
Hai readers! Sebelum baca tolong tinggalin jejak kalian dulu ya dengan cara like, komen, vote dan favorite. Bila perlu kalian ajak teman teman yang lain buat baca karya Author supaya Author juga semangat nulisnya.
Pov Laras
Baru saja aku memejamkan mata namun, tiba tiba ponselku bergetar lagi. Bagaimana aku bisa istirahat jika terus terusan diganggu seperti ini, menyebalkan. Batinku.
Ku raih ponsel itu lagi dan ternyata itu chat masuk dari mas Zaki. Mulutku menganga,
mataku menatap kaku layar itu, badanku rasanya membeku seolah tak percaya. Aku benar benar kaget mendapatkan foto yang mas Zaki kirim.
Apakah ini sungguh?
"Ras, kamu nggak mau keluar. Ada nak Zaki di ruang tamu lagi ngobrol sama papa"
Ini sungguhan?
Ya, mas Zaki mengirimkan sebuah foto dirinya sedang mengobrol dengan mama dan papa di ruang tamu. Ku fikir ini hanya editan ternyata benar.
"Ras? Kenapa ngelamun, ayo ganti baju" aku mengangguk. Setelah ganti baju mama memapahku menuju ruang tamu. Benar, dia ada di sana bersama papa.
Tapi, bukannya seharusnya dia pulang bulan depan, ya?
Aku duduk di samping mama terlihat dia mengembangkan senyum dan aku tentu saja malu. Rasanya, canggung karena mungkin kami jarang bertemu.
"Gimana keadaannya?" Tanyanya padaku
"Alhamdulillah"
"Kapten Zaki kesini katanya mau ngasih berkas berkas buat kamu hafalin kan bulan depan kalian pengajuan nikah" terang papa.
Benar saja ada setumpuk kertas tebal berada di atas meja dan semua itu harus ku hafalkan.
"Hafalinnya nanti aja. Kalau kamu udah sehatan" sahutnya, aku mengangguk.
"Yaudah mama sama papa mau siapin berkas berkas Laras dulu, ya. Kalian ngobrol aja" kamk berdua mengangguk.
"Ras?" Panggilnya setelah mama dan papa sudah tak ada di situ. Aku langsung menoleh ke arahnya.
"Masih lemes, ya?" Aku mengangguk seraya memberi senyum.
"Bukannya, mas pulang seharusnya bulan depan, ya?" Tanyaku.
"Iya. Ada beberapa masalah kapal yang mengharuskan kita kembali" aku mengangguk mengerti.
"Mas kapan sampai?"
"Tadi pagi" sontak hal itu membuatku kaget.
__ADS_1
Pantas saja setelah video call itu mas Zaki tak menghubungiku lagi mungkin saat itu dia sedang berada di tengah laut, batinku.
"Apa mas nggak capek?" Dia tersenyum.
"Rasa capeknya udah hilang pas lihat kamu"
Aaaa...aku bisa gila! Dia berkata begitu manis sekali. Aku menunduk malu sambil mengembangkan senyum.
"Assalmualaikum!" Sapa seseorang dari luar.
"Waalaikumusalam, masuk!" Jawabku.
Aku sangat keget setelah mengetahui siapa pemberi salam. Dia adalah bang Angga salah satu abang abang yang waktu itu minta minum.
Tak hanya aku saja yang kaget mas Zaki juga, begitupun dengan bang Angga, dia sangat kaget setelah melihat mas Zaki ada di dalam rumah ku. Tampak dia datang dengan membawakan buah buahan.
"Eh. Bang, silahkan duduk" mas Zaki langsung menatapku tajam. Entahlah, aku harus berbuat apa sekarang.
"Mohon ijin, kapten" kata bang Angga pada mas Zaki. Mas Zaki mengangguk.
"Dek, ini aku bawain buah buahan. Maaf, belum sempat jenguk waktu kamu di rumah sakit"
"Ya ampun repot repot. Makasih ya"
"Ehem" deheman mas Zaki berhasil membuat ku tersentak kaget. Matanya menatapku sinis.
Mas Zaki ini termasuk orang yang ditakuti oleh para anggota karena ketegasan dan kedisipliinannya yang ketat. Tak jarang dia menghukum anggota karena beberapa kesalahan yang mereka lakukan.
"Oh, iya" jawabnya.
"Mas?"
"Apa?!"
Deg, kenapa dia ngebentak?
"Nggak papa. Eh, sampe lupa. Bang Angga mau minum apa?"
"Kamu masih sakit. Jalan aja nggak kuat!" Sahut mas Zaki tiba tiba ketika aku ingin beranjak.
"Nggak papa, dek. Aku cuman sebentar aja. Ini juga udah mau pamit"
"Lah, kenapa?"
"Ada urusan" aku mengangguk.
Tersisalah di ruang tamu itu aku dan mas Zaki tak ada pembicaraan sedikutpun diantara kami. Aku tahu, saat ini dia sedang kesal begitupun juga denan ku yang kesal karena dia membentak tadi.
__ADS_1
"Ras?"
"Hm" tanpa melihat ke arahnya.
"Marah?"
"Nggak"
"Bohong"
"Apasih, nggak jelas. Laras mau istirahat"
"Mas udah pernah bilangkan kalau mas nggak suka punya mas dideketin" aku kembali duduk di sofa karena tadi sudah sempat berdiri.
Aku diam.
"Mas harap kamu ngerti"
"Laras tahu. Tapi, apa mas harus bentak Laras begitu?!"
Mas Zaki terdiam.
"Eh ini ada apa?" Tanya mama yang tiba tiba datang.
"Ma tolong antar Laras ke kamar, ya. Laras capek" mama mengernyit heran.
"Nak Zaki masih ada di sini loh, Ras"
"Mama aja yang ngobrol sama dia!"
"Loh kenapa?"
"Laras capek, ma" akhirnya, mamapun membawa ku ke kamar. Rasanya sangat begitu kesal sekali melihat sikap mas Zaki yang seperti itu. Aku tahu dia cemburu tapi, tidak perlu membentak juga, kan?
.
.
BERSAMBUNG
.
.
Menurut kalian gimana tuh sikapnya Zaki, salah apa bener? Yuk komen yuk.
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, FAVORITE DAN KOMEN YA, SEMOGA MENGHIBUR. SEE YOU NEXT CHAPTER.
__ADS_1