
Begitu membaca email dari panitia beasiswa S2, semangat Zanna bangkit lagi. Lelah dan sakit sudah dibuang jauh-jauh. Padahal dia diminta istirahat lebih lama di rumah sakit. Peringatan dari rumah sakit tidak dipedulikannya. Panitia memberi kelonggaran waktu deadline penyerahan proposal menjadi besok sore. Zanna mempunyai lebih banyak waktu untuk menyelesaikan proposalnya.
Buku-buku ditumpuk di meja. Karena harus begadang, ia sudah menyiapkan permen, keripik kentang, dan roti. Tak lupa cokelat untuk menambah tenaganya. Bahkan ia berpesan pada Cici untuk membuat air jahe super supaya kuat begadang.
Demi keamanan, ia mengunci pintu kamar agar Cici tidak merecokinya mengenai Aksa. Dia juga tidak memberitahu laptop yang dia gunakan milik Aksa. Bisa ribut sekampung ntar.
“Bismillah.”
Ia mulai membuka buku dan mengetik dengan semangat. Tak lupa memakai kacamata demi menjaga kesehatan mata dari sinar laptop.
Berusaha fokus dan tidak memikirkan hal lain.
***
“Lo kepengen apa lagi, Sa? Dia udah cukup tertekan jadi pacar settingan lo?” tanya Niko tidak habis pikir begitu Aksa mengatakan ingin membuat skandal skenario untuk meningkatkan popularitasnya, dengan melibatkan Zanna.
“Emang gue peduli?” balas Aksa sambil meremas cangkir kertas kopinya. “Udah cukup gue baik sama dia. Tujuan gue kan pengen bikin dia menderita.”
“Iya tapi sampe kapan?”
Suasana lokasi syuting ramai, tapi Boim dan Windi siaga menjaga agar para fans tidak menyerbu Aksa dan menguping pembicaraan mereka.
“Sampe gue nemu waktu tepat bawa dia nemuin Bang Adnan.” Aksa mengakui beberapa kali terbawa suasana dan kasihan pada Zanna. Tapi mengingat perlakuan yang diterima Adnan, dendamnya tersulut lagi.
“Kalo gitu secepatnya. Lo bisa ungkap dan bawa dia ketemu Bang Adnan. Lo tau, dia udah kena peringatan dari profesornya karena kerjaannya banyak salah gara-gara sibuk ngurusin settingan lo ini.”
“Lo jadi kasihan sama dia?”
__ADS_1
“Setidaknya lo pake otak deh jangan nyakitin perempuan sampe begini.”
Niko tidak akan bertindak jika yang Aksa perbuat masih di batas wajar. Dia ingin membuat skandal seakan-akan Zanna mengkhianatinya.
“Lo jangan keterlaluan, Sa. Dengan lo lepas berita hubungan settingan kalian aja udah cukup bikin dia kerepotan ngadepin fans lo yang nggak suka hubungan kalian. Apalagi lo fitnah dia selingkuh, bisa-bisa dia frustasi dipojokin semua fans lo.”
Aksa mendengus kesal. Kenapa Niko selalu punya pembelaan atas semua yang ingin dilakukannya?
“Lo kan belum denger penjelasannya udah ninggalin Bang Adnan. Gue rasa nggak adil kalo lo perlakuin dia begini.”
Baru Aksa mau menyahut, Niko melanjutkan lagi.
“Kalo lo nggak bisa ngomong, biar gue yang interogasi dia.”
Aksa jadi bete. “Kenapa sih lo jadi mojokin gue?”
“Harusnya lo mikir, Sa. Dengan hubungan settingan kalian, pamor lo naik. Semua udah terima hubungan kalian. Karena lo tunjukin kasih sayang lo ke Zanna, walau cuma acting. Bahkan lo lepas berita kalian mau tunangan kan? Gimana kalo skandal itu malah berbalik? Bukannya naikin pamor lo malah jatuhin?”
Aris si pemeran pendukung, yang beberapa kali wajahnya muncul di FTV dan sinetron. Di sinetron ini Aris berperan sebagai kakak dari tokoh utama cewek. Memang beberapa kali Niko meng-gap cowok itu tengah memperhatikan Zanna yang sesekali nongkrong di lokasi menunggu Aksa syuting. Bahkan cowok itu pernah mendekati Zanna terang-terangan walau hanya menawarkan minum.
“Lo mau apa dari Aris?”
Alis Aksa mengangkat, sinis. “Bikin dia dekat sama Zanna. Dengan begitu, gue akan makin mudah jatuhin dia.”
Baru mau menyela, Aksa sudah berdiri menghampiri sutradara. Niko geleng-geleng kepala.
Ia bisa merasakan dendam Aksa yang begitu dalam terhadap Zanna. Tapi feeling-nya mengatakan Zanna tidak melakukan semua hal yang dituduhkan Aksa padanya.
__ADS_1
Jika sudah begini, Niko tidak punya pilihan selain menuruti kemauan Aksa.
***
“Jadi begitu ceritanya, Pak. Saya minta maaf atas semua kesalahan.”
Pak Randy mengangguk-angguk dan membuka kacamata. “Saya sudah duga Zanna ada masalah serius.”
Zanna menunduk, merasa bersalah. Ia salah memberikan materi kuis, dan tertukar beda angkatan. Selain itu ia menghilangkan berkas laporan Pak Randy yang tertinggal di mobil Aksa, ternyata Aksa membuang berkas itu karena mengira sampah. Dan banyak lagi kesalahannya dalam pekerjaan.
Pak Randy menduga ada yang tidak beres karena tidak biasanya asisten kesayangannya begini.
Akhirnya setelah dapat peringatan, Zanna terpaksa menceritakan masalahnya pada Pak Randy, agar tidak salah paham.
“Sebenarnya saya maklum dengan situasi Zanna begini. Jika ada yang perlu saya bantu, Zanna tinggal bilang. Kalau perlu, kita bisa periksa CCTV seluruh kampus terutama perpustakaan, agar ketahuan siapa yang memasukkan HP Perkasa di tas Zanna. Dengan begitu, Zanna bisa lepas dari ancaman Perkasa.”
Zanna menggeleng. “Saya akan hadapi dengan cara saya sendiri, Pak. Lagipula, saya merasa Aksa punya maksud lain.”
“Maksud lain?”
Yang satu ini tidak perlu diceritakan pada Pak Randy.
“Baik, saya sudah paham kesulitan Zanna. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi. Sekarang siapkan daftar nilai mahasiswa angkatan 2 dan siapkan materi remedial. Saya ada rapat dengan dekan.”
“Baik, Pak.” Zanna langsung sibuk di belakang komputer, Pak Randy meninggalkan ruangan.
Mungkin perasaan ini aneh. Ia merasa Aksa mempunyai maksud tertentu. Entah kenapa dia merasa, Aksa ada hubungan dengan seseorang yang sudah lama dicarinya. Maka ia memutuskan bertahan menghadapi Aksa sampai tahu tujuan cowok itu memacarinya walau settingan. Sudah hampir dua minggu dia belum tahu juga apa yang mengganjal di hatinya tentang cowok itu.
__ADS_1
HP-nya berbunyi. Ia tidak ingin pekerjaannya kacau lagi, dan me-reject panggilan dari Niko. Demi keamanan dia mematikan HP dan fokus mengerjakan.
***