
Hai readers! Sebelum baca tolong tinggalin jejak kalian dulu ya dengan cara like, komen, vote dan favorite. Bila perlu kalian ajak teman teman yang lain buat baca karya Author supaya Author juga semangat nulisnya.
••••
Setelah mengantarkan Sri, Andi, Bram dan Sofyan ke bandara untuk kembali ke Jakarta Laras dan Zaki pulang ke rumah dinas Erwin untuk mengambil beberapa barang barang Laras yang masih tertinggal di sana.
Aisyah dan Erwin tampak sedih mendapati sang putri sudah tak lagi tinggal bersamanya sekarang. Tak henti hentinya Aisyah menangis saat Laras ingin berpamitan. Wejangan terus Erwin dan Aisyah berikan pada Laras dan Zaki untuk pernikahan mereka.
Melihat kesedihan sang mama tak menutup air mata Laras untuk jatuh. Zaki menenagkan sang istri dengan terus merangkulnya seraya mengusap air mata itu di pipi Laras.
"Jaga diri kalian ya. Papa titip Laras sama kamu Zaki"
"Siap, pa!" Zaki memberi hormat pada papa mertuanya itu sebelum mereka pergi dari sana.
Oh iya, untuk soal Fajri. Setelah acara resepsi kemarin dia langsung terbang ke Kalimantan karena sudah penempatan tugas di sana dan hari ini dia harus sudah ada di Kalimantan karena perintah dari komandan secara langsung. Serem juga ya kalau sudah komandan yang nyuruh.
Singkat cerita!
Zaki dan Laras sudah berada di supermarket terbesar di kota ini. Terlihat Zaki sedang mendorong sebuah troli besar dan Laras terlihat asik memilih milih barang belanjaan. Mereka memasuki lorong buah buahan. Laras mengambil buah apel, pir, anggur, semangka yang sudah dikemas rapi.
"Mau bikin apa, sayang?"
"Salad buah, mas suka?"
"Apapun yang kamu buat mas suka"
"Gombal!"
Kali ini mereka memasuki lorong perabotan dapur. Laras dan Zaki berdiskusi prabotan apa saja yang akan mereka beli. Mereka membeli panci berukuran kecil dan sedang. Lalu Zaki membeli sebuah gelas couple bertuliskan husband dan yang satunya wife.
__ADS_1
Mereka juga memebli selusin gelas untuk tamu jika ada yang datang sewaktu waktu. Banyak prabotan yang mereka beli dan Author nggak bisa ceritain satu satu, hehe.
Setelah membeli prabotan mereka membeli sayuran dan daging ayam segar. Rencanya Laras akan membuat sayur asem dan ayam balado jadi, utuk memasak itu dia membeli bahan bahannya.
Dia juga membeli beberapa sayuran untuk stok di rumah. Tak lupa Laras membeli bumbu bumbu dapur seperti, lada, royko, garam, ketumbar, kunyit, bawang merah, bawang putih dan lain lain.
Setelah di rasa cukup, mereka langsung menuju ke rumah dinas Zaki tak butuh waktu lama mobil fortuner hitam milik Zaki sudah memasuki halaman komplek rumah dinas itu.
Rupanya, rumah dinas ini lebih kecil dari rumah dina Erwin. Mungkin, karena anggota kapal hanya sedikit dan ya, rumah ini disediakan untuk para anggota dan perwira yang dinas di atas kapal terutama untuk yang sudah berkeluarga.
"Lumayan besar ya, mas" Laras menelusuri setiap sudut rumah itu. Rumah bertipe minimalis dengan 2 kamar lengkap dengan kamar mandinya, dapur, kamar mandi/wc, ruang tamu dan ruang makan.
"Nah, ini kamar kita" terlihat kasur springbed, AC, lemari dan meja rias sudah terpasang dan tertata dengan rapi.
"Kamu yang siapin semua ini, mas?" Zaki mengangguk dan merangkul pinggang istrinya itu seraya menunjukan senyum manis.
"Yaudah. Laras mau ganti baju, terus masak. Mas pasti laper, kan?" Zaki mengangguk.
"Sayang, masak apa?" Zaki melingkarkan tangannya di pinggang sang istri lalu meletakan dagunya di bahu Laras.
"Sayur asem. Udah mas sana, nanti Laras nggak selesai selesai masaknya"
"Nggak usah masak. Tidur, yuk"
Apa apan mas Zaki ini. Pagi pagi ngajak tidur, gumam Laras.
"Sayang, Denger nggak?" Laras diam tak menghiarukan perkataan suaminya yang melantur itu. Namun, tidak dengan Zaki. Tanpa izin dia langsung mengangkat tubuh Laras masuk ke dalam kamar. Dan selanjutnya hanya mereka yang tahu.
Suara adzan zuhur mushola komplek terdengar sangat jelas di telinga Laras yang saat ini sedang terbaring di samping sang suami. Segera dia membersihkan diri untuk melaksanakn sholat zuhur.
__ADS_1
Zaki yang menyadari tak ada lagi sang istri di sebelahnya mulai membuka mata dan bangun. Dia mendengar suara gemricik air dari kamar mandi.
Ceklek! pintu kamar mandi terbuka. Dan terlihatlah Laras menggunakan baju mandinya dengan handuk terlilit di atas rambut basahnya. Zaki jelas tidak diam dia langsung menghampiri sang istri.
"Udah ya, mas. Laras capek. Sana mandi" Zaki tersenyum nakal dan terus mendekat ke arahnya.
"Mas macem macem tidur di luar nanti malam!" Ancamannya itu berhasil membuat sang suami menghentikan langkahnya.
"Kok gitu?" Protes Zaki.
"Biarin. Laras capek tahu!" Laras berjalan mengambil baju gantinya dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Sedangkan Zaki diam mematung memikirkan perkataan Laras. Rasanya, dia tak sanggup jiks harus tidur di luar.
Ancaman Laras benar benar menakutkan, batin Zaki.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
Kasian banget dah si Zaki, wkwk.
Masih penasaran nggak nih? Tunggu kelanjutannya di Chapter jumat depan ya.
__ADS_1
Untuk hari ini Author up satu chapter aja soalnya lagi nggak enak badan. Maaf ya.
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, FAVORITE DAN KOMEN YA, SEMOGA MENGHIBUR. SEE YOU NEXT CHAPTER.