
“Dia kelelahan. Dan perutnya kosong. Mungkin dia belum makan seharian. Tapi setelah istirahat dan diberi cairan infus dia akan segera sadar. Kalau dia sudah bangun, berikan makanan yang bergizi.”
Mendengar perkataan Dokter membuat Aksa menghela nafas lega. “Baik, Dok.”
Begitu Dokter pergi, Niko menghampirinya. “Gue udah nelepon produser untuk mundurin meeting. Salah kita juga dari kemarin nggak kasih dia makan. Padahal seharian dia terus sama kita.”
“Lo beliin makanan. Biar gue jagain dia.”
Niko memandangnya heran, tapi tidak banyak tanya.
Begitu Niko pergi, Aksa memandang Zanna yang terbaring dengan infus di tangannya. Wajahnya pucat dan berkeringat dingin.
Anehnya, ia merasa kasihan dan bersalah melihat kondisi gadis itu.
“Jangan gila deh, Sa!” sentaknya sendiri. “Dia nggak pantes lo kasihanin. Terlalu mudah buat lo kasihan sama dia.”
Tapi melihat wajah Zanna, teringat kembali misi awalnya. Bukankah ini yang dia inginkan?
Zanna menderita. Agar kesakitan Adnan terbayar akibat ulahnya.
“Meski begitu, gue nggak suka ada yang carmuk sampe pura-pura pingsan segala.” Ia meninggalkan kamar rawat.
“Ibu…”
Langkahnya terhenti, dan menoleh.
Mata Zanna masih terpejam, tapi dia memanggil-manggil ibunya. Rasa ibanya muncul. Dengar dari Niko, Zanna seorang yatim piatu.
Air mata mengalir di pipi gadis itu.
Tiba-tiba saja Aksa merasa dadanya sesak. Batinnya seakan berperang.
__ADS_1
Logikanya mengatakan tujuannya membuat Zanna membayar yang dilakukan pada abangnya. Tapi hati kecilnya mengatakan sebaliknya.
Dia merasa terlalu kejam memperlakukan Zanna.
Pikirannya jadi kacau.
“Aksa.”
Ia kaget Zanna sudah sadar. Menatapnya dengan mata basah.
“Aku kenapa?” tanya Zanna lemah.
“Lo tadi pingsan di jalan. Kenapa lo nggak bilang kalo lagi nggak sehat?” tanya Aksa kesal.
Zanna tidak menjawab, dan memalingkan wajah. Ia sedih mimpi bertemu ibunya.
“Sejak kapan orangtua lo meninggal?” Aksa ingin tahu.
“Udah lama. Ibu meninggal waktu aku SD, Ayah meninggal begitu aku lulus SMA.” Zanna mengusap pipinya.
Zanna mengangguk lalu menggeleng. “Aku tinggal satu kontrakan sama sepupuku dari kampung.”
“Sejak SMA?”
“Ya. Baru beberapa bulan yang lalu sepupuku pindah ke kontrakan aku.”
Bibir Zanna memutih pucat dan menatap Aksa. “Boleh aku minta minum?”
Tanpa buang waktu, Aksa mengambil botol minum dan memakaikan sedotan.
Setelah minum beberapa teguk, Zanna mendesah lega.
__ADS_1
Aksa jadi serba salah dalam situasi ini.
Ia mendadak resah harus berduaan dengan Zanna.
Untung tak lama Niko muncul.
“Eh lo udah sadar, Na?” Niko tersenyum lega. “Makan ya.” Niko membantu Zanna duduk.
Niko membuka kotak makanan.
Zanna spontan menelan ludah melihat bubur ayam lengkap dengan cakwe yang wanginya menggoda.
“Lo bisa makan sendiri?” tanya Niko, tapi melihat tangan Zanna gemetaran, ia menoleh pada Aksa. “Lo suapin dia gih.”
“Apaan sih? Lo aja!” tolak Aksa.
“Gimana sih lo? Semua kan taunya dia pacar lo. Ntar kalo ada suster ke sini liat gue yang suapin dia, ntar malah jadi gosip baru. Gimana kalo ada yang bilang gue minjemin pacar gue buat lo ngaku-ngaku?”
Bener juga sih analisa Niko.
“Ya udah sini.”
Aksa menyuapi Zanna pelan-pelan. Zanna makan lahap karena amat lapar.
Selesai makan, Zanna merasa lebih baik.
“Sa, boleh aku pinjam laptop kamu beberapa hari?”
Aksa dan Niko kontan bengong cewek di depannya lagi sakit memikirkan laptop.
Tapi Zanna menatapnya penuh harap.
__ADS_1
Akhirnya Aksa menyerah dan mengiyakan.
***