
“Ternyata lo yang coba rebut dia dari gue!”
Aksa kaget disambut Adnan dengan amarah yang tidak diduganya. Adnan berdiri tanpa kursi rodanya!
“Bang, kaki lo udah sembuh?!” Aksa surprise.
BUKKKK!!
Bukannya jawaban, malah pukulan yang diterimanya telak hingga tersungkur ke belakang.
Baru mau maju, Adnan terjatuh lagi.
“Brengsek lo! Beraninya lo lamar dia di depan semua orang! Lo kan tau dia pacar gue!”
Aksa menyeka darah di bibirnya. Pukulan Adnan penuh kemarahan.
“Ada apa ini?” Mama datang langsung kaget melihat dua anaknya terkapar di lantai.
“Kenapa Mama nggak pernah cerita sama aku?” Adnan masih emosi.
“Cerita apa, Nak?”
“Aksa mau nikahin Rapunzel. Ini semua ide Mama kan?!”
Mama kaget. “Nikah? Sa, apa bener?”
Aksa berdiri sambil membalas tatapan Adnan. “Benar, Ma. Aku udah lamar Rapunzel.”
“Ya Allah.. Nak, kamu bisanya bikin masalah. Mama nggak pernah setuju ya kamu berhubungan dengan perempuan itu. Apalagi kalian berdua sampai berantem gara-gara dia. Mama nggak ikhlas dan nggak akan restuin pernikahan kamu.”
“Aku udah gede, Ma. Aku berhak bikin keputusan sendiri.”
“Meski begitu kamu tetap anak Mama. Dan Mama tidak merestui hubungan kalian. Segera mungkin kamu tinggalkan dia.” Mama membantu Adnan duduk di kursi roda dan membawanya ke kamar.
Mama sudah mengetahui Zanna yang meninggalkan Adnan dulu. Itu sudah cukup alasan Mama membencinya.
Namun Aksa tidak peduli.
Menurutnya ini harus diselesaikan dengan caranya.
Jika Adnan mengetahui maksud dan tujuan Aksa, Adnan pasti berterimakasih padanya. Karena sudah membalaskan dendam pada Rapunzel.
Tapi kenapa hatinya tidak rela?
***
Sepuluh hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Zanna pulih dan diperbolehkan pulang. Walau dianjurkan agar banyak istirahat.
Tapi harapannya untuk segera berbaring di kasurnya yang nyaman ternyata tidak tersambut.
Tiba di depan rumah, seseorang sudah menunggunya.
“Lho, Ibu?” Zanna surprise juga lihat Mamanya Aksa.
Mama mendelik tidak suka.
“Sudah lama, Bu?” Zanna hendak cium tangan namun ditepis.
“Kamu tidak usah bersikap sok manis. Saya tetap tidak suka.”
Zanna menelan ludah. “Silahkan masuk, Bu?”
“Saya nggak lama.”
“Ngg kalau begitu silahkan duduk.”
“Tidak perlu. Saya nggak akan basa-basi lagi.” Mama mengeluarkan amplop tebal dari tasnya. “Ambil ini.”
Zanna menerima dan membuka isinya. Segepok uang. “Ini untuk apa, Bu?”
Mama membelakanginya, dengan wajah sinis. “Putus dengan anak saya. Bagaimanapun juga saya tidak akan merestui pernikahan kalian. Kamu ambil uang ini, dan pergi dari kehidupan anak saya.”
Zanna menggeleng dan mengembalikannya. “Maaf saya tidak bisa terima ini, Bu. Saya juga tidak bisa meninggalkan Aksa.”
__ADS_1
“Kamu emang tidak tahu diri ya! Belum puas kamu bikin anak saya menderita, dan sekarang kamu mau mempermainkan adiknya?”
“Ibu bicara apa? Saya tidak mengerti.”
“Nggak usah sok bodoh kamu ya! Setelah kamu campakkan kakaknya Aksa, sekarang kamu mau berbuat yang sama pada Aksa? Kenapa ada wanita sejahat kamu?”
Zanna tidak mengerti arah pembicaraan Mama. “Campakkan kakaknya Aksa? Bu, saya saja tidak kenal dengan kakaknya Aksa.”
“Masih saja pura-pura. Anak saya jadi depresi gara-gara kamu. Saya nggak akan biarin kamu permainkan Aksa juga. Mulai sekarang, jauhi Aksa. Batalkan pertunangan kalian, atau saya akan hancurkan hidup kamu!”
“Bu.. tapi saya benar-benar nggak kenal kakaknya Aksa,” Zanna makin panik, ketika mamanya Aksa pergi.
Mama tidak peduli penjelasannya.
Air matanya menitik, apa benar dia melakukan kesalahan yang tidak diingatnya?
Kepalanya mulai sakit lagi. Ia berbalik hendak masuk rumah, ketika tiba-tiba bahunya ditepuk dari belakang.
“Kita perlu bicara, Na.”
Gita!?
Zanna ingin menolak, tapi penasaran apa yang ingin Gita sampaikan.
***
Mobil berhenti di hutan kawasan Bogor. Masih jam 08.00 pagi.
“Aksa lagi syuting di sana. Lo ke sana aja sendiri.” Niko memberi jaket. “Sorry gue nggak bisa nemenin. Gara-gara foto yang kesebar pagi ini, Aksa jadi marah-marah. Lo yang sabar ya hadepin dia.”
Zanna memakai jaket dan melepas ikatan rambutnya. “Aku pergi dulu.”
Niko memandangi kepergian Zanna masuk lokasi syuting, dan melihat HP-nya.
Pagi ini tersebar foto Zanna bersama seorang cowok di dalam mobil yang cukup gelap. Dari pose mereka jelas tergambar hubungan mereka bukan hubungan biasa. Foto itu jelas bikin geram para fans Aksa. Yang tidak terima idolanya dikhianati padahal sudah dilamar.
Dan foto itu cukup bikin Aksa galau sepanjang hari.
***
Masih tersisa dua scene lagi. Aksa melepas jaket kotornya. Sungguh merepotkan syuting adegan dimana dia mengejar penculik sampai ke hutan.
Ia duduk di kursi lipat dengan wajah suntuk.
“Mas, ganti dulu sepatunya ya.” Boim sampai takut-takut bicara.
“Ntar aja. Scene gue masih dua jam lagi. Mending lo bawa pizza pesenan gue.”
Boim patuh aja bergegas pergi.
Windi membersihkan wajah Aksa yang kotor sehabis adegan jatuh.
Aksa membuka akun instagram-nya.
“Mas, mending jangan liat sosmed dulu,” sahut Windi. “Ntar Mas Aksa badmood lagi.”
“Mending lo diem deh, Win,” sinis Aksa membuat Windi mingkem.
Memang dia bete sejak dikejar-kejar wartawan, menanyakan seputar perselingkuhan Zanna.
Dia sendiri belum klarifikasi mengenai foto itu.
HP-nya berbunyi. Mama.
“Win, bikinin gue kopi,” titah Aksa.
Windi mengangguk patuh dan bergegas pergi.
“Halo, Ma?”
“Kamu pasti lagi sedih ya, Nak?”
Aksa mengerutkan kening. “Aku lagi syuting, Ma. Ada apa?” ia tahu Mama ingin menanyakan tentang gosip yang beredar.
__ADS_1
“Udah, kamu tinggalin aja pacarmu itu. Dia nggak pantes untuk kamu, Nak.”
“Mama nyuruh aku putus sama Zanna?”
“Dia sendiri udah setuju putus sama kamu.”
Aksa kaget. “Maksud Mama?”
Lalu Mama bercerita kemarin mendatangi Zanna memintanya meninggalkan Aksa. Bahkan Zanna tidak menolak uang yang diberikan Mama. Penjelasan Mama membuatnya makin emosi mengingat Zanna.
Setelah pembicaraan dengan Mama selesai, Aksa mengambil botol minum dan meneguknya dengan perasaan kesal.
Tanpa sengaja tatapannya tertuju pada sosok berjaket dan berambut panjang berjalan ke arahnya.
“Ngapain kamu di sini?” tanya Aksa dingin.
Zanna menggigit bibir, bingung mulai dari mana. “Kita perlu bicara, Sa.”
Aksa memperhatikan sekeliling, semua sibuk mempersiapkan syuting. Ia berdiri dan menggamit tangan Zanna, membawanya menjauh ke tempat sepi.
“Aksa, kamu masih marah tentang foto yang kesebar?”
“Kamu masih nanya?”
“Aku bisa jelasin, Sa.”
“Apa yang perlu dijelasin? Kamu ada hubungan sama Aris, malem-malem pake berduaan di mobil.”
“Ini nggak seperti yang kamu pikir, Sa. Aku sama Aris, nggak ada apa-apa..” Zanna mulai panik menjelaskan.
“Nggak ada apa-apa? Cuma orang **** yang bisa bilang kamu sama dia nggak ada apa-apa.” Aksa menunjukkan foto Aris sedang mengelus kepala Zanna, mesra, sambil memandangnya penuh sayang.
Zanna bingung sampai hampir menangis. Tapi kemudian tersadar. “Sebelum kita bahas lebih jauh, aku mau tegasin hubungan kita. Kenapa kamu marah? Toh hubungan kita bukan serius. Aku cuma mainan kamu. Kalau kamu lupa, aku cuma pacar settingan kamu. Apa masalahnya kalau aku dekat dengan orang lain?”
Aksa tertonjok ditanya begitu. Baru menyadari, akhir-akhir ini ia sendiri lupa status Zanna yang sebenarnya.
“Kamu cemburu?” tembak Zanna heran.
“Cemburu?” Aksa gelagapan dan mendengus keras. “Jangan ngasal deh! Aku nggak pernah lupa status kamu.”
“Kalau gitu kamu jelasin sama aku, apa tujuan kamu sebenarnya perlakuin aku kayak gini?”
Tampaknya Zanna sudah tidak tahan dengan sikap Aksa.
Aksa memejamkan mata, pedih. Apa ini saatnya?
“Jawab, Sa! Tolong jangan siksa perasaan aku kayak gini!” air mata Zanna menetes.
Be calm! Jangan terpengaruh! Batinnya.
Zanna menyandar pada pohon dan mulai menangis. “Kalo aku punya salah, tolong beritahu aku. Jangan siksa aku kayak gini. Kamu lamar aku di depan semua orang, tapi itu hanya pura-pura. Tapi kamu nggak pernah pikirin perasaan aku kan? Aku juga manusia, Sa. Aku nggak tahan kamu perlakukan kayak gini. Tanpa kejelasan.”
“Lo mau bahas tentang perasaan?” balas Aksa sengit sambil menatapnya tajam. “Setelah apa yang lo lakuin ke abang gue, lo masih ngaku punya perasaan?”
Zanna kaget. “Abang kamu?”
“Nggak usah pura-pura lagi, Na. Ngaku aja, lo tinggalin abang gue setelah dia cacat kan? Lo emang nggak tau diri ya? Setelah lo tinggalin dia, lo bersikap seakan-akan nggak kenal abang gue.”
“Sa, aku nggak ngelakuin itu!” Zanna merasakan sakit di kepalanya. “Kamu salah paham.”
“Salah paham apa? Lo masih nggak mau ngaku juga, Rapunzel?”
Zanna mengerjapkan mata. “Rapunzel?”
“Kenapa? Lo nggak inget panggilan kesayangan abang gue buat lo?” Aksa makin geram karena Zanna tidak mengaku.
“Aku…”
Zanna memegang kepalanya, sakitnya makin tidak tertahan.
“Gue nggak bakal ketipu lagi sama akting lo! Temuin gue kalo lo udah siap ngaku kesalahan lo sama abang gue.” Aksa berbalik pergi, tanpa peduli Zanna kesakitan.
***
__ADS_1