Pak Tentara

Pak Tentara
Olahraga Pagi


__ADS_3

Hai readers! Sebelum baca tolong tinggalin jejak kalian dulu ya dengan cara like, komen, vote dan favorite. Bila perlu kalian ajak teman teman yang lain buat baca karya Author supaya Author juga semangat nulisnya.


•••


Selesai sholat subuh di musholah komplek Zaki sudah siap untuk berolahraga dengan baju oblong disertai dengan celana pendeknya. Laras yang baru saja selesai mandi dan sholat langsung bergulat di dapur melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.


"Sayang mau ikut olahraga?" Laras menggeleng.


"Mas aja. Laras capek!" Zaki tersenyum licik mengingat apa yang telah dia lakukan pada Laras kemarin.


"Nggak usah senyum senyum ya, mas" Zaki menghampiri sang istri lalu mencium keningnya lama.


"Maaf ya" Laras mengangguk dan tersenyum malu.


Zaki mulai melakukan pemanasan terlebih dahulu dengan berjalan pelan menuju ke arah luar komplek. Ketika dia melewati rumah Riyan terdengar suara ribut ribut sepagi ini di jam 05.45.


Kok sepertinya, bu Riyan teriak teriak, batin Zaki.


Dia mencoba tak menghiraukan itu karena memang itu urusan rumah tangga orang lain namun, Zaki bisa menebak perkaranya pasti karena Riyan joget dengan biduan.


Huft! Untung aku nggak macem macem. Bisa mati kutu dismekdown Laras, batin Zaki.


♡♡♡


"Udah dong honey, abang minta maaf" Riyan memegang tangan Ningsih yang saat ini tengah berurai air mata.


"Berapa kali sih aku harus kasih tahu abang. Jaga hati, jaga mata, jaga perasaan aku. Kita baru nikah bang. Baru nikah aja kamu begini, apalagi nanti kalau kita sudah punya anak? Badanku bakalan gendut nggak keurus. Terus kamu mau cari wanita kayak biduan itu, heh?!" Amarah Ningsih sudah sangat besar dia menghempaskan pegangan tangan suaminya.


Prank! Satu piring kaca berhasil dia banting dihadapan Riyan. Sungguh, kali ini Riyan benar benar takut pasalnya, dia mengenal Ningsih itu sebagai seorang gadis lembut yang bahkan tak pernah marah sedikitpun selama masa pacaran dan pernikahan mereka. Baru kali inilah dia melihat sang istri marah dan bahkan sangat begitu marah!

__ADS_1


"Honey, abang mengaku salah. Maafkan abang honey! Abang khilaf, abang janji nggak ulangin" Riyan berlutut di hadapan Ningsih sambil terus memohon agar Ningsih dapat memaafkan kesalahannya.


"Aku pegang janji kamu, bang. Kalau sampai aku tahu kamu buat kesalahan lagi. Aku bakal pulang ke rumah orang tua ku dan jangan harap abang bisa buat aku balik lagi!" Riyan langsung berdiri dan memeluk sang istri dengan sangat begitu erat.


•••


Semua hidangan sudah tertata dengan rapi di atas meja makan, Laras langsung mengambil alih pakaian kotor miliknya dan suami untuk dicuci. Sambil menunggu gilingan mesin cuci berhenti Laras duduk di sofa seraya menonton tv, mendengarkan ceramah pagi yang dipandu oleh salah satu ustadz terkenal.


"Assalamualaikum" Laras menjawab salam sang suami yang baru saja pulang berolahraga. Di hampirinya Zaki, meraih tangannya dan kemudian mendaratkan kecupan halus di punggung tangan suaminya. Zaki tersenyum dan mengusap halus kepala Laras.


"Yangg, tidur di lantai deh" Laras mengernyit heran mendengar perintah Zaki.


"Sini" Zaki menepuk nepuk lantai agar Laras menghampirinya. Berbagai macam fikiran negativ mulai bermunculan di kepala Laras.


"Mas nggak macem macem, sayang" seolah tahu apa isi dalam fikiran sang istri Zaki berkata seperti itu. Laras bernafas lega, perlahan lahan dia mengikuti perintah sang suami.


Setelah melihat Laras berbaring di lantai Zaki langsung menaikinya. Mata Laras terbelalak.


Eits, jangan berfikir macam macam ya. Zaki cuman mau push up ditemani sang istri. Biar nggak kerasa capeknya, hehehe.


Meskipun begitu Laras tetap saja tak bisa mengontrol detak jantungnya terutama ketika Zaki mengambil posisi turun. Nafas Zaki pun terdengar sangat begitu jelas di telinga Laras. Yang bisa dia lakukan saat ini adalah memejamkan mata dengan sangat rapat.


Zaki tersenyum senang melihat wajah sang istri gugup seperti itu.


Bisa bisanya dia masih malu malu padaku, gumam Zaki.


Saat push up terakhir Zaki sengaja memberi kecupan lembutnya di kening Laras dan hal itu membuat Laras membelalakan matanya kaget.


"Jangan melototin suami begitu" Zaki menggulingkan tubuhnya ke samping Laras seraya mengatur nafas yang masih memburu.

__ADS_1


"Makan mas. Laras sudah masak" Laras berdiri dan tiba tiba Zaki menariknya kembali sehingga dia jatuh ke dalam dekapan sang suami.


"Mas" Laras merengek agar Zaki melepaskannya.


"Cium dulu" Laras membuang nafas berat. Dia tahu, jika menolak sampai kapanpun posisi akan tetap seperti ini Jadi, mau tidak mau Laras menuruti perkataan Zaki sampai dia benar benar dilepaskan.


"Mas, ke rumah papa, yuk" kata Laras seraya meletakan piring kotor ke washtafel. Zaki beranjak dari kursinya dan memeluk erat sang istri dari belakang yang sedang mencuci piring bekas mereka makan.


"Besok aja, gimana?" Laras mengangguk dan mengembangkan senyumnya.


"Mas kapan layar, lagi?" Diletakannya piring piring itu ke dalam rak. Zaki terus membuntuti kemanapun Laras berjalan sambil terus memeluknya.


"Belum tahu sih. Kan mau ada acara di darat jadi, sepertinya layar ditunda dulu untuk bulan ini"


Memang benar sebentar lagi keluarga besar KRI **** akan mengadakan sebuah acara besar besaran dalam rangka family gathering untuk mempererat tali silaturahmi para anggota dan komandan. Jadi, untuk bulan ini layar memang ditunda demi kelancara acara.


"Memang bu komandan nggak bilang?"


"Belum, kan akhir akhir ini kita jarang kumpul. Jadi, belum dikasih info" Zaki mengangguk. Setelah selesai bergulat di dapur Laras masuk ke dalam kamar dan tentunya diikuti oleh suaminya itu. Zaki menguci pintu kamar dan apa yang akan dia lakukan? Cuma mereka aja yang tahu, hehehe.


.


.


BERSAMBUNG


.


.

__ADS_1


Gimana kelanjutannya? Masih penasaran? Tunggu chapter jumat depan okay.


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, FAVORITE DAN KOMEN YA, SEMOGA MENGHIBUR. SEE YOU NEXT CHAPTER.


__ADS_2