
“Aksa.”
“Apaan?”
“Kok jutek banget? Kamu kenapa?”
Aksa tidak menjawab, hanya menatap lurus jalanan di depan.
Zanna menyadari mobil melaju lebih cepat. Padahal jalanan cukup padat.
“Sa, pelan-pelan nyetirnya!”
Mobil berhenti di depan pertokoan.
Ekspresi Aksa tidak dapat ditebak. Yang jelas, suasana hatinya sedang kurang baik.
“Dalton itu siapa?” akhirnya Aksa bersuara, tanpa menoleh.
“Dia teman sekelasku di Magister.” Zanna menjawab datar.
“Kamu janjian sama dia ketemu tadi?”
“Aku malah nggak tau dia ke Jakarta. Sejak aku pulang ke Indonesia aku nggak pernah hubungi dia.”
“Kamu ada hubungan apa sama dia?”
Zanna menyadari atmosfir berubah panas karena Aksa sedang cemburu. Diam-diam ia senang. “Kami cuma teman.”
“Bohong. Dia pake bilang kangen segala sama kamu, pasti dia teman spesial kan? Sampai kamu minta aku antar dia balik ke hotelnya karena khawatir dia nyasar di Jakarta?”
“Ya aku minta tolong karena kasian dia baru di sini, Sa. Aku emang deket sama dia, tapi cuma sebatas teman aja. Dia baik sama aku, dan banyak bantu aku selama di New York. Nggak lebih.”
Aksa mendengus kesal, dan buang muka.
“Kamu cemburu?” tanya Zanna.
“Iya, aku cemburu. Aku nggak suka ada cowok lain dekat sama kamu. Aku cemburu karna kamu akrab sama Dalton.” Aksa blak-blakan meluapkan cemburunya sampai Zanna bengong.
Zanna jadi bingung mau bicara apa.
“Tapi percuma juga, karna aku nggak berarti apa-apa kan buat kamu. Kalo kamu memang rencana bales dendam, kamu berhasil. Hatiku hancur tau nggak!”
“Kamu kok ngomong gitu? Aku nggak pernah dendam sama kamu.”
“Bohong! Kamu pasti masih dendam gara-gara perlakuanku dulu ke kamu! Dan sekarang saat aku cinta sama kamu, ini balasannya kan? Kamu nggak akan semudah itu maafin aku. Moment ini memang kamu tunggu kan?”
Zanna menghela nafas dan buang muka. Emang susah ngomong sama orang yang lagi cemburu, mau bicara apa juga nggak akan masuk ke otaknya.
“Kita bicara lagi kalau emosi kamu udah mereda,” kata Zanna sembari keluar mobil.
Aksa hanya diam tidak berniat mengejar.
Begitu Zanna pergi, baru ia tersadar.
“Apa gue terlalu childish?” ia memukul stir, kesal. “Shit! Jelas gue kekanak-kanakan banget tadi. Kenapa juga gue cemburu berlebihan begini?”
Ia melihat ke belakang. “Ke mana Zanna pergi? Gue harus ketemu dia.”
Niko menelepon. “Halo Sa, lo di mana? Sebentar lagi acara talkshow on air. Lo harus hadir on time.”
Aksa mendadak dapat ide. “Acaranya live kan?”
***
Tiba di apartemen, Zanna menghempaskan tubuh di sofa. “Kapan sih Aksa jadi dewasa? Masih juga emosional begitu.”
Muncul Nenek dari dapur membawakan segelas minum. “Sudah pulang, Nak?”
“Eh Nenek.” Zanna beringsut dan menerima minumannya.
Begitu tiba di Indonesia, Zanna mengunjungi Nenek Ningrum di gubuk lama. Ternyata sudah setahun belakangan Kakek Amin meninggal dunia. Karena Nenek sendirian, Zanna mengajaknya tinggal bersama. Begitu Nenek menyatakan mau tinggal bersamanya, ia senang karena tidak perlu sendirian lagi.
TV menyiarkan iklan sabun pencuci wajah pria.
Zanna tercekat melihat Aksa yang jadi bintang iklan.
“Nak Aksa makin ganteng aja ya? Nenek sampai pangling waktu ketemu dia.” Perkataan Nenek membuat Zanna kepo.
“Ketemu Aksa? Kapan, Nek?”
__ADS_1
“Semenjak suami Nenek meninggal, Nak Aksa sering ngunjungin Nenek. Dia banyak cerita tentang Nak Zanna.”
“Oh ya?”
“Dia juga cerita kalau tidak sempat menemui Nak Zanna sebelum pergi ke luar negeri. Sepertinya Nak Aksa tulus sayang sama Nak Zanna.”
Pipi Zanna memerah. “Masa’ sih Nek? Emangnya aku pantes sama dia? Dia kan artis terkenal, usianya juga jauh lebih muda dari aku. Semua bilang aku nggak cocok dengan Aksa. Lagipula waktu itu dia nggak serius sama aku.”
“Ngapain peduli kata orang? Kalau kalian saling sayang, nggak akan ada yang pisahin kalian. Asal kalian saling jujur perasaan masing-masing. Percaya sama Nenek. Dia sayang sekali sama kamu.”
Zanna tercenung mendengar perkataan Nenek. “Tapi… dia tuh masih kayak anak kecil, Nek. Dia suka cemburu berlebihan.”
“Bukannya itu tanda dia takut kehilangan kamu, Nak. Apalagi kalian sudah lama tidak bertemu. Tapi mungkin dia belum bisa kontrol emosinya.”
Masa’ sih?
Aku takut Aksa cuma mainin aku. Seperti yang dia lakuin dulu.
TV menyiarkan acara talkshow selebritis.
Zanna tercekat melihat Aksa yang jadi bintang tamu.
“Ini acaranya live? Berarti barusan dia langsung pergi karna kerjaan bukan karna peduli sama aku.” Zanna malah baper jadinya.
Ada beberapa pertanyaan standar dan basa basi nggak penting.
“Gimana dengan mantan pacar kamu? Denger denger dia baru pulang dari luar negeri.” Pertanyaan host bikin Zanna kaget.
Apa selama Zanna pergi Aksa tidak punya pacar atau dekat dengan perempuan lain?
Kenapa host mengajukan pertanyaan itu?
Aksa tersenyum santai. “Dia.. makin cantik. Mungkin cinta lama bersemi kembali ini.”
Semua tertawa mengira Aksa hanya bercanda.
Zanna cemberut kesal dan berdiri.
“Lho mau ke mana Nak? Acaranya kan belum selesai?” tanya Nenek.
“Mau mandi, Nek. Nggak penting juga acaranya.”
Aksa menatap kamera. Raut wajahnya begitu tulus dan lembut. “Mungkin dulu, aku nggak serius sama kamu. Aku cuma permainkan kamu. Tapi sekarang, aku mau kamu percaya perasaanku ini bukan main-main. Aku sayang sama kamu.”
Zanna terdiam. Masih tidak yakin pernyataan Aksa. Aksa kan jagonya akting, bisa jadi cuma buat naikin rating acara.
“Dari tadi bilang sayang, sebut namanya dong.” Host ceplas ceplos banget.
Tapi bagus biar Aksa berani sebut siapa yang dimaksud.
Aksa tersenyum keren. “Zanna Kirana. Sekarang dia dosen di kampus gue dulu.”
Langsung terdengar teriakan heboh dan tepuk tangan meriah.
Pipi Zanna memerah seperti tomat. “Jadi dia serius?”
Nenek senyum-senyum melihat Zanna salah tingkah.
“Zanna, aku tau kamu pasti nonton acara ini. Yang harus kamu tau kalau aku ini jujur tentang perasaan aku. Kalau perasaan kamu juga sama, temui aku di tempat kita bertemu sebelum kamu pergi ke luar negeri. Aku akan tunggu kamu. Sampai kapan pun. I love you.”
Kalimat penutup Aksa membuat lutut Zanna lemas.
***
Sudah jam 7 malam Zanna mulai gelisah. Mondar mandir di depan tv. Berharap Aksa klarifikasi. Nggak mungkin dia nunggu di sana sampe malem begini.
“Makan dulu ya. Dari siang pasti belum makan apa-apa.” Nenek menghidangkan ayam bakar dan capcay udang.
Zanna memegang hp gelisah. Apa sebaiknya aku hubungi Aksa?
Acara tadi live selesai jam 3, berarti sudah lebih 3 jam Aksa menunggu di sana. Tapi apa dia bohong?
Tapi itu acara disiarkan tv nasional. Keterlaluan kalau ini cuma bercanda.
Akhirnya ia menyerah. Mengganti bajunya, pakai jilbab, dan menyambar tas. Bergegas keluar kamar.
Nenek senyum-senyum karna tau Zanna mau ke mana.
“Hati-hati ya Nak. Kalau udah ketemu ajak kesini Nenek masak banyak.”
__ADS_1
Zanna tersenyum tidak yakin. Dia hanya mengikuti kata hatinya.
***
Tiba di pantai, Zanna kaget liat Aksa duduk lemas di bangku.
“AKSA!” Zanna berlari menghampirinya. “Aksa kamu kenapa?”
Aksa mendongak menatapnya dan tersenyum lemah. “Kamu datang juga?”
Zanna tidak menyangka Aksa benar-benar menunggunya. “Kamu belum makan ya?” ia ingat tadi siang mereka rencana makan siang hanya saja karna bertemu Dalton makan siang terpaksa batal.
“Aku pikir kamu nggak peduli sama aku.” Suara Aksa pelan.
“Mana mungkin aku nggak peduli. Tapi kenapa kamu nyiksa diri sendiri gini? Gimana kalo kamu sakit? Angin pantai ini nggak bagus buat kesehatan.” Zanna jadi ngomel-ngomel.
Tangan Aksa menggapai tangan Zanna, lembut. “Nggak Ada yang lebih penting sekarang selain hadirnya kamu disini.”
Zanna terdiam masih cemas, tapi hatinya lega Aksa baik-baik saja.
Mereka duduk berdampingan.
“Maafin aku, Na. Aku masih kayak anak kecil. Nggak seharusnya aku bersikap kekanak-kanakan begitu. Karna aku takut kehilangan kamu. Udah cukup 3 tahun ini aku kesiksa kehilangan kamu. Sekarang aku nggak akan lepasin kamu lagi.” Aksa berkata tulus membuat Zanna grogi.
“Kamu nggak perlu bilang apa-apa. Dengan kehadiran kamu disini udah ngejawab semuanya. Kita punya perasaan yang sama. Itu udah cukup buat aku lega.”
Zanna speechless banget sampe bingung mau jawab apa.
Tiba-tiba matanya menangkap orang yang bersembunyi di balik tiang memegang kamera. Bukan Cuma 1, Ada beberapa kamera mengintai.
“Ini setting an lagi??!” sentak Zanna membuat Aksa kaget melihat sekeliling menyorot mereka.
“Eh Zanna.. Aku nggak setting ini. Aku nggak tau banyak kamera ngikutin aku ke sini.”
“Jangan-jangan kamu mainin aku lagi?!” Zanna mulai marah.
“Enggak sumpah.. Aku nggak setting semua ini. Eh lo semua ngapain ngikutin gue?” semprot Aksa.
“Gue yang bawa mereka.” Kedatangan Adnan dan Niko membuat Zanna dan Aksa kaget setengah mati.
Niko menepuk pundak Aksa. “Sa, waktu Zanna pergi, lo kacau banget sumpah. Gue yang kenal lama sama lo sampe bingung harus ngapain lagi. Gue coba kenalin cewek-cewek nggak Ada yang lo respond. Lo itu cinta mati sama Zanna. Dan kali ini lo nggak boleh main-main lagi.”
Adnan menambahkan sambil meninju pelan adiknya. “Lo nggak mau saingan sama Abang lo ini kan? Jangan sia-siain Zanna. Sekarang bakal disiarin langsung dan semua bakal tau lo sm Zanna saling sayang.”
Zanna dan Aksa saling pandang.
Akhirnya Aksa melepas cincin di jari Zanna. Lalu mengeluarkan kotak kecil merah dan membukanya. Cincin yang tak kalah cantik kilaunya membuat Zanna terharu.
“Kali ini bukan setting an. Kamu boleh bunuh aku kalau aku bohong.” Aksa berlutut sambil menggenggam tangan Zanna. “Will you marry me ?”
Zanna tidak bisa merasakan apapun kecuali detak jantungnya yang makin cepat.
“Na, jawab dong.” Suara Aksa nyaris berbisik agar hanya Zanna yang dengar. “Biar kita cepet pergi dari sini. Aku laper banget soalnya.”
Hampir tawa Zanna lepas melihat kepolosan Aksa. Akhirnya ia mengangguk tanda setuju. Semua bersorak ketika Aksa memakaikan cincin pertunangan resmi mereka, tanpa setting an.
“Yuk kita pergi!” tak sabar Aksa buru-buru bawa Zanna menjauh dari kamera-kamera dan terutama dua polisi Niko dan Adnan.
“Coba kamu datang lebih awal, aku nggak perlu lemes begini. Pasti di kamera tadi mukaku pucet.” Aksa malah ngomel-ngomel membuat Zanna bengong.
“Ya lagian kamu pake kode kode segala. Pake ada kamera. Emangnya aku siap syuting di pantai begitu.”
“Aku pikir kamu ngerti dan langsung datang.”
“Trus kalo aku nggak datang kamu mau apa? Nginep semalaman ?”
“Ya kali aku nginep di pantai.. besok aku ada jadwal pemotretan. Jadi… aaawwww…”
Zanna gemas dan mencubit pinggang Aksa. “Baru kamu Lamar aku malah ngajakin berantem. Laper kan? Ayo pergi makan. Nenek udah masak banyak buat kamu juga. Kita ke apartemenku. Buruan ! Awas kalo ngomel lagi!”
Aksa tersenyum sambil menggandeng tangan Zanna.
Walau suka berantem dan cemburu, mereka tetap saling sayang.
Setting an kali ini diatur yang di Atas bukan oleh Aksa sendiri.
Aksa dan Zanna akhirnya bersatu lewat pernyataan cinta terdalam yang berawal dari setting an. 😀
😀😍Hppy End 😀😁
__ADS_1