Pacar Settingan

Pacar Settingan
Bab 25


__ADS_3

Perlahan, semua mulai membaik. Ada rasa nyaman, dan takut. Rasa yang dipagarinya sejak lama tidak mampu ditahannya.


Memandangi gadis itu tertidur di pundaknya, membuatnya merasa begitu bahagia.


“Ehmmm…”


Aksa kaget. Niko memandangnya usil dari kaca spion.


“Dalem banget tatapannya. Gue ampe baper nih.” Niko meledeknya sambil menyetir.


“Berisik lo!” semprot Aksa tertahan. “Ntar dia bangun.”


“Nggak akan bangun. Barusan kan dia minum obat flu. Dijamin pules sampe malem.” Niko masih meledek. “Ngaku deh, kalian ngapain aja semalaman nginep berduaan?”


“Eh sekate-kate lo, gue nggak ngapa-ngapain. Kayak nggak tau gue aja.”


Niko terkikik geli. “Bisa jadi hot news nih. Perkasa Harinanda nginep berdua di gubuk tengah hutan sama tunangannya.”


“Sembarangan lo kalo ngomong! Gue nggak berduaan sama dia. Ada Kakek Amin dan Nenek Ningrum pemiliknya kok.”


“Tapi tetep aja, kalo ini disebar, gue yakin pamor lo meledak kayak kembang api. Hari gini nginep di gubuk? Kalo di vila gue masih maklum. Kreatif amat sohib gue ini.” Niko makin semangat meledek melihat wajah Aksa memerah.


“Awas lo ya kalo sampe kesebar!” Aksa melirik Zanna yang masih tidur pulas di pundaknya. “Gue nggak mau dia kena masalah lagi.”


“Cieee… benci jadi cinta nih kayaknya?”


BUGGHHH!


“Duuhh kira-kira dong gue lagi nyetir,” omel Niko kena bogem mentah Aksa.


“Lo yang kira-kira! Kalo dia denger gimana?”

__ADS_1


Niko langsung mingkem walau belum puas godain sahabatnya.


***


Semenjak salah paham antara mereka bersih, bukan berarti keadaan lebih baik.


Demi Senna, Zanna memutuskan untuk lebih dekat dengan Adnan. Membersihkan nama Senna di mata orang yang dicintai.


Walau tidak mudah meyakinkan Adnan, tapi Zanna tidak putus asa.


Mulanya Adnan marah sekali dan kerap mengusirnya. Tapi Zanna terus datang dan berusaha menjelaskan tentang Senna.


“Ngapain lagi kamu datang?!”


Sapaan Adnan terlontar lagi, lebih tepatnya bentakan keras.


Zanna mendekatinya membawa bungkusan. “Kamu udah makan?”


“Ini aku bawain bakmi kesukaan kamu. Kata Senna kamu suka banget sama bakmi.”


Adnan terkesiap dan memandang Zanna.


“Aku cuma denger dari Gita.” Zanna menambahkan. “Senna banyak cerita sama Gita tentang kamu. Jangan tersinggung ya.”


“Sampai kapan kamu mau pura-pura, Senna?” Adnan menatapnya tajam. “Kamu tinggal jujur sama aku alasan kamu pergi.”


“Aku bukan Senna.” Zanna menatapnya lurus. “Dan aku nggak bohong. Aku ini Zanna, saudara kembar Senna. Kami nggak saling kenal karena kami diadopsi orangtua yang berbeda.”


Adnan mendengus kesal. “Bisa banget ngarang cerita.”


Zanna memegang tangan Adnan. “Kalo kamu masih nggak percaya, kamu bisa lihat aku, Nan.”

__ADS_1


Adnan terdiam dan menatap mata Zanna dalam-dalam.


“Kalo kamu cinta sama Senna, mana mungkin kamu salah mengenal dia. Aku dan Senna berbeda. Hanya fisik kami yang sama. Senna itu mencintai kamu, aku yakin kamu nggak lupa kan tatapan Senna setiap melihat kamu.”


Kenapa aku nggak lihat kamu di mata gadis ini, Rapunzel? Batin Adnan terpukul.


“Sekarang apa lagi yang kamu ingat tentang Senna?” tanya Zanna. “Apa lagi yang perlu aku buktikan kalau aku bukan Senna.”


Mata Adnan mulai berkaca-kaca. “Senna punya bekas luka di balik telinganya.”


Tanpa pikir panjang, Zanna menyibakkan rambut dan memperlihatkan telinganya.


Air mata Adnan jatuh melihat tidak ada bekas luka pada kedua telinga Zanna.


“Mana mungkin nggak ada? Luka itu nggak akan bisa hilang.” Adnan tidak percaya. “Waktu kami OSPEK masuk SMA, aku jelas lihat ada senior yang ngelukain Senna dengan rokok. Cuma karena Senna nolak hukuman. Telinganya luka parah. Bahkan bekas luka di balik telinganya nggak hilang.”


“Karena aku bukan Senna.” Zanna menegaskan. “Tolong kamu jangan begini, Adnan. Kasian Senna. Dia sudah meninggal. Tepat ketika kamu kecelakaan.”


Lalu Zanna menceritakan yang didengarnya dari Gita. Beserta catatan medis yang didapat Niko tentang Senna. Kalau Senna sudah meninggal. Karena kelumpuhan otak yang dideritanya setelah jatuh dari tebing. Tapi Zanna tidak bercerita tentang ginjal yang Senna donorkan pada Adnan. Adnan pasti jauh lebih terpukul kalau tahu.


“Bukan cuma kamu, Nan. Tapi aku juga terpukul dengan kematian Senna.” Mata Zanna mulai berkaca-kaca. “Bahkan aku iri sama kamu yang udah kenal Senna sejak lama. Aku nggak pernah tau aku punya saudara kembar. Tapi aku berterima kasih pada adik kamu, Aksa. Dia yang bantu aku cari kebenaran tentang saudara kembarku. Dan aku harap kamu jangan menyalahkan Senna lagi. Dia sudah tenang di Sana.”


Adnan berharap yang dikatakan Zanna adalah kebohongan. Tapi yang dilihatnya hanya kejujuran.


Zanna mulai terisak mengingat Senna.


Tiba-tiba tangan Adnan membelai kepalanya.


Mereka saling bertatapan dengan mata sembab.


***

__ADS_1


__ADS_2