
PRANGGG!
Suara gelas pecah nyaris teredam kerasnya suara musik.
Musik dimatikan dan lampu dinyalakan.
Semua kaget menatapnya.
“Zanna?!” Aksa tidak bisa menyembunyikan wajah shock-nya melihat Zanna dengan balutan baju ketat dan minim.
Wajah Zanna memucat tertangkap basah oleh Aksa.
Niko tidak kalah kaget, mengetahui Zanna bekerja sebagai pemandu karaoke.
“Nik, gue mau bicara empat mata sama dia.”
Paham situasi, Niko mengajak Ladies yang satu keluar ruangan.
Tinggal mereka berdua.
Zanna tidak berani mengangkat muka karena tahu Aksa menatapnya tajam.
Untuk beberapa saat mereka duduk berdampingan, tanpa suara. Hanya terdengar hingar-bingar musik dan nyanyian dari room lain.
“Kenapa kamu bisa kerja jadi Ladies karaoke?” tanya Aksa ketus.
Zanna tidak berani menatapnya, hanya *******-***** jarinya gelisah.
“JAWAB!!” bentak Aksa membuat Zanna kaget.
__ADS_1
“A-aku…” Zanna tidak kuasa menahan air matanya. “Aku butuh uang untuk bayar kontrakan.”
“Cuma itu??” Aksa tidak habis pikir. “Cuma karena uang, kamu mau kerja kayak begini? Na, kalo orang-orang tau, gimana dengan reputasi kamu sebagai asisten dosen?”
Zanna mulai terisak, takut. “Aku nggak ada pilihan.”
“Semua pasti punya pilihan. Dan kamu memilih jalan yang salah.”
“Aku cuma jadi pemandu karaoke, bukan jadi wanita penghibur.” Zanna coba menjelaskan.
“Pemandu karaoke atau apalah, emang orang percaya? Dengan gaya pakaian kamu begini, kamu kira pada percaya ‘cuma’ bekerja sebagai pemandu karaoke? Kalo kamu dipegang-pegang lalu nggak bisa menolak, begitu?” pertanyaan Aksa membuat Zanna skak mat bingung menjawab.
Sejujurnya ia tidak suka bekerja seperti ini. Jauh dari kata nyaman. Ia harus menemani para tamu yang kadang iseng menyentuhnya. Tapi apa daya dia harus dapat uang dalam waktu singkat.
“Kenapa nggak bilang sama aku kalau butuh uang?” tanya Aksa sinis.
“HP kamu off terus. Niko juga nggak jawab telepon aku.”
Zanna mendekap tangannya sendiri, karena kedinginan, AC ruangan terlalu kencang. Pakaiannya pun cukup terbuka. Dress ketat selutut, plus make up yang cukup mengganggunya.
Tanpa buang waktu, Aksa membuka pin Ladies di baju Zanna dan mengambil jaket. “Pake ini. Kita pergi sekarang.”
Zanna tahu betul Aksa masih marah. Tapi ia menurut mengenakan jaket Aksa dan mengikutinya keluar.
***
“Lo jujur deh sama gue.”
“Jujur apaan?”
__ADS_1
“Perasaan lo mulai berubah kan sama Zanna?”
Tebakan Niko membuat Aksa kaget dan melirik ke mobil sekilas.
“Apaan sih? Kalo dia denger gimana?”
Sementara Zanna ganti baju di dalam mobil, mereka menunggu agak jauh sambil mengawasi.
“Lo itu udah kebaca banget. Dengan kejadian tadi, lo sendiri lupa kan kalo dia cuma pacar settingan lo, dan sasaran dendam lo untuk Bang Adnan?”
Aksa baru sadar, tebakan Niko tepat. Dia seperti merasa Zanna bukan sekedar pacar settingannya.
“Perhatian dan marah lo ke dia udah nunjukin kalo lo ada rasa ke dia. Bukan sekedar dendam atau benci.”
Pembicaraan mereka terhenti ketika Zanna keluar dari mobil. Sudah mengenakan celana jins, kaos dan jaket tipis. Make up tebalnya sudah dihapus, sehingga wajahnya lebih bersih.
“Aku udah ngundurin diri jadi Ladies,” kata Zanna pelan.
Aksa dan Niko terdiam.
“Kalau kalian ada pekerjaan yang bisa aku lakuin…?” Zanna tidak berani melanjutkan.
Sementara dua cowok di depannya saling pandang.
“Ada,” jawaban Niko membuat Aksa kaget. “Aksa bakal ngerayain ulang tahunnya yang ke-21 bulan depan. Lo bisa ikutin skenario kalian tunangan. Dengan gitu, berapapun yang lo minta akan kita kasih. Dan sekarang gue akan kasih DP tiga juta cash.”
Aksa menarik Niko menjauh. “Lo apa-apaan bikin skenario nggak bilang dulu sama gue?”
“Ini harus selesai, Sa. Waktu moment kalian tunangan, lo bongkar semuanya. Gue nggak tega liat dia begini. Temuin dia sama Bang Adnan. Lo harus buat pilihan. Secepatnya gue akan cari info tentang kecelakaan Bang Adnan dan penyebab Zanna nggak inget tentang Bang Adnan. Tapi lo harus segera tentuin sikap. Lo harus siap apapun penjelasannya nanti.”
__ADS_1
Entah kenapa Aksa tidak rela jika harus kehilangan Zanna, pacar settingannya.
***