Pacar Settingan

Pacar Settingan
Bab 4


__ADS_3

Tak lama mobil berhenti di depan sebuah kafe.


“Ngapain kita di sini?” tanya Zanna heran.


Aksa menarik rem tangan dan mematikan mesin mobil. “Bisa nggak lo jangan banyak tanya?”


Zanna jadi gondok dan melepas seat-belt. “Kalo gitu aku nggak mau nurutin kemauan kamu.”


Aksa kaget. “Lo ngebantah gue?”


“Selama kamu nggak bersikap lebih baik sama aku, aku nggak akan ikutin mau kamu.” Zanna membuka pintu mobil, Aksa menahan tangannya.


“Lo nggak takut dipenjara?”


Zanna balas menatapnya. “Coba aja.”


Aksa mencengkeram tangannya. “Gue paling nggak suka nggak dihargain.”


“Oh ya? Sebelum itu mending kamu belajar menghargai orang.” Zanna menepis tangan dan keluar mobil.


Tapi ternyata itu keputusan terburuk, ia tidak melihat gerombolan orang-orang yang membawa kamera, langsung menyerbunya.


Berbagai pertanyaan terlontar tumpang tindih sampai Zanna sendiri tidak sanggup mencerna. Dan sibuk menutupi wajahnya agar tidak tertangkap kamera, namun ia sadar usahanya sia-sia.


Semua menanyakan perihal hubungannya dengan Aksa.


Terjepit diantara para wartawan buas sungguh lebih mengerikan dibanding Pak Randy ketika sidang skripsinya.


“Aaaww!!” jeritnya ketika kakinya terinjak.


Tiba-tiba tangannya ditarik. Begitu menoleh, Aksa menahan tubuhnya.


Lalu bak pangeran dalam dongeng, Aksa mengaitkan tangan pada punggung dan kaki Zanna, dan menggendongnya yang kesakitan.


Zanna kaget setengah mati, dan menutup wajahnya berharap tidak tertangkap kamera, walau sia-sia.


Setelah susah payah, mereka berhasil masuk private room dibantu oleh Niko.


“Udah nggak ada mereka kan? Cepet turunin aku!” seru Zanna.


Tanpa aba-aba, Aksa membanting tubuh Zanna ke sofa.


“Sa, hati-hati!” sentak Niko.


“Duuuhh..” Zanna kesakitan.


“Dia yang minta diturunin,” sahut Aksa cuek.


Niko mengunci pintu karena di luar fans-fans Aksa makin liar ingin menerobos masuk.


“Gue udah bilang jangan ngebantah gue,” kata Aksa sinis sambil duduk di sofa.

__ADS_1


Zanna meringis kesakitan.


“Lo kenapa?” tanya Niko heran.


Zanna tidak menjawab, dan melepas sepatunya.


Niko kaget. “Kok bisa begini?”


Kaki Zanna memar dan agaknya kesakitan.


“Nggak usah lebay deh,” celetuk Aksa. “Cuma keinjek doang.”


“Sa, ini memar lho. Lo liat deh.”


Aksa melihat sekilas. “Biasa aja.”


Zanna menahan sakit, lebih sakit menerima perlakuan Aksa. Yang memperlakukannya seperti boneka.


“Gue telepon Windi untuk bawain es batu. Luka ini harus dikompres biar nggak bengkak.” Niko mengeluarkan HP.


Sementara Aksa tenang-tenang saja, asyik dengan HP-nya.


“Kenapa bawa aku ke sini?” tanya Zanna kesal. “Aku kan udah bilang nggak mau ikut kamu!”


Aksa cuek menjawab. “Nggak usah acting. Padahal lo seneng gue belain. Semua cewek sama aja. Sok marah sok kesel, pergi, ngarep dikejar sama cowok. Basi!”


“Tapi aku nggak harap kamu kejar aku!”


Zanna menghela nafas. Emang sia-sia ngomong sama artis sombong ini!


Windi datang membawa es. Sementara Windi membantu kompres luka Zanna yang lumayan parah, Niko berbicara pada Aksa.


“Kayaknya lo terlalu kasar sama dia.”


Aksa mendengus sinis. “Nggak ada alasan gue harus bermanis-manis sama dia.”


“Yah gue juga tau lo mana bisa manis sama cewek. Setidaknya lo bisa bersikap baik lah sama dia. Gimana pun juga dia udah masuk ke permainan lo. Semua taunya dia pacar lo, bahkan gue udah lepas berita lo rencana mau tunangan dalam waktu dekat. Tapi gue ngerasa lo berlebihan, Sa. Kenapa lo minta atur skenario kalian tunangan?”


Aksa menggeleng malas. “Gue nggak mau bahas.”


“Buat gue perlu. Ini menyangkut reputasi lo. Gue harus tau semua maksud lo milih dia, pasti bukan karena lo mau.”


“Apaan sih lo?”


“Serius. Lo harus jelasin ke gue semua. Kita udah janji nggak ada rahasia. Itu juga kalo lo masih anggap gue sahabat.”


Aksa terdiam dan melihat Zanna. “Kita bicara nanti. Sekarang mesti gue bawa ke mana ni cewek?”


Niko masih penasaran tapi menurut. “Lo kan mau klarifikasi tentang hubungan kalian.”


“Atur aja. Udah beres kita langsung pulang. Gue bakal jelasin di rumah.”

__ADS_1


***


Menjelang sore, Zanna baru tiba di rumah kontrakannya. Niko mengantarnya sampai ujung gang karena jalannya pincang.


Begitu tiba, ia duduk di kasur begitu saja sambil memijit-mijit kakinya.


“Zanna!!!”


Cuma ada satu makhluk yang Zanna kenal bersuara histeris dan cempreng ala burung kesedak cabe. Cici!


“Heboh banget lho di TV! Zanna kok bisa pacaran sama Aksa!!? Kalian udah lama pacaran?! Kok nggak pernah cerita sama Cici?”


“Ci, nanya satu-satu dong. Nggak liat kakiku sakit begini.”


Cici langsung panik. “Eh aduh kenapa kaki Zanna begini? Tunggu ya Cici ambilin obat.”


Zanna melepas ikat rambut dan menggerai rambut panjangnya.


Cici ini saudara sepupunya dari kampung di Sukabumi. Cici datang ke Jakarta bersama Abid adiknya yang melanjutkan SMA di Jakarta. Cici datang untuk ikut seleksi masuk universitas negeri. Namun sayangnya gagal. Sambil menunggu seleksi tahun depan, Cici tinggal bersama Zanna satu kontrakan, Abid pun ikut serta. Baginya tidak masalah berbagi kontrakan, meringankan biaya sewa dan ia hanya bayar setengahnya.


Sementara menunggu tahun depan, Cici dapat pekerjaan sebagai waitress di karaoke. Katanya untuk menabung biaya kuliah nanti, juga untuk membiayai Abid. Selain itu Cici tekun belajar pada Zanna yang memang cerdas. Zanna membantunya agar bisa lolos di seleksi selanjutnya.


Kontrakan kecil ini mempunyai dua kamar tidur. Cici menempati kamar yang lebih kecil. Ruang depan dilengkapi tv dan kasur, menjadi tempat tidur Abid yang tidak kebagian kamar. Dapur dan kamar mandi.


Mendengar kabar Zanna dan Aksa yang menggegerkan infotainment, tidak mungkin Cici tidak histeris kecuali dia lagi sakit thypus. Apalagi Cici penggemar fanatik Aksa, yang tidak pernah melewatkan nonton sinetronnya Aksa setiap malam.


Mengingat kejadian hari ini membuatnya lelah. Dia tidak habis pikir Aksa sebegitu ngototnya ingin dia jadi pacar walau settingan. Tapi karena terdesak, dia terpaksa mengikuti maunya Aksa.


Teringat ketika Aksa menyelamatkannya dari wartawan, tanpa malu Aksa menggendongnya yang kakinya sakit. Meski kasar, ia bisa merasakan Aksa sedikit punya hati nurani.


“Eh kok aku jadi mikirin dia?” ia bingung sendiri dan geleng-geleng kepala. “Jangan baper deh.”


Begitu kakinya selesai diobati, Cici mulai menginterogasi lagi.


“Yah yang penting kamu udah tau kan?” ia tidak berkomentar.


“Tapi kalian beneran udah lama pacaran?”


Zanna cuma angkat bahu. “Kamu udah nonton infotainment kan. Semua udah dibahas.”


“Tapi…”


“Eh masak apa, Ci? Laper nih.”


“Zanna belum makan? Ya udah tunggu. Cici panasin sopnya.”


Begitu Cici ke dapur, Zanna tercenung. Lebih baik Cici tidak tahu. Kelemahan Cici cuma satu, paling nggak bisa jaga rahasia dan mudah terpancing. Kalau dia cerita hubungan settingannya dengan Aksa, dia jamin besok sekampung bisa dengar kabarnya. Cici kan kalo belanja sayur paling suka ngegosip sama ibu-ibu. Yang udah-udah semua cerita Zanna pasti kesebar di kampungnya. Untung aja tu anak gaptek dan nggak punya HP bagus untuk main medsos. Kalau punya, ia yakin yang mengetahui rahasianya bukan cuma sekampung.


Lebih baik dia mandi dan istirahat. Besok harus siap menghadapi Aksa.


Ia masuk kamar mandi dan berusaha melupakan beban pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2