakan kemeja biru, celana hitam, juga kacamata.
“Kamu juga tambah cantik,” sahut Aksa membuat Zanna memerah. “Aku dapat kabar dari Gita kalau kamu udah pulang ke Jakarta. Makanya aku buru-buru nemuin kamu.”
Zanna jadi malu. “Emang lagi nggak ada kelas?”
“Aku udah lulus, lagi. Dari tahun lalu.”
“Oh ya?”
“Ada asisten dosen cantik yang bantu aku untuk ngejar semua mata kuliahku yang ketinggalan. Makanya aku cepat lulus, tanpa mengganggu jadwal kerjaku.”
Zanna terdiam, mengingat pertemuan mereka tiga tahun lalu. Masih membekas dan membuatnya sedih.
Aksa memperhatikannya. “Na, kamu kenapa? Nggak nyaman ya ketemu aku?”
__ADS_1
Zanna tidak menjawab, kepalanya menunduk. “Kenapa kamu cari aku lagi? Settingan kita udah berakhir. Aku nggak mau jadi pacar settingan kamu lagi.”
Tiba-tiba Aksa menggenggam tangan Zanna membuatnya kaget. “Aku mau jujur tentang apa yang aku bilang sama kamu tiga tahun lalu di tempat ini.”
Kening Zanna berkerut waktu Aksa menatapnya lekat.
“Waktu aku bilang suka sama kamu, sebenarnya aku nggak bohong.”
DEG! “Ngg maksud kamu…?”
“Aku beneran suka sama kamu, Na. Tapi bodohnya waktu itu aku ngira kamu ada hubungan sama Bang Adnan. Aku udah salah paham dan membiarkan kamu pergi. Tiga tahun ini aku cuma berharap ketika kamu kembali, kamu belum menjadi milik siapapun. Karena aku nggak mau kehilangan kamu lagi.”
Aku juga suka sama kamu, Sa. Tapi aku takut kamu mainin aku lagi, batin Zanna.
“Aku tau kamu juga masih ada perasaan sama aku.” Aksa menyentuh cincin di jari Zanna. “Kamu masih pakai cincin tunangan kita.”
Zanna menarik tangannya. “Ngg… ini…”
Aksa tersenyum karena Zanna memerah. “Ini apa?”
“Masa’?”
“Aku juga rencana mau balikin ini ke kamu sebelum aku pergi. Tapi…”
“Tapi kamu nggak ingin kita putus kan?” goda Aksa.
“Ihh bukan gitu. Cuma … ini cincinnya terlalu sempit. Aku nggak bisa ngelepasnya.” Duuhh alasannya konyol banget deh.
Tiba-tiba Aksa menggenggam tangan gadis itu. “Apapun alasan kamu, jujur sama aku kalau perasaan kita masih sama?”
Zanna menggigit bibir, bingung menjawab apa. Karena sejujurnya dia tidak bisa melupakan Aksa.
“Aku takut kamu ninggalin aku, Sa. Disaat aku yakin sama perasaanku ke kamu.”
__ADS_1
Aksa menggeleng. “Itu alasan yang nggak bisa aku terima. Kecuali kamu permasalahkan status sosial kita saat ini.”
“Maksud kamu?”
“Sekarang kamu udah jadi dosen. Sedangkan aku mantan mahasiswa yang kamu ajar. Apa kamu ngerasa aku nggak pantas untuk kamu?”
“Eh bukan itu maksudku, Sa. Aku…”
“Zanna!”
Mereka berdua sontak menoleh.
Seorang cowok bule berbadan tinggi dan hidung mancung melambaikan tangan semangat.
“Dalton?” Zanna heran ketika mendekat.
“Thank god I found you here.”
“What are you doing here? I though you went to Zurich.” Zanna masih bingung karena Dalton teman kuliahnya di magister akan melanjutkan S3 di Jerman.
“I’m here to wedding my cousin. How are you, Zanna?” Dalton berseri-seri memandangnya.
“I’m fine.”
“I miss you much. Why didn’t tell me that you have go back to Indonesia?”
“I work here, Dalton.”
Tatapan Dalton mengarah pada Aksa yang wajahnya ditekuk.
“He is your boyfriend?” tanya Dalton.
Zanna cuma tersenyum kecil. Kentara ia kikuk berada diantara Aksa dan Dalton.
__ADS_1
***