
Siang yang terik, Aksa baru keluar dari studio sehabis pemotretan.
Tumben-tumbenan tidak banyak fans mengerubung di depan kantor studio. Baguslah, ia juga sedang tidak mood diekspos media.
“Lo kenapa jauhin Zanna?” tanya Niko begitu ia masuk mobil.
Aksa terdiam. Wajah gantengnya jadi galau abis.
“Dia tuh cemas sama lo. Tapi lo nyuruh gue jangan ngomong apa-apa sama dia. Kasian dia, Sa. Media udah mulai bicara yang aneh-aneh kalo lo sama Zanna cuma pura-pura pacaran aja.”
“Justru itu yang bikin gue jauhin dia sementara.” Aksa buka suara. “Mama nggak suka sama Zanna karena Zanna lebih tua dari gue. Puncaknya waktu Mama ditanya teman-teman arisannya tentang gue dan Zanna, Mama bilang gue sama Zanna nggak serius karena Zanna cuma bantu gue belajar. Apalagi Mama mau kenalin gue sama anak temennya. Jadilah keluar gosip kalau gue sama Zanna cuma pura-pura.” Walau sebenarnya memang cuma settingan.
“Trus itu ngeganggu lo sekarang?” tanya Niko akhirnya. Ia tidak pernah melihat Aksa segalau ini.
“Gue juga nggak ngerti.”
“Gue aneh deh sama lo. Dulu lo nggak peduli sama alasan Zanna ninggalin Bang Adnan, dan lo ngotot mau bales dendam. Tapi sekarang kayaknya berbalik nih keadaan.”
“Justru itu yang bikin gue bingung, Nik.” Aksa menghempaskan tubuhnya lesu. “Gue bingung harus berbuat apa. Bang Adnan udah liat dia. Dan seperti dugaan gue, kondisinya memburuk dan Bang Adnan makin menjadi-jadi. Bahkan dia mimpi buruk tiap malem akan kecelakaan itu. Apa kecelakaan itu ada hubungannya dengan Zanna gue juga belum tau.”
“Kenapa lo bawa dia ketemu Bang Adnan? Ini bisa makin runyam. Dia nggak tau apa-apa dan lo juga belum jelasin sama dia.”
__ADS_1
“Karena gue bingung dia nggak bereaksi apa-apa. Padahal gue udah pancing dia dengan ingetin tentang Rapunzel. Tapi dia kayak datar aja.”
Niko paham kegalauan sahabatnya. “Sekarang kita cuma bisa menduga-duga, sampai lo nemu waktu tepat bicara serius sama dia. Mungkin aja dia kecelakaan dan amnesia.”
“Lo kata ini film? Pake amnesia segala.”
“Gue serius. Penyakit itu bisa aja kan dia alami. Buktinya dia nggak bereaksi. Makanya walau lo ingetin dia gimana pun ekspresinya nggak akan berubah. Dia mungkin nggak tau apa-apa.”
Aksa mulai membenarkan kata Niko. Kalau memang Zanna amnesia, bagaimana caranya mempertemukan dengan Adnan?
“Gue masih belum yakin, Nik. Mending lo cari tau tentang kecelakaan Bang Adnan. Apa ada orang lain yang terlibat. Lo selidiki juga temen-temennya untuk dapat info.”
Aksa menggeleng. “Gue lagi mumet. Karaoke aja.”
Niko menurut dan melajukan mobil ke arah Kemang, Jakarta Selatan.
***
Karena karaoke ekslusif di daerah elite ini kepunyaan teman Mamanya, Aksa mendapat kemudahan akses VIP Room.
“Bosen nih berdua doang.” Aksa menghempaskan jaket di sofa dan membuka buku lagu, tanpa semangat.
__ADS_1
“Lo kepengen ditemenin siapa?” Niko menyetel mic dan menyalakan daftar lagu. “Perlu gue pesen Ladies?”
Ladies itu istilah pemandu karaoke perempuan.
“Terserah lo.”
Niko mengetik di layar LED, memesan dua Ladies untuk menemani karaoke.
Lampu diredupkan, dan Niko mulai berkaraoke. Kebiasaan mereka berdua sejak SMA, berkaraoke menghilangkan stress.
Pintu terbuka, dua Ladies masuk. Karena gelap, wajah mereka tidak terlalu jelas.
Salah satu Ladies sudah duduk di samping Niko, tapi Ladies yang satu mematung di ambang pintu.
Sementara Aksa duduk santai membaca-baca artikel di internet. Ia beringsut mengambil gelas minuman.
Tanpa sengaja matanya mengarah pada pintu, gelas spontan jatuh dari genggamannya.
Zanna!
***
__ADS_1