
“Rapunzel? Zanna? Serius lo?” Niko membelalak tidak percaya.
Aksa memandang foto Zanna yang berseragam SMA. “Lo ngerti kan kenapa gue ngotot pilih dia? Karena gue mau bales dendam. Gara-gara dia ninggalin abang gue, Bang Adnan jadi begini.”
Niko ikut melihat foto. “Tapi lo yakin dia ninggalin Bang Adnan dengan sengaja?”
“Kenapa gue mesti nggak yakin? Perempuan kan begitu. Giliran cowoknya ngetop, dipuja-puja. Giliran cowoknya jatuh, ditinggalin gitu aja. Lulus SMA Bang Adnan direkrut jadi pembalap nasional. Tapi dia kecelakaan, dan dicampakin gitu aja sama Rapunzel begitu dia lumpuh. Dia ngilang gitu aja tanpa ngasih kepastian sama Bang Adnan.”
“Udah berapa lama mereka pacaran?”
“Sejak masuk SMA.”
Niko berpikir. “Bisa jadi. Mereka seumuran. Tapi, gue masih nggak yakin Zanna begitu. Orangnya kaku juga polos aja. Nggak ada tampang dia sadis sama cowok.”
Aksa kesal. “Kenapa lo malah belain dia? Udah jelas-jelas dia buang abang gue begitu aja. Bang Adnan juga, terus aja manggil-manggil dia.”
“Jadi lo maksa dia jadi pacar settingan lo…?”
“Buat bales dendam!” tegas Aksa. “Karena dia udah bikin abang gue frustasi sampai bikin nyokap sedih.”
Niko terdiam.
“Gue bakal bawa dia nemuin Bang Adnan. Dia harus tanggung jawab. Jangan mentang-mentang dia cewek bisa mainin abang gue seenaknya.”
“Kenapa lo nggak cerita sama gue dari awal? Kalo begini urusannya bisa rumit. Gimana kalo Bang Adnan denger kabar ini dan histeris lagi liat lo pacaran sama mantannya?”
“Bang Adnan udah kehilangan akal dan nggak pernah ngikutin berita tentang gue. Kerjaannya cuma tidur dan melamun. Setiap dia mimpi tentang Rapunzel dia langsung histeris. Kadang sampe kejang-kejang saking emosinya, kalau udah gitu dia bisa jatuh dari tempat tidur.”
Niko garuk-garuk kepala. “Maksud lo, dia kena penyakit hysteria gitu?”
Aksa mengangguk. “Dia positif kena hysteria. Akibat tekanan emosi yang terlalu tinggi. Dan ini semua gara-gara si Rapunzel sialan itu.”
“Gimana dengan Mama?”
“Mama nggak tau tentang ini. Waktu gue nemu bukti Rapunzel, gue mutusin cari dia sendiri. Akhirnya setahun lebih gue cari dia, gue bisa nemuin yang gue cari.”
__ADS_1
Niko masih belum puas. “Tapi Zanna udah kerja jadi asisten dosen sejak tiga tahun lalu. Waktu awal kuliah emang lo nggak nyadar itu dia?”
Aksa mendengus malas. “Setau lo seberapa sering gue ada di kampus?”
“Bener juga. Dari awal lo jarang masuk. Pantes lo nggak bertindak dari dulu.”
“Tapi kan lo udah tau. Kenapa nggak kasih tau gue?”
“Eh sekate-kate lo. Kapan lo pernah cerita si Barbie Rapunzel ini ke gue?” balas Niko sewot.
Aksa membenarkan. “Iya sih.” Selama ini dia menyimpan rahasia tentang tokoh Barbie itu sendirian.
“Ngomong-ngomong, kenapa dia dipanggil Rapunzel? Lo tau?” Niko penasaran.
Aksa angkat bahu. “Mungkin karena rambut panjangnya.”
“Konyol sih emang. Hari gini masih pake panggilan kayak begitu. Abang lo waktu itu udah SMA.”
“Semua punya hak manggil pacarnya apa aja. Tapi yang pasti Rapunzel ini harus gue kasih pelajaran.”
Aksa mengepalkan tangan. “Gue bakal siksa batinnya. Dia harus bayar yang udah dilakuin ke abang gue.”
***
Kelas baru saja berakhir. Zanna langsung meninggalkan kelas. Selama Pak Randy pergi, ia menggantikan mengajar mata kuliahnya. Tapi itu membuatnya tidak nyaman karena semua mata menghujamnya.
Tanpa melihat sekitar ia bergegas menuju ruangan Pak Randy untuk menyimpan kertas hasil kuis mahasiswa.
HP-nya berbunyi. Ada SMS dari Cici.
Banyak orang di rumah. Pengen ketemu Zanna.
“Duuuhh Cici apaan sih? Pake ngundang orang se-RT.” Zanna terduduk lemas di sofa.
Sekarang di rumah pun bukan tempat aman untuknya. Tetangga kanan-kiri depan-belakang udah tahu dia pacaran sama Aksa, dan banyak yang cari dia. Ngarep ketemu Aksa yang mungkin mengantar pacarnya pulang ke rumah.
__ADS_1
Rambutnya digulung sekenanya.
Padahal dia capek, ingin pulang dan istirahat.
Tapi pulang sekarang menguras tenaganya.
Sejak pagi ia menggantikan admin kampus yang absen karena sakit. Pekerjaan menumpuk hingga ia tidak sempat istirahat, dan langsung mengajar. Kalau bukan karena biaya hidupnya meningkat, ia tidak akan bekerja sekeras ini. Tapi dia butuh tambahan biaya untuk beli laptop baru.
Laptop memang menunjang kegiatannya. Sudah sejak lama ia mengincar beasiswa S2 di New York. Dan tes nya akan diadakan dua bulan lagi. Dia harus fokus jika ingin lolos. Ada sepuluh peserta beasiswa yang bersaing memperebutkan satu peluang beasiswa S2 di universitas ternama di New York.
Dia baru menerima honor pengganti admin minggu depan dan bisa membeli laptop baru. Sedangkan dia harus menyerahkan proposal pada panitia beasiswa besok pagi.
Memikirkan itu semua membuatnya frustasi. Ia takut gagal. Padahal sudah melakukan persiapan sejak tahun lalu. Dua tahun berturut-turut dia mengikuti seleksi beasiswa. Dua tahun lalu mengikuti seleksi beasiswa S2 di Jepang, dia gagal. Tahun lalu mengikuti seleksi beasiswa S2 di Australia, dan gagal. Kali ini dia bertekad untuk mendapatkan beasiswa itu.
Orangtua Zanna sudah lama meninggal. Maka Zanna berjuang sendiri tanpa mengandalkan orang lain. Ayah seorang pedagang kain, dan selalu memotivasinya untuk sukses. Sayangnya Ayah meninggal terkena penyakit paru-paru ketika Zanna lulus SMA. Ibu pun sudah meninggal sejak Zanna SD, karena penyakit asma.
Dia bertekad ingin membanggakan orangtuanya. Maka ia tekun belajar. Tidak ada waktu memikirkan hal lain. Bekerja sebagai asisten dosen menguntungkannya karena Pak Randy ikut membimbingnya untuk tes beasiswa kali ini.
DEERRRTTT..!
Ia tersentak dan menyambar HP-nya. Mungkin pikirannya sedang kacau hingga kaget hanya mendengar getar HP yang diletakkan di meja.
Na, gue nunggu di parkiran kampus. Kita ke lokasi syuting Aksa.
Niko?
Sungguh ia malas bertemu dengan Aksa kali ini.
Tubuhnya sudah terlalu lelah.
Perutnya pun lapar karena sejak semalam belum makan.
Tapi pulang ke rumah pun bukan solusi.
Akhirnya ia merapikan rambut, berkaca sebentar. Setelah dirasa beres, ia menenteng tas dan mengendap-endap keluar. Berharap tidak ada yang membuntutinya.
__ADS_1
***