Pacar Settingan

Pacar Settingan
Pacar Settingan - Bagian 18


__ADS_3

Tidak seorang pun tahu suasana hati Aksa saat ini.


Bahkan Niko kelimpungan melihat sahabatnya diam seribu basa. Tanpa ada pembicaraan.


Aksa patah hati. Itu yang sebenarnya. Sesuatu yang dia tidak siap hadapi. Walau memang bukan salah Zanna. Tapi penyesalan memang selalu datang terlambat.


Mungkin ini karma untuknya sudah mempermainkan gadis itu. Menyeretnya dalam skenario sebagai pacar settingan. Tanpa mempedulikan perasaannya. Ia jadi harus kehilangan Zanna sebelum menyatakan perasaan yang sesungguhnya.


“CUT!”


Sutradara puas pengambilan adegan terakhir hari ini.


Tanpa bicara, Aksa berbalik ke tempatnya.


Baik Niko, Boim maupun Windy tidak ada yang berani menegur.


Suasana hati Aksa sedang galau.


Untung saja adegan yang diambil tadi memang adegan sedih. Jadi Aksa tidak perlu pendalaman karakter karena suasana hatinya memang sesuai.


“Sa, ada pesen dari Zanna.”


Aksa menoleh. “Apaan?”


“Dia pengen ketemu lo. Dia coba telepon lo tapi HP lo off.” Niko menunjukkan message HP-nya.


Apa aku sanggup nemuin kamu lagi, Na?


***


Angin pantai membelainya lembut ketika tiba. Sore menjelang dan suasana tidak terlalu ramai.


Aksa mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tatapannya terhenti pada gadis yang duduk di bangku menghadap laut.


Zanna.


Gadis itu sedang menunggunya.


Seberapa keras ia berusaha menghindari Zanna, semakin ia rindu.


Tapi ia tidak bisa terima gadisnya sudah menjadi calon kakak iparnya. Dia belum siap kehilangan Zanna.


“Aksa!”


Ia kaget, baru sadar sejak tadi dia berdiri di tempat. Suara Zanna memanggilnya.


Dengan hati yang ditegar-tegarkan ia menghampiri Zanna.


“Udah lama?” Aksa duduk di sampingnya.


Zanna cuma tersenyum kecil. “Kenapa HP kamu off?”


Aksa tidak menjawab. Hanya memandangi Zanna yang hari ini terlihat makin cantik.


Anehnya Zanna pun terlihat gelisah dan tidak berani membalas tatapan Aksa.


“Katanya mau bicara?” tanya Aksa karena Zanna diam saja. “Kenapa ke sini? Kenapa nggak di rumah?”


“Ngg… aku mau bicara serius sama kamu.”


Pasti Zanna mau bicarain rencana pernikahannya dengan Bang Adnan, batin Aksa terpukul.


“Aksa, aku mau kita putus.”


DEG! “Apa?”


Zanna menatapnya takut-takut. “Maksud aku, hubungan settingan kita. Kayaknya sudah saatnya kita berhenti. Lagipula semua salah paham kita sudah selesai. Kamu bisa umumkan sama fans-fans kamu semua, kalau hubungan kita udah….”


“Apa harus kita putus?” sedetik kemudian Aksa menyesal melontarkan pertanyaan konyol.


“Apa ada alasan kita harus pertahanin hubungan settingan ini?” Zanna balas bertanya.


Bego lo, Sa! Lo udah tau Zanna bakal minta putus! Ngapain lo pancing-pancing dia segala! Tubuh Aksa menegang.


“Sa, kamu kenapa?” Zanna memegang tangannya. “Kamu sakit?”


“Kenapa kamu tiba-tiba minta kita putus? Kamu udah punya pacar lagi?”


Zanna terdiam.


Untuk beberapa saat mereka saling membisu.


“Aksa,” suara Zanna nyaris berbisik. “Kamu bisa tanpa aku?”


Aksa memejamkan mata perih. Nggak, Na! Aku nggak sanggup tanpa kamu!

__ADS_1


“Pertanyaan apa itu?”


“Ya aku aneh aja. Kamu nggak suka sama aku. Tapi kayaknya kamu keberatan kalo kita putus. Seharusnya kamu senang.”


“Aku nggak senang!”


“Tapi kenapa?”


“Kamu bikin keputusan sepihak tanpa bicara dulu sama aku.”


“Aku udah berusaha hubungin kamu beberapa hari ini tapi HP kamu off. Kamu juga nggak datang ke rumah mama kamu. Padahal aku nungguin kamu dari kemarin. Ini juga bukan keputusan sepihak, kalau kamu memang nggak mau kita putus, kasih aku satu alasan kenapa?”


“Ya karena aku suka sama kamu!”


***


Zanna kaget dan menatap Aksa tidak percaya.


Apa nggak salah tadi Aksa bilang…?


“Ka-kamu serius?”


Aksa terlihat salah tingkah dan tidak berani membalas tatapannya.


“Sa, kamu serius suka sama aku?” ia memastikan.


“Ya enggak lah, ngarep amat.” Aksa tergelak pelan. “Ya sebenernya sejak kemarin aku udah mau bicarain tentang itu. Cuma ya kemarin-kemarin aku sibuk dan nggak sempat ketemu kamu.”


Zanna menggigit bibir, kecewa.


“Tentang pertanyaan kamu tadi, logika aja, ya bisa lah aku tanpa kamu. Hubungan kita kan cuma settingan.”


Sebisa mungkin Zanna menahan air matanya.


“Lagian kenapa kamu nggak bicara langsung aja? Kamu putusin aku karena kamu mau nikah sama Bang Adnan kan? Kalian tuh kayak ABG aja pake diem-diem.”


Zanna kaget tapi tidak bisa membalas.


“Aku udah liat kalian kemarin. Dan aku seneng kok kalian akhirnya buat keputusan tepat. Selamat ya.”


“Sa, tapi aku nggak…”


“Udahlah, Na. Aku restuin kalian. Kalau perlu, nanti biar aku yang urus pernikahan kalian. Aku kenal banyak wedding organizer.”


“Kamu nggak perlu…” Zanna sulit menjelaskan. “Semua kan taunya kita…?”


Zanna kehabisan kata-kata.


Aksa melihat jam tangan. “Aku harus pergi nih, masih ada pemotretan. Kamu bisa kan pulang sendiri?”


Zanna tidak menjawab, terpaku menatap Aksa.


Tiba-tiba Aksa mengusap kepala Zanna, lembut. “Maaf ya kalo selama ini aku memperlakukan kamu kurang baik. Semoga kamu bahagia sama Bang Adnan.”


Setelah berkata begitu, Aksa berlalu pergi.


Air mata Zanna menetes, lalu ia terisak tidak tertahan. Kenapa jadi begini?


***


Selama dua hari Aksa berusaha keras tidak memikirkan Zanna. Ia mencoba fokus karena dapat tawaran film layar lebar.


Semalaman dia gelisah, tapi bertekad untuk melupakan Zanna.


“Sa, kapan dateng?” Adnan mengejutkannya. “Kok gue nggak denger suara mobil lo?”


“Baru aja.” Aksa menyahut sambil duduk di sofa. “Gue barusan naik taksi, mobil lagi diservis.”


Adnan heran melihat sikap adiknya. “Lo lagi ada masalah?”


Aksa menoleh. “Nggak ada, Bang.”


“Muka lo kusut gitu. Cerita aja sama gue.”


Sungguh malas berbicara dengan Adnan. “I’m okay.” Ia melirik tongkat yang digunakan Adnan. “Sekarang lo bisa jalan pake tongkat?”


Adnan tersenyum. “Iya nih, berkat Zanna terus maksa gue latihan jalan, sekarang kaki gue udah membaik. Walau masih dibantu tongkat, tapi kata dokter, ada harapan buat kaki gue sembuh total.”


Kenapa Adnan mesti nyebut nama Zanna sih? Bikin Aksa galau lagi.


Tapi ia tidak mau menunjukkan kecemburuannya. “By the way, jadi kapan rencana kalian nikah?”


Adnan kontan bengong. “Nikah? Gue? Sama siapa?”


Aksa meninju pelan lengan Adnan. “Gue udah tau, lo sama Zanna mo nikah. Pake nutupin segala.”

__ADS_1


“Nikah?” Adnan malah bingung.


“Gue liat waktu lo ngelamar Zanna di taman.”


Adnan mengingat-ingat dan matanya membulat. “Ohhh itu…”


Aksa heran reaksi Adnan di luar dugaan.


#############################


“Will you marry me?” tanya Adnan menatap Zanna lekat.


Zanna tersenyum. “I will.”


Adnan ikut tersenyum dan menghela nafas lega. “Kira-kira gitu deh, Na. Rencanaku.”


“So sweet amat sih, Nan. Yakin deh Senna meleleh kalo denger pernyataan kamu kayak gitu,” komentar Zanna.


“Menurut kamu, dia bakal jawab begitu?”


“Hmm… kayaknya sih. Soalnya Senna kan sayang banget sama kamu, Nan.”


Adnan tersenyum pahit. “Eh kamu jangan baper, aku cuma nunjukin rencana aku lamar Senna dulu.”


“Diiihh siapa juga yang baper.” Zanna tergelak. “Yang penting kamu udah terima kenyataan tentang Senna. Mulai sekarang, kamu harus jalanin hidup kamu baik-baik. Senna pasti nggak mau liat kamu pesimis.”


“Iya Na, aku sadar kok. Nggak seharusnya aku kacau begini. Makasih ya, Na, udah nemenin aku.”


Zanna mengangguk. “Semoga nanti kamu dapat wanita yang bisa mengerti kamu ya, Nan.”


#############################


“Jadi kalian cuma…?” Aksa kaget bukan main karena tidak menyaksikan adegan selanjutnya.


“Iya lah, emang lo pikir gue mau nikahin dia? Gue kan cinta banget sama Senna. Gue cuma menghibur diri aja, dengan nunjukin cara gue lamar Senna dulu. Lagian mana mungkin gue bisa bikin adik gue patah hati.”


“Gue kira…” Aksa sampai kehabisan kata-kata.


“Lo kira apa?” selidik Adnan. “Lo bicara apa sama Zanna?”


“Gu-gue…”


“Hmm… gue ngerti sekarang. Pantesan dia sedih waktu kemarin ke sini.”


“Dia ke sini?”


“Lo salah paham kan sama dia? Kemarin sore dia ke sini. Dia bilang udah ketemu sama lo. Tapi dia nggak bicara apa-apa sama gue. Gue udah tebak pasti ada yang nggak beres.”


“Ta-tapi… kemarin dia minta putus sama gue? Gue pikir karna dia mau nikah sama lo.”


Adnan menepuk jidat. “Pantesan dia nangis. Lo udah salah paham lagi kan. Harusnya lo denger penjelasan dia dulu.”


“Tapi kalo bukan, trus kenapa dia putusin gue?”


“Dia dapat beasiswa S2 ke New York. Makanya dia minta putus sama lo. Karena dia harus pergi beberapa tahun, bisa jadi nggak bakal balik kalo keterima kerja di sana.”


“APA?!!” Aksa shock bukan main. “Di-dia… kapan dia berangkat?”


“Tadi malam.”


Aksa terjatuh lemas.


“Dia titip salam buat lo. Katanya maaf kalau nggak sempat pamit. Soalnya lo juga susah dihubungi.”


Aksa tidak mendengar kelanjutan kata-kata Adnan, tatapannya kosong, shock dengan kepergian Zanna.


***


Aksa, terima kasih ya. Secara nggak langsung, kamu bantu usahaku untuk menggapai impianku untuk dapat beasiswa S2. Bantuan kamu dengan pinjamkan laptop waktu itu, sangat berarti buat aku.


Terima kasih untuk semuanya. Walau kamu cuek, tapi aku tau kamu sebenarnya baik. Seharusnya aku nggak berharap lebih sama kamu. Dengan segala perhatian yang kamu berikan. Tapi kadang aku suka terbawa suasana dan berpikir kamu benar-benar suka sama aku.


Harusnya aku tau diri.


Aku juga senang bisa dekat sama kamu, walau hanya pura-pura.


Dan… selesaikan kuliah kamu. Aku udah siapkan beberapa diktat kuliah yang belum kamu selesaikan. Ada di kamar kamu. Aku nggak bisa bantu kamu belajar. Tapi aku yakin kamu bisa.


Good luck!


Email dari Zanna, membuatnya menyesal tidak bisa bertemu Zanna sebelum dia pergi.


Meski sibuk mengurus banyak keperluan, Zanna masih sempat-sempat memikirkan dirinya. Semua diktat yang disiapkan Zanna untuk memudahkannya belajar.


Aksa memandang foto Zanna di HP-nya. “Aku sayang kamu, Na.”

__ADS_1


***


__ADS_2