Pacar Settingan

Pacar Settingan
Pacar Settingan - Bagian 11


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Aksa tidak masuk kuliah. Padahal sejak dapat peringatan dari kampus, Aksa rajin masuk. Jadwal syuting pun disesuaikan dengan jadwal kuliahnya.


Mulanya hal itu biasa saja. Tapi lama-lama membuat Zanna gelisah, cemas memikirkan apa yang terjadi pada cowok itu.


HP-nya tidak bisa dihubungi. Coba menghubungi Niko pun tidak ada respon.


Ia jadi galau, merasa digantung tanpa kejelasan. Sampai tidak berani berinteraksi di dunia maya karena tidak tahan membaca komentar-komentar pedas dari fans Aksa yang menjadi haters-nya Zanna.


Setelah pekerjaannya selesai, ia segera pulang. Agar tidak ketahuan banyak orang, Zanna pesan ojek online dan pergi menggunakan masker menutup wajahnya.


Pikirannya semrawut tak karuan.


Sampai di rumah, ia heran melihat Cici duduk di ambang pintu, dengan wajah lesu. Kentara banget Cici lagi ada masalah.


“Ci, ngapain di sini?”


Cici tidak menjawab, malah makin kosong pandangan.


Zanna jadi kuatir Cici kesambet. Harus ambil tindakan secepatnya.


“Duuuuhh…!” jerit Cici sambil memegang hidungnya. “Zanna apaan sih emang idung Cici jemuran apa dijepit-jepit!”


Zanna tertawa geli. Sejak dulu kalau Cici sudah mulai melamun, Zanna langsung memencet hidungnya keras-keras supaya dia sadar.


“Eh anak gadis nggak bagus lho diem di pintu begini. Pamali.”


“Pamali kenapa? Bakal jauh dari jodoh gitu?”


“Bukan. Ya pamali, ngehalangin pintu. Aku mau masuk nih! Minggir deh!”


Cici cemberut dan menggeser, membiarkan Zanna masuk.


“Na, Cici mau curhat nih.”


“Curhat apaan?” sahut Zanna dari dalam kamar. Tak lama ia keluar sudah ganti baju, sambil menggulung rambut pakai tusuk rambut.


“Kayaknya Cici sama Abid mau pindah aja dari sini, Na.”


Zanna kaget. “Pindah? Kenapa?”


Lalu Cici cerita. Ibu mereka di kampung butuh biaya banyak untuk pengobatan, sehingga gaji Cici tidak cukup untuk membayar kontrakan bulan ini. Mereka mau pindah ke kontrakan kumuh yang paling murah.


“Kenapa nggak bilang sih, Ci? Aku kan bisa bantu. Nggak perlu kamu sama Abid pindah dari sini.” Zanna coba menghibur.


“Tapi Cici nggak bisa bayar untuk dua bulan ke depan, Na. Soalnya Cici udah kasbon gaji dua bulan ke bos, untuk biaya ibu.”


Zanna terdiam, mau nggak mau dia ketempuhan juga. Kalau Cici dan Abid pergi, mereka mau tinggal di mana?


Tapi kalau pun mereka pergi, toh Zanna harus berjuang sendiri mencari dana tambahan untuk biaya kontrakan.


Lagipula kasihan mereka kalau terlantar di Jakarta.


“Kontrakan dua bulan ke depan nggak usah kamu pikirin, Ci. Aku akan usahain. Tapi kamu sama Abid nggak perlu pindah.”


“Tapi Cici nggak enak sama Zanna.”


“Kita kan saudara, Ci. Kalau Cici sama Abid pergi yang nemenin aku di sini siapa?”


Cici langsung menangis. “Maafin Cici ya. Zanna baik banget sama Cici.”


“Tapi dengan syarat, kalau ada berita tentangku yang bocor ke orang lain dari kamu, aku bisa marah banget lho.” Untuk makhluk cerewet kayak Cici emang perlu ‘ancam’ sedikit.


“Iya Cici janji, Na.”


Setelah itu, Zanna berpikir lagi, bagaimana mendapat uang dalam waktu cepat?


Karena pemilik kontrakan terkenal tepat waktu, jika sudah waktunya bayar kontrakan, sudah diwanti-wanti sejak seminggu sebelumnya. Jika ia telat, sadisnya ia bisa diusir. Terutama karena banyak juga yang ingin mengontrak di rumah bagus yang tidak terlalu mahal ini.


Pinjam pada Pak Randy?


Dia merasa tidak enak akhir-akhir ini selalu membuat kesalahan dalam pekerjaannya.


Kalau sudah begini, ia harus memikirkan cara lain untuk mendapat uang.


“Ci, kamu bilang di tempat kamu ada lowongan?”


***


Siang yang terik, Aksa baru keluar dari studio sehabis pemotretan.

__ADS_1


Tumben-tumbenan tidak banyak fans mengerubung di depan kantor studio. Baguslah, ia juga sedang tidak mood diekspos media.


“Lo kenapa jauhin Zanna?” tanya Niko begitu ia masuk mobil.


Aksa terdiam. Wajah gantengnya jadi galau abis.


“Dia tuh cemas sama lo. Tapi lo nyuruh gue jangan ngomong apa-apa sama dia. Kasian dia, Sa. Media udah mulai bicara yang aneh-aneh kalo lo sama Zanna cuma pura-pura pacaran aja.”


“Justru itu yang bikin gue jauhin dia sementara.” Aksa buka suara. “Mama nggak suka sama Zanna karena Zanna lebih tua dari gue. Puncaknya waktu Mama ditanya teman-teman arisannya tentang gue dan Zanna, Mama bilang gue sama Zanna nggak serius karena Zanna cuma bantu gue belajar. Apalagi Mama mau kenalin gue sama anak temennya. Jadilah keluar gosip kalau gue sama Zanna cuma pura-pura.” Walau sebenarnya memang cuma settingan.


“Trus itu ngeganggu lo sekarang?” tanya Niko akhirnya. Ia tidak pernah melihat Aksa segalau ini.


“Gue juga nggak ngerti.”


“Gue aneh deh sama lo. Dulu lo nggak peduli sama alasan Zanna ninggalin Bang Adnan, dan lo ngotot mau bales dendam. Tapi sekarang kayaknya berbalik nih keadaan.”


“Justru itu yang bikin gue bingung, Nik.” Aksa menghempaskan tubuhnya lesu. “Gue bingung harus berbuat apa. Bang Adnan udah liat dia. Dan seperti dugaan gue, kondisinya memburuk dan Bang Adnan makin menjadi-jadi. Bahkan dia mimpi buruk tiap malem akan kecelakaan itu. Apa kecelakaan itu ada hubungannya dengan Zanna gue juga belum tau.”


“Kenapa lo bawa dia ketemu Bang Adnan? Ini bisa makin runyam. Dia nggak tau apa-apa dan lo juga belum jelasin sama dia.”


“Karena gue bingung dia nggak bereaksi apa-apa. Padahal gue udah pancing dia dengan ingetin tentang Rapunzel. Tapi dia kayak datar aja.”


Niko paham kegalauan sahabatnya. “Sekarang kita cuma bisa menduga-duga, sampai lo nemu waktu tepat bicara serius sama dia. Mungkin aja dia kecelakaan dan amnesia.”


“Lo kata ini film? Pake amnesia segala.”


“Gue serius. Penyakit itu bisa aja kan dia alami. Buktinya dia nggak bereaksi. Makanya walau lo ingetin dia gimana pun ekspresinya nggak akan berubah. Dia mungkin nggak tau apa-apa.”


Aksa mulai membenarkan kata Niko. Kalau memang Zanna amnesia, bagaimana caranya mempertemukan dengan Adnan?


“Gue masih belum yakin, Nik. Mending lo cari tau tentang kecelakaan Bang Adnan. Apa ada orang lain yang terlibat. Lo selidiki juga temen-temennya untuk dapat info.”


“Lo tenang aja. Yang penting lo jangan kehilangan fokus untuk kerja. Karir lo mulai redup beberapa hari ini media kurang berita tentang lo. Semua beranggapan lo menghindar.” Niko menyalakan mobil dan meluncur masuk jalan raya. “Jadwal lo kosong hari ini. Mau gue anter pulang?”


Aksa menggeleng. “Gue lagi mumet. Karaoke aja.”


Niko menurut dan melajukan mobil ke arah Kemang, Jakarta Selatan.


***


Karena karaoke ekslusif di daerah elite ini kepunyaan teman Mamanya, Aksa mendapat kemudahan akses VIP Room.


“Lo kepengen ditemenin siapa?” Niko menyetel mic dan menyalakan daftar lagu. “Perlu gue pesen Ladies?”


Ladies itu istilah pemandu karaoke perempuan.


“Terserah lo.”


Niko mengetik di layar LED, memesan dua Ladies untuk menemani karaoke.


Lampu diredupkan, dan Niko mulai berkaraoke. Kebiasaan mereka berdua sejak SMA, berkaraoke menghilangkan stress.


Pintu terbuka, dua Ladies masuk. Karena gelap, wajah mereka tidak terlalu jelas.


Salah satu Ladies sudah duduk di samping Niko, tapi Ladies yang satu mematung di ambang pintu.


Sementara Aksa duduk santai membaca-baca artikel di internet. Ia beringsut mengambil gelas minuman.


Tanpa sengaja matanya mengarah pada pintu, gelas spontan jatuh dari genggamannya.


Zanna!


***


PRANGGG!


Suara gelas pecah nyaris teredam kerasnya suara musik.


Musik dimatikan dan lampu dinyalakan.


Semua kaget menatapnya.


“Zanna?!” Aksa tidak bisa menyembunyikan wajah shock-nya melihat Zanna dengan balutan baju ketat dan minim.


Wajah Zanna memucat tertangkap basah oleh Aksa.


Niko tidak kalah kaget, mengetahui Zanna bekerja sebagai pemandu karaoke.


“Nik, gue mau bicara empat mata sama dia.”

__ADS_1


Paham situasi, Niko mengajak Ladies yang satu keluar ruangan.


Tinggal mereka berdua.


Zanna tidak berani mengangkat muka karena tahu Aksa menatapnya tajam.


Untuk beberapa saat mereka duduk berdampingan, tanpa suara. Hanya terdengar hingar-bingar musik dan nyanyian dari room lain.


“Kenapa kamu bisa kerja jadi Ladies karaoke?” tanya Aksa ketus.


Zanna tidak berani menatapnya, hanya meremas-remas jarinya gelisah.


“JAWAB!!” bentak Aksa membuat Zanna kaget.


“A-aku…” Zanna tidak kuasa menahan air matanya. “Aku butuh uang untuk bayar kontrakan.”


“Cuma itu??” Aksa tidak habis pikir. “Cuma karena uang, kamu mau kerja kayak begini? Na, kalo orang-orang tau, gimana dengan reputasi kamu sebagai asisten dosen?”


Zanna mulai terisak, takut. “Aku nggak ada pilihan.”


“Semua pasti punya pilihan. Dan kamu memilih jalan yang salah.”


“Aku cuma jadi pemandu karaoke, bukan jadi wanita penghibur.” Zanna coba menjelaskan.


“Pemandu karaoke atau apalah, emang orang percaya? Dengan gaya pakaian kamu begini, kamu kira pada percaya ‘cuma’ bekerja sebagai pemandu karaoke? Kalo kamu dipegang-pegang lalu nggak bisa menolak, begitu?” pertanyaan Aksa membuat Zanna skak mat bingung menjawab.


Sejujurnya ia tidak suka bekerja seperti ini. Jauh dari kata nyaman. Ia harus menemani para tamu yang kadang iseng menyentuhnya. Tapi apa daya dia harus dapat uang dalam waktu singkat.


“Kenapa nggak bilang sama aku kalau butuh uang?” tanya Aksa sinis.


“HP kamu off terus. Niko juga nggak jawab telepon aku.”


Aksa jadi merasa bersalah, karena dia menjauhi Zanna, sampai Zanna harus bekerja seperti ini.


Zanna mendekap tangannya sendiri, karena kedinginan, AC ruangan terlalu kencang. Pakaiannya pun cukup terbuka. Dress ketat selutut, plus make up yang cukup mengganggunya.


Tanpa buang waktu, Aksa membuka pin Ladies di baju Zanna dan mengambil jaket. “Pake ini. Kita pergi sekarang.”


Zanna tahu betul Aksa masih marah. Tapi ia menurut mengenakan jaket Aksa dan mengikutinya keluar.


***


“Lo jujur deh sama gue.”


“Jujur apaan?”


“Perasaan lo mulai berubah kan sama Zanna?”


Tebakan Niko membuat Aksa kaget dan melirik ke mobil sekilas.


“Apaan sih? Kalo dia denger gimana?”


Sementara Zanna ganti baju di dalam mobil, mereka menunggu agak jauh sambil mengawasi.


“Lo itu udah kebaca banget. Dengan kejadian tadi, lo sendiri lupa kan kalo dia cuma pacar settingan lo, dan sasaran dendam lo untuk Bang Adnan?”


Aksa baru sadar, tebakan Niko tepat. Dia seperti merasa Zanna bukan sekedar pacar settingannya.


“Perhatian dan marah lo ke dia udah nunjukin kalo lo ada rasa ke dia. Bukan sekedar dendam atau benci.”


Pembicaraan mereka terhenti ketika Zanna keluar dari mobil. Sudah mengenakan celana jins, kaos dan jaket tipis. Make up tebalnya sudah dihapus, sehingga wajahnya lebih bersih.


“Aku udah ngundurin diri jadi Ladies,” kata Zanna pelan.


Aksa dan Niko terdiam.


“Kalau kalian ada pekerjaan yang bisa aku lakuin…?” Zanna tidak berani melanjutkan.


Sementara dua cowok di depannya saling pandang.


“Ada,” jawaban Niko membuat Aksa kaget. “Aksa bakal ngerayain ulang tahunnya yang ke-21 bulan depan. Lo bisa ikutin skenario kalian tunangan. Dengan gitu, berapapun yang lo minta akan kita kasih. Dan sekarang gue akan kasih DP tiga juta cash.”


Aksa menarik Niko menjauh. “Lo apa-apaan bikin skenario nggak bilang dulu sama gue?”


“Ini harus selesai, Sa. Waktu moment kalian tunangan, lo bongkar semuanya. Gue nggak tega liat dia begini. Temuin dia sama Bang Adnan. Lo harus buat pilihan. Secepatnya gue akan cari info tentang kecelakaan Bang Adnan dan penyebab Zanna nggak inget tentang Bang Adnan. Tapi lo harus segera tentuin sikap. Lo harus siap apapun penjelasannya nanti.”


Entah kenapa Aksa tidak rela jika harus kehilangan Zanna, pacar settingannya.


***

__ADS_1


__ADS_2