Pak Tentara

Pak Tentara
Setelah Akad


__ADS_3

Hai readers! Sebelum baca tolong tinggalin jejak kalian dulu ya dengan cara like, komen, vote dan favorite. Bila perlu kalian ajak teman teman yang lain buat baca karya Author supaya Author juga semangat nulisnya.


•••


Saat ini Zaki dan Laras sudah berada dalam satu mobil sedangkan Andi, Sri dan kedua kakak Zaki berada di dalam satu mobil yang berbeda. Zaki tak henti hentinya ingin memandang wajah Laras meskipun saat ini dia sedang menyetir. Dia sengaja tak ingin disupiri dengan alasan supaya bisa berduan dengan Laras setelah ijab kabul.


Tak ada percakapan sama sekali di dalam mobil. Laras terus menundukan pandangannya karena masih merasa malu dengan Zaki yang saat ini sudah sah menjadi suaminya.


"Ras?" Dengan cepat Laras menoleh ke arah Zaki. Melihat tingkah sang istri yang begitu gugup membuat Zaki tersenyum lucu. Pasalanya, Laras tak pernah begini sebelumnya.


"Kenapa malu begitu sih, Ras? Kitakan juga udah pernah jalan sebelulmnya"


"Hm...nggak tahu" Zaki tiba tiba meraih tangan Laras dan kemudian mengecupnya lama. Sungguh saat ini Laras sangat sangat gugup dan jantungnya berdegup degup.


"Nggak ada alasan untuk nolak. Udah sah, kan?" Laras tersenyum dan mengangguk. Jika mengingat dulu, Zaki selalu ingin memegangnya namun, sebisa mungkin Laras tolak dengan alasan belum sah. Dan sekarang mereka sudah sah jadi, benar apa kata Zaki tak ada alasan untuk menolak, wkwk.


Laras berpegangan dengan Zaki dulu itu karena memang Zaki nya yang memaksa dan Laras nggak bisa nolak karena memang tenaga Zaki kuat.


Setibanya di hotel mereka semua langsung menuju ke kamar masing masing agar bisa beristirahat sambil menunggu orang MUA datang untuk merias wajah Laras.


"Mas mandi duluan. Laras mau bersihin make up"


"Mas bantu, ya?" Dengan cepat Laras menggeleng.


"Nggak usah, Laras bisa sendiri" Zaki mengerti akan ketakutan dan kegugupan sang istri. Dia langsung beranjak pergi masuk ke dalam kamar mandi. Dengan cepat Laras membersihkan make up dan mengganti bajunya.

__ADS_1


Saat ini Laras sudah menggunakan baju daster gamis dengan kepala berbalut jilbab panjang seperti mukena. Dia tampak anggun meskipun hanya menggunakan daster.


Sambil menunggu Zaki keluar. Laras merebahkan dirinya di atas ranjang seraya memainkan ponsel.


Tidak lama setelah itu Zaki keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melilit di pinganggnya. Betapa kagetnya Laras melihat itu, posisi yang awalnya terlentang cepat cepat dia rubah menajdi tengkurap. Zaki terkekeh melihat tingkah Laras. Cepat cepat dia membuka koper yang sempat mereka bawa tadi lalu dengan segera Zaki memakai baju.


Laras masih tetap berada di posisi yang sama. Selesai berganti baju Zaki langsung menjatuhkan tubuh di samping sang istri Laras semakin gugup karena tiba tiba dia merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya.


"Aaa..." Laras langsung bangun.


"Ada apa, sayang?" Jantungnya mulai berdegup degup tiada henti setelah mendengat Zaki memanggilnya dengan kata sayang.


"Laras mau mandi" belum sempat dia berdiri Zaki menariknya dan dia terjatuh di atas tubuh Zaki. Mata mereka saling memandang. Terukir senyum yang sangat begitu manis di bibir Zaki namun, tidak dengan Laras.


"Mas.." rengek Laras seraya menggerak gerakan tubuh agar dia terlepas dari Zaki.


"Kenapa? Bolehkan mas ganti nama panggilannya? Kan sudah halal" Lagi lagi Zaki mengandalkan kata kata itu. Sehingga, Laras tak bisa berkata kata. Zaki tersenyum puas.


"Lepas, mas. Laras mau mandi bau nih"


"Cium dulu pipi mas" dia menyodorkan pipinya. Laras menjauhkan wajahnya dari pipi Zaki.


"Kalau nggak mau. Mas nggak lepas, ayo cium" akhirnya, dengan terpaksa Laras menuruti perkataan sang suami toh, mereka sudah sah.


"Satunya" Zaki kembali menyodorkan pipi sebelahnya.

__ADS_1


"Mas.." entah mengapa Zaki senang mendengar rengekan itu. Laras menyerah dan dia kembali menerima permintaan Zaki.


"Udah. Laras mau mandi"


"Ini belum" kali ini dia menunjuk ke arah bibirnya. Laras benar benar kaget.


"Nggak mau"


"Berarti kita terus gini" dengan entengnya Zaki menjawab. Laras merasa kesal dia menghentak hentakan kakinya di atas kaki Zaki berharap bisa lepas namun, nihil. Dia malah kehilangan tenaga dan seketika tubuhnya melemas. Laras menjatuhkan kepalanya di atas dada bidang sang suami. Rasanya sangat begitu tenang sehingga membuat dia betah. Zaki tersenyum senang mendapati Laras bersikap demikian. Dia mengusap usap kepala sang istri.


"Enak ya, sayang?" Laras meletakan dagunya di atas dada itu dan menatap wajah Zaki.


"Laras bau. Lepas" melihat wajah melas sang istri Zaki akhirnya luluh. Dengan cepat Laras berlari masuk ke dalam kamar mandi sebelum Zaki melakukan hal hal di luar dugaan.


.


.


BERSAMBUNG


.


.


Awal kisah mereka akan dimulai. Siapa nih, yang makin penasaran? Kasih komentar dong.

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, FAVORITE DAN KOMEN YA, SEMOGA MENGHIBUR. SEE YOU NEXT CHAPTER.


__ADS_2