Pacar Settingan

Pacar Settingan
Bab 22


__ADS_3

Mobil berhenti di hutan kawasan Bogor. Masih jam 08.00 pagi.


“Aksa lagi syuting di sana. Lo ke sana aja sendiri.” Niko memberi jaket. “Sorry gue nggak bisa nemenin. Gara-gara foto yang kesebar pagi ini, Aksa jadi marah-marah. Lo yang sabar ya hadepin dia.”


Zanna memakai jaket dan melepas ikatan rambutnya. “Aku pergi dulu.”


Niko memandangi kepergian Zanna masuk lokasi syuting, dan melihat HP-nya.


Pagi ini tersebar foto Zanna bersama seorang cowok di dalam mobil yang cukup gelap. Dari pose mereka jelas tergambar hubungan mereka bukan hubungan biasa. Foto itu jelas bikin geram para fans Aksa. Yang tidak terima idolanya dikhianati padahal sudah dilamar.


Dan foto itu cukup bikin Aksa galau sepanjang hari.


Niko hanya berharap masalahnya cepat selesai.


***


Masih tersisa dua scene lagi. Aksa melepas jaket kotornya. Sungguh merepotkan syuting adegan dimana dia mengejar penculik sampai ke hutan.


Ia duduk di kursi lipat dengan wajah suntuk.


“Mas, ganti dulu sepatunya ya.” Boim sampai takut-takut bicara.


“Ntar aja. Scene gue masih dua jam lagi. Mending lo bawa pizza pesenan gue.”


Boim patuh aja bergegas pergi.


Windi membersihkan wajah Aksa yang kotor sehabis adegan jatuh.


Aksa membuka akun instagram-nya.


“Mas, mending jangan liat sosmed dulu,” sahut Windi. “Ntar Mas Aksa badmood lagi.”


“Mending lo diem deh, Win,” sinis Aksa membuat Windi mingkem.


Memang dia bete sejak dikejar-kejar wartawan, menanyakan seputar perselingkuhan Zanna.


Dia sendiri belum klarifikasi mengenai foto itu.


HP-nya berbunyi. Mama.

__ADS_1


“Win, bikinin gue kopi,” titah Aksa.


Windi mengangguk patuh dan bergegas pergi.


“Halo, Ma?”


“Kamu pasti lagi sedih ya, Nak?”


Aksa mengerutkan kening. “Aku lagi syuting, Ma. Ada apa?” ia tahu Mama ingin menanyakan tentang gosip yang beredar.


“Udah, kamu tinggalin aja pacarmu itu. Dia nggak pantes untuk kamu, Nak.”


“Mama nyuruh aku putus sama Zanna?”


“Dia sendiri udah setuju putus sama kamu.”


Aksa kaget. “Maksud Mama?”


Lalu Mama bercerita kemarin mendatangi Zanna memintanya meninggalkan Aksa. Bahkan Zanna tidak menolak uang yang diberikan Mama. Penjelasan Mama membuatnya makin emosi mengingat Zanna.


Setelah pembicaraan dengan Mama selesai, Aksa mengambil botol minum dan meneguknya dengan perasaan kesal.


“Ngapain kamu di sini?” tanya Aksa dingin.


Zanna menggigit bibir, bingung mulai dari mana. “Kita perlu bicara, Sa.”


Aksa memperhatikan sekeliling, semua sibuk mempersiapkan syuting. Ia berdiri dan menggamit tangan Zanna, membawanya menjauh ke tempat sepi.


“Aksa, kamu masih marah tentang foto yang kesebar?”


“Kamu masih nanya?”


“Aku bisa jelasin, Sa.”


“Apa yang perlu dijelasin? Kamu ada hubungan sama Aris, malem-malem pake berduaan di mobil.”


“Ini nggak seperti yang kamu pikir, Sa. Aku sama Aris, nggak ada apa-apa..” Zanna mulai panik menjelaskan.


“Nggak ada apa-apa? Cuma orang bego yang bisa bilang kamu sama dia nggak ada apa-apa.” Aksa menunjukkan foto Aris sedang mengelus kepala Zanna, mesra, sambil memandangnya penuh sayang.

__ADS_1


Zanna bingung sampai hampir menangis. Tapi kemudian tersadar. “Sebelum kita bahas lebih jauh, aku mau tegasin hubungan kita. Kenapa kamu marah? Toh hubungan kita bukan serius. Aku cuma mainan kamu. Kalau kamu lupa, aku cuma pacar settingan kamu. Apa masalahnya kalau aku dekat dengan orang lain?”


Aksa tertonjok ditanya begitu. Baru menyadari, akhir-akhir ini ia sendiri lupa status Zanna yang sebenarnya.


“Kamu cemburu?” tembak Zanna heran.


“Cemburu?” Aksa gelagapan dan mendengus keras. “Jangan ngasal deh! Aku nggak pernah lupa status kamu.”


“Kalau gitu kamu jelasin sama aku, apa tujuan kamu sebenarnya perlakuin aku kayak gini?”


Tampaknya Zanna sudah tidak tahan dengan sikap Aksa.


Aksa memejamkan mata, pedih. Apa ini saatnya?


“Jawab, Sa! Tolong jangan siksa perasaan aku kayak gini!” air mata Zanna menetes.


Be calm! Jangan terpengaruh! Batinnya.


Zanna menyandar pada pohon dan mulai menangis. “Kalo aku punya salah, tolong beritahu aku. Jangan siksa aku kayak gini. Kamu lamar aku di depan semua orang, tapi itu hanya pura-pura. Tapi kamu nggak pernah pikirin perasaan aku kan? Aku juga manusia, Sa. Aku nggak tahan kamu perlakukan kayak gini. Tanpa kejelasan.”


“Lo mau bahas tentang perasaan?” balas Aksa sengit sambil menatapnya tajam. “Setelah apa yang lo lakuin ke abang gue, lo masih ngaku punya perasaan?”


Zanna kaget. “Abang kamu?”


“Nggak usah pura-pura lagi, Na. Ngaku aja, lo tinggalin abang gue setelah dia cacat kan? Lo emang nggak tau diri ya? Setelah lo tinggalin dia, lo bersikap seakan-akan nggak kenal abang gue.”


“Sa, aku nggak ngelakuin itu!” Zanna merasakan sakit di kepalanya. “Kamu salah paham.”


“Salah paham apa? Lo masih nggak mau ngaku juga, Rapunzel?”


Zanna mengerjapkan mata. “Rapunzel?”


“Kenapa? Lo nggak inget panggilan kesayangan abang gue buat lo?” Aksa makin geram karena Zanna tidak mengaku.


“Aku…”


Zanna memegang kepalanya, sakitnya makin tidak tertahan.


“Gue nggak bakal ketipu lagi sama akting lo! Temuin gue kalo lo udah siap ngaku kesalahan lo sama abang gue.” Aksa berbalik pergi, tanpa peduli Zanna kesakitan.

__ADS_1


***


__ADS_2