
Meski skenario tunangan mereka sudah dihafalnya, Zanna ingin fokus menghadapi ujian beasiswanya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan usahanya selama tiga tahun untuk dapat beasiswa.
“Ulang tahun Aksa masih dua minggu lagi, aku nggak boleh kepikiran. Apa yang bakal terjadi itu urusan ke depan. Kali ini, aku harus fokus sepenuhnya.”
Zanna merapikan bajunya. Setelan kemeja putih dan celana hitam, dipadu blazer hitam, begitu siap, dia mengambil tas dan berkas lainnya, dan bergegas pergi menggunakan jasa ojek online.
Tanpa ia tahu, ada yang membuntutinya dari ujung gang.
***
12.40 tepat Zanna keluar dari gedung X. Wajahnya lesu, karena lelah mengerjakan soal ujian yang tak kalah banyaknya dengan psikotes lengkap kerja.
Ia menyalakan HP. Selama ujian tadi semua HP dan gadget harus off. Niatnya ingin menghubungi Aksa.
Tiba-tiba bahunya ditepuk dari belakang.
Ia menoleh dan mengerutkan dahi. Siapa nih?
“Lo ke mana aja sih, Na? Kita udah cemas semua sama lo. Nyariin lo.”
Makin nggak ngerti aja cewek tomboy berambut pendek ini bicara apa.
“Maaf, aku nggak kenal sama kamu.”
Cewek itu kaget. “Lo nggak inget gue? Gue Gita, sahabat lo. Semenjak lo kecelakaan, lo ngilang gitu aja. Gue yakin lo selamat dari kecelakaan itu. Tapi kenapa lo nggak hubungin gue.”
Kecelakaan?
Waktu itu?
Apa iya dia kenal Gita?
“Jangan-jangan lo kena amnesia sejak kecelakaan itu?” tebak Gita.
Kepala Zanna mulai pusing, dan menatap Gita bingung. “Sorry aku nggak ngerti yang kamu bicarain.” Ia berjalan cepat meninggalkan Gita.
“Na, tunggu! Gue khawatir sama lo. Tapi lo udah baik-baik aja kan?”
Perkataan Gita tidak dihiraukannya, langsung masuk angkot.
Tanpa Zanna tahu, Niko mengintai kejadian itu, dan menghampiri Gita yang masih berdiri di tempat semula.
“Sorry, bisa kita bicara sebentar?”
***
Mobil berhenti di depan rumah sederhana yang asri. Aksa keluar mobil dan masuk rumah.
Sudah sejak lama Aksa mengajak Mama dan Adnan untuk pindah bersamanya, agar lebih mudah menjaga mereka, namun Mama menolak sampai Adnan pulih.
Memasuki pekarangan rumah, matanya menyipit melihat mobil mungil yang harganya ratusan juta berwarna pink ngejreng.
Ada siapa?
Begitu masuk rumah, terdengar suara perempuan.
__ADS_1
“Ma? Ada tamu?”
“Eh Aksa, duduk sini. Kenalin, ini Laura. Dia baru pulang dari Amerika.”
Cewek cantik bertubuh seksi itu tersenyum dan mendekati Aksa. “Hai Aksa, Tante udah banyak cerita tentang kamu, akhirnya kita bisa ketemu juga.”
Aksa menatap Mama.
Mama merangkul Laura. “Laura ini anak Tante Santi, teman arisan Mama. Dan sekarang lagi kuliah jurusan bisnis di Indiana University. Laura ini berprestasi lho. Dia bahkan masuk program akselerasi, umur 19 tapi udah masuk semester 4.”
Laura mengelus tangan Aksa, menggoda. “Aku lagi summer holiday di Jakarta. Tante Via bilang, minggu depan ulang tahun kamu, makanya aku dateng. Kalau kamu nggak keberatan, biar aku yang handle pestanya.”
Risih Aksa menghindar dan menatap Mama. “Mama suruh aku pulang untuk ini?”
“Iya. Laura udah dateng jauh-jauh untuk ketemu kamu, Nak. Sekalian Mama ingin bahas tentang perjodohan kalian.”
Perjodohan?
Sementara Aksa terkejut, Laura senyum-senyum bangga.
“Mama kan tau aku udah punya pacar.”
Laura langsung menyela. “Tante udah cerita juga tentang pacar kamu yang umurnya lebih tua itu. Menurutku dia nggak pantes buat kamu, Sa.”
“Gue nggak nanya pendapat lo,” balas Aksa.
“Aksa, jangan kasar gitu,” sentak Mama. “Laura benar, Nak. Zanna nggak pantes buat kamu. Mama juga liat dia nggak bener-bener sayang kamu. Dia cuma manfaatin popularitas kamu aja. Lebih baik kamu jalan sama Laura. Dia masih muda, cantik, pinter, dan pastinya cocok sekali sama kamu.”
Laura yang dipuji-puji Mama jadi jumawa.
“Oke, untuk urusan party gue percayakan sama lo. Semoga nggak bikin repot. Ma, aku ada jadwal syuting. Aku pergi dulu.” Setelah cium tangan Mama, Aksa bergegas pergi.
Mama geleng-geleng kepala. “Anak itu masih saja keras kepala. Padahal jelas-jelas lho wanita itu nggak pantes untuk Aksa.”
Laura tersenyum. “Tante tenang aja. Serahin sama aku. Aku bakal bikin Aksa putus sama pacarnya, dan bertunangan sama aku.”
“Iya, Laura. Tante lebih setuju Aksa sama kamu daripada dia.”
Merasa dapat dukungan penuh dari Mama, Laura mulai menyusun rencana-rencana.
***
Sekeras apapun Zanna berusaha tidak memikirkan skenario tunangan yang dirancang, tetap saja itu mengganggu pikirannya.
Siang malam ia hanya berdoa Aksa membatalkan niatnya. Walau resiko ia harus mengembalikan tiga juta rupiah sebagai ganti.
Doanya tidak terjawab.
Baru keluar kelas sehabis mengajar, ada yang mendekatinya.
“Mbak Zanna.”
“Iya, Liem.”
“Ada surat.”
__ADS_1
Surat?
Meski heran, ia menerima amplop dari Liem, mahasiswa kutu buku berwajah cina. “Dari siapa?”
“Aksa.”
Sampai Liem pergi, Zanna membolak-balik amplop bingung. Hari gini masih nulis-nulis surat?
Ia membuka surat, dan tersadar semua mata mengarah padanya. Wajah-wajah kepo yang membuatnya ngeri.
Ganti keputusan ia berbalik ke ruangan Pak Randy yang kosong dan membuka surat.
TEMUIN AKU DI RUMAH.
JAM 1 SIANG INI.
Aksa
Di rumah?
Zanna melihat jam tangan. Sudah jam 11.48.
Ada apa Aksa mengajaknya bertemu?
Lagian cara Aksa agak aneh. Kenapa harus lewat surat?
Ia meneliti surat. Takut ada yang menjebaknya. Tapi ini memang tulisan Aksa.
Sebagai asisten dosen dia dituntut Pak Randy untuk teliti akan tulisan tangan para mahasiswa agar tidak ada kecurangan ketika ujian.
Ini tulisan Aksa, tidak salah lagi.
Ia menghubungi nomor Aksa, memastikan. Tapi nomornya tidak aktif.
“Duuhh… Aksa rencanain apa lagi sih? Nyuruh aku ke rumah? Mamanya aja nggak suka banget sama aku. Bisa-bisa aku dihina lagi.”
Sebenarnya dia mempunyai hak untuk menolak hal-hal yang tidak disepakati dalam perjanjian mereka. Hubungan settingan ini di luar dugaannya, tapi dia sudah terlibat lebih jauh. Kalaupun dia putus dengan Aksa, tidak ada jaminan dia aman. Fans Aksa sudah mulai menerimanya.
Kecuali Aksa yang meninggalkannya. Mungkin dia tidak akan terkena masalah.
Sungguh terlibat dengan artis membuat hidupnya serba tegang.
HP-nya berbunyi. Ada whatsapp dari…
Na, gue mau bicara penting sama lo. Mungkin lo bisa inget sesuatu tentang gue sahabat lo.
Gita?
Ia jadi berpikir. Apa iya dia kenal Gita?
Memang dia pernah kecelakaan beberapa tahun lalu.
“Tapi masa’ aku amnesia?” ia bingung sendiri.
***
__ADS_1