
Hai readers! Sebelum baca tolong tinggalin jejak kalian dulu ya dengan cara like, komen, vote dan favorite. Bila perlu kalian ajak teman teman yang lain buat baca karya Author supaya Author juga semangat nulisnya.
Pov author
Bayu yang mendapatkan perintah dari temannya itu sudah siap untuk menjenguk Laras. Tepat pukul 16.05 dia melajukan mobilnya menuju rumah sakit xx. Setibanya di sana Bayu langsung menuju kamar rawat Laras.
Sebelumnya Bayu sudah sempat menghubungi pihak kesehatan yang tadi mengantarkan Laras, untuk menanyakan dimana kamar rawatnya. Jadi, sekarang dia tak perlu repot repot lagi mencari.
Tiba di kamar rawat, Bayu melihat Laras tertidur lemah di atas ranjang rumah sakit dengan oksigen melekat di hidungnya. Sugguh, dia tak tega memberi tahu keadaan Laras saat ini pada Zaki.
"Bu, bagaimana kondisi Laras?" Tanya Bayu.
"Ya begini, pak. Dari tadi belum sadar"
"Pak Erwin belum tahu Laras masuk rumah sakit?"
"Tahu kok. Ini perjalanan pulang"
"Syukur alhamdulillah kalau begitu. Oh iya, ini saya bawakan buah buahan untuk Laras. Semoga cepat sembuh ya, bu" Aisyah menerima sekeranjang berisi buah buahan dari tangan Bayu dan tak lupa ia mengucapkan terimakasih.
"Saya kesini atas perintah Zaki, bu. Tapi, nggak cuman itu sih. Saya juga mau lihat kondisi Laras" Aisyah tersenyum dan lagi lagi dia mengucapkan terimakasih sebanyak banyaknya.
Bayu meraih ponselnya yang berada disaku celana. Dia mengambil foto Laras yang sedang terbaring lemah itu sebagai bukti bahwa dia sudah menjalankan amanah. Tapi, sebelum itu Bayu sudah meminta izin pada Aisyah dan Aisyah mengizinkan.
Zaki yang mendapatkan foto dari sang teman sangat teramat kaget setelah melihat Laras dalam keadaan seperti itu. Rasanya, dia ingin benar benar pulang. Cemas, khawatir, takut dan sedih semua bercampur menjadi satu. Hanya doa sekarang yang bisa ia panjatkan demi kesembuhan sang calon istri.
♧♧♧
Tidak lama setelah Bayu pulang Laras sadar, Aisyah dan Erwin yang kebetulan sudah sampai dari luar kota langsung berteriak memanggil dokter. Segera dokter memeriksanya, dan Alhamdulillah nafas Laras sudah kembali normal. Oksigen pun sudah bisa dilepas. Namun, masih sangat terlihat wajah pucat dan lemasnya.
"Papa, udah pulang? Papa sehat?" Erwin langsung menghampiri sang putri dengan keadaan begitupun Laras masih sempat sempatnya menanyakan keadaan sang papa.
__ADS_1
"Iya. Sudah, kamu istirahat" Laras mengangguk.
"Pa?" Tak lama Laras memanggil lagi. Erwin langsung menoleh dan mendekat ke arah putrinya.
"Iya?"
"Maaf. Laras sudah sempat buat nama papa jelek dihadapan orang orang" Laras kembali mengingat kejadian di waktu itu. Entah kenapa, sulit baginya untuk melupakan semua itu. Padahal, dia sudah memaafkan semuanya.
"Iya, Ras. Papa tahu kamu nggak salah" Laras tersenyum dan meraih tangan Erwin lalu, di letakkannya di pipi. Aisyah yang melihat itu merasa senang lalu mendekat.
"Ras, tadi kapten Bayu datang ke sini. Katanya di suruh nak, Zaki"
"Tahu darimana mas Zaki kalau Laras sakit?"
"Kapten Bayu. Kalau kamu sudah enakan telfon dia. Biar dia nggak khawatir" Laras mengangguk.
♤♤♤
Laras menatap Aisyah dan Erwin yang sedang duduk di sofa dengan menyandarkan diri. Dia merasa kasihan pada mama dan papanya pasalnya, sedari tadi mereka terus mengurus Laras nonstop. Kadang kadang Laras minta buang air kecil, berwudhu untuk sholat, membersihkan diri, makan, minum dan sebagainya.
"Ma? Pa?" Mendengar sang putri memanggil Erwin dan Aisyah langsung menoleh dan menghampirinya.
"Apa ada yang sakit, nak?" Aisyah merasa cemas. Laras menggeleng dan tersenyum.
"Mama dan papa pulang saja. Laras sendiri di sini nggak papa kok. Kasihan papa belum ganti baju. Mama juga"
Memang benar, sampai saat ini mereka belum mengganti pakaian. Bahkan Erwinpun masih memakai baju PDL karena memang, sepulangnya dari luar kota dia langsung menuju rumah sakit tanpa memikirkan lelah.
"Jangan khawatir. Laras sudah baik baik aja. Kan ada suster juga" sambungnya mencoba meyakinkan.
"Beneran kamu, Ras?" Yang ditanya mengangguk tanpa ragu.
__ADS_1
"Yasudah, mama sama papa pulang ya, nanti akan mama panggil perawat buat jaga kamu. Kami akan ke sini lagi besok sehabis subuh"
"Iya. Mama sama papa hati hati di jalan"
Setelah, Aisyah dan Erwin pulang kali ini Laras dijaga oleh salah satu perawat yang sedang berjaga di rumah sakit. Perawat itu menjaga Laras dengan baik hingga, dia merasa tak enak sendiri.
"Suster, istirahat aja. Tidur juga nggak papa. Tapi, di dalam kamar ini aja soalnya Laras takut kalau ditinggal" perawat itu tersenyum kecil.
"Iya. terimakasih. Kalau begitu saya akan tidur di sofa" Laras mengangguk. Dan benar saja ternyata perawat itu benar benar tidur.
Kurasa dia lelah, batinnya.
Tiba tiba saja Laras teringat akan sesuatu. Ya, Zaki. Dengan cepat dia meraih ponsel yang kebetulan bisa ia jangkau dari ranjang itu. Dilihatnya jam menunjukkan pukul 22.35 dia berniat menelfon Zaki ingin memberi kabar bahwa dia sudah baik baik saja dan jangan Khawatir.
Semoga mas Zaki belum tidur, batinnya.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
Hiya, penasaran, nggak? Makanya ikutin terus kisah ini.
kira kira chapter selanjutnta Author nyeritain apa, ya?
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, FAVORITE DAN KOMEN YA, SEMOGA MENGHIBUR. SEE YOU NEXT CHAPTER.
__ADS_1