
Hai readers! Sebelum baca tolong tinggalin jejak kalian dulu ya dengan cara like, komen, vote dan favorite. Bila perlu kalian ajak teman teman yang lain buat baca karya Author supaya Author juga semangat nulisnya.
pov Laras
Beberapa kali ponselku bergetar karena ada chat masuk dari mas Zaki aku sengaja tak membalasnya karena malas. Sesekali, hanya ku baca.
Sudah hampir satu minggu aku tidak masuk kuliah sudah banyak mata pelajaran yang tertinggal namun, aku tak diam saja, sebagai mahasiswi yang rajin aku juga mengerjakan tugas tugas yang dosen berikan tapi, ngumlulnya dititipin Rudi. Aku tak ingin menjadikan alasan sakit ini untuk bermalas malasan.
Jika kalian bertanya berapa hari aku mendiami mas Zaki aku menjawab sudah 3 hari, berulang kali dia menelfon, chat bahkan menghubungi mama untuk berbicara padaku namun, aku selalu menolak semua itu. Entahlah, apa menurut kalian aku berlebihan?
Hari ini aku berniat jalan pagi disekitar komplek bersama teman temanku berniat untuk memgembalikan tenaga seperti sedia kala agar tidak merasa lemas terus terusan.
saat ini aku, Angle, Rudi, Santi dan Bagus sudah berkumpul di lapangan bersiap untuk jalan menuju luar komplek. Rudi, Santi dan Bagus berlari karena memang mereka rencananya ingin mendaftar menjadi taruna jadi, untuk itu mereka mempersiapkan diri.
Jangan ditanya kalau aku dan Angle tidak ada minat, hahaha. Kami lebih berminat menjadi seorang pengusaha. Lagi pula, tak bisa jadi tentaranya masih bisa jadi ibu Jalasenastrinya, hahaha iyakan?
Ditengah tengah perjalanan, aku dan Angle dikejutkan dengan berhentinya sebuah mobil fortuner berwarna hitam di hadapan kami.
Hm, aku tahu siapa pemilik mobil ini.
Benar saja saat pemiliknya turun tidak lain dan tidak bukan wajah mas Zakilah yang nampak. Aku seakan terpesona melihat ketampanannya saat ini. Dia menggunakan kaos dengan celan pendek dan mata terbalut kaca mata hitam sehingga membuatnya terlihat tampan maksimal.
Dia mendekat ke arah kami segera ku buang arah pandangan ku ke arah lain.
"Pagi, pak" sapa Angle padanya.
"Pagi"
"Ras, ikut mas yuk"
"Laras lagi sama temen"
"Nggak papa, Ras. Kaya sama siapa aja" timpak Angle.
Ih, si Angle nggak peka banget, gumamku.
"Ayo" dengan terpaksa aku naik ke dalam mobilnya. Ternyata, sebelum mas Zaki membawaku dia sudah izin sama mama dari awal. Ternyata, dia sudah merencanakan semua ini.
Tak ada percakapan sama sekali di dalam mobil. Dia terus fokus menyetir seraya mata menatap ke arah jalan. Hingga, tiba tiba mobil menepi disebuah mini market.
"Mau ikut?" Aku menggeleng tanpa melihat ke arahnya. Mas Zaki turun tak lama dia kembali dengan membawa sebotol air mineral.
"Diminum, Ras. Mas tahu kamu capek habis jalan tadi"
Aku marah, masih sempat sempatnya dia perhatian, hal seperti ini ni yang membuatku akan luluh.
"Laras nggak haus"
__ADS_1
"Ayo dong, ngambek terus, ih" aku mendenggus kesal dan meraih botol minuman itu.
"Kuat nggak bukanya?" Tanyanya ketika dia melihatku kesusahan membuka segel botol.
Aku diam. Tiba tiba dia meraih botol itu dan membukanya untukku.
"Nih"
"Makasih" dia tersenyum. Dan aku meminumnya.
Mas Zaki kembali melajukan mobilnya.
"Kamu mau makan apa, Ras?" Tanyanya seraya mata terus fokus menatap jalan tapi, sesekali melirik ku.
"Nggak laper"
"Bubur, mau?"
"Dibilangin nggak laper, kok"
"Udah ah, ngambeknya. Betah banget, mas nggak bisa nih diginiin terus"
Aku diam.
"Mas minta maaf, Ras. Bukan maksud mas bentak kamu begitu. Mas cemburu, Ras. Sangat sangat cemburu. Kamu kasih dia senyum, kamu panggil dia abang, manis banget kamu di depan dia. Mas nggak suka itu"
"Maaf ya, Ras. Kalau kata kata mas buat kamu sakit hati" aku mulai merasa tak tega melihat dia seperti itu. Jiwa, ketegasannya luntur seketika dihadapanku.
"Iya, Laras juga minta maaf" sahut ku dengan wajah menunduk menahan malu.
"Nggak papa. Mas ngerti"
"Kamu mau makan, apa?" Sambungnya.
Aku tak bisa menutupi rasa laparku karena memang aku sedang lapar sekarang. Rasa gengsiku menghilang seketika.
"Di daerah sini aja. Soalnya Laras pakai baju begini"
"Memang kenapa dengan baju kamu? Sopan kok"
"Ya masa masnya keren begitu, akunya begini?"
"Ya memang kenapa?"
"Memang mas nggak malu?"
"Ngapain malu. Aneh ih kamu, kita makan di caffe langganan mas, ya?" Aku mengangguk pasrah.
__ADS_1
Setibanya di caffe aku dan mas Zaki langsung turun hal yang membuatku kaget adalah dia tiba tiba menggandeng tanganku masuk ke dalam caffe. Aku mencoba memberontak namun, nihil tenaganya kuat cuyyy.
Kami duduk di kursi nomor 35 dan tak lama pelayan datang menyodorkan buku menu.
"Kamu mau apa?" Tanyanya padaku.
"Disert coklat yang ini aja sama air putih" pelayan menulis pesananku.
"Saya, steak sama jus alpukat" pelayan menulis lagi pesanan mas Zaki.
"Baik silahkan ditunggu" kami mengangguk dan pelayan berlalu pergi. Ku raih ponselku yang berada di saku celana dan ku sandarkan tubuh ke punggung kursi. Tak ku sadari ternyata kaka Fajri banyak mengirim pesan Wa namun, tak ada satupun yang kulihat segera aku memblas semua pesannya.
"Chatingan sama siapa?" Melihatku asik dengan ponsel tidak menutup kemungkinan rasa penasarannya.
"Sama cowok, lah" jawabku sengaja memancing amarahnya, ahaha.
"Siapa? Baru juga baikan udah buat masalah lagi nih, kamu" aku tersenyum meletakkan ponsel di atas meja dengan cepat dia meraih ponselku dan kebutan tak ada sandi di dalamnya jadi, dia bebas membuka apa saja.
"Kak Fajri? Siapa?" Tanyanya.
"Kakaknya Laras"
"Oh, ya? Mas nggak tahu loh"
"Ya iyalah nggak tahu. Orang dia lagi ada di kota M lagi pendidikan CABA (Calon Bintara)"
"Bener?" Aku mengangguk.
"Kok nggak cerita"
"Mas nggak tanya" tak hanya sampai disitu dia membuka semua sosmedku, membaca isi dm ku dengan teman teman online. Dan hal yang membuatku kaget dia memasang fotonya di SG ku dan mengganti foto profil IG ku dengan fotonya saat ini.
"Kok diganti, mas?" Tanyaku kesal.
"Daripada IG kamu nggak ada foto profilnya. Lebih baik pasang foto mas aja. Awas ya kalau di hapus" aku mendenggus kesal. Untung sayang, batinku.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
Gimana nih kisah mereka? Masih sukan kan? Tunggu chapter selanjutnya, okay.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, FAVORITE DAN KOMEN YA, SEMOGA MENGHIBUR. SEE YOU NEXT CHAPTER.