
Hai readers! Sebelum baca tolong tinggalin jejak kalian dulu ya dengan cara like, komen, vote dan favorite. Bila perlu kalian ajak teman teman yang lain buat baca karya Author supaya Author juga semangat nulisnya.
Pov Laras
"Jadi, bagaimana? Apa kamu mau menerima lamaran kapten Zaki?" Tanya mama.
Aku diam seribu bahasa. Entah apa yang harusku jawab sekarang. Memang benar selama ini aku menyimpan rasa pada pak Zaki namun, jika aku mengingat kejadian di waktu itu rasanya, hati ini sangat sakit.
"Laras nggak tahu, ma. Laras bingung" kutundukan pandangan karena merasa dilema.
"Apa kamu tidak menyukai kapten Zaki?" Tanya mama.
"Bukan begitu, ma. Hanya saja-"
"Mama dan papa tidak pernah mengajarimu dendam kan, Ras?" Aku mengangguk.
"Terus apa yang membuat kamu bingung?"
Aku diam.
"Apa Laras sedang menunggu seseorang? Atau Laras sudah punya pacar?" Sambung mama.
"Nggak ma. Laras nggak pernah mempunyai pacar. Laras juga tidak sedang menunggu siapa siapa" tungkas ku dengan cepat.
Semua orang tersenyum dan bernafas lega.
"Hm..apa mama dan papa senang jika Laras menerima lamaran ini?" Tanyaku.
"Mama pribadi senang, nak. Kalau papa, ikut dengan apa keputusan mu. Tadi mama dan kapten Zaki sudah sempat menelfonnya"
"Apa bapak membutuhkan jawaban Laras sekarang juga?" Kali ini aku yang bertanya pada pak Zaki.
"Jika boleh jujur, iya. Karena besok saya sudah tidak lagi bertugas di sini. Saya dipindah tugaskan ke kapal" betapa kagetnya aku mendengar apa yang dia ucapkan.
Kenapa? Apa karena permasalahan ini?
"Jadi bagaimana, nak?" Tanya mama sekali lagi.
Dengan bismilah dan bersholawat aku menjawab.
"Inshaallah ma, Laras bersedia" tampak semua orang tersenyum mendengar apa yang aku katakan. Betapa senangnya aku melihat mama tersenyum seperti ini. Semoga keputusan Laras ini tepat Ya Allah, aamiin.
"Laras?" Panggil bu Awi (istrinya pak Awi). Aku langsung menoleh.
"Tante minta maaf ya, sudah ikut ikutan ngehina kamu. Jujur, tante kemakan gosip itu"
"Iya, Ras. Tante juga ya"
"Iya sama. Tante juga, Ras. Tolong dimaafin ya"
Aku benar benar kaget mendengar pengakuan mereka semua. Bagaimana pun manusia tempatnya salah dan khilaf Allah saja maha pemaaf masa aku nggak. Ku tarik senyum di bibir dan mengangguk. Mereka semua mengucapkan terimakasih padaku. Dan lagi lagi ku jawab dengan anggukan.
__ADS_1
"Ras?" Aku langsung menoleh ketika pak Zaki memanggil.
"Ini ibu dan ayah saya"
Apa? Orang tua pak Zaki juga datang ke kota ini, demi lamaran ini? Ternyata dia seserius itu denganku.
Aku tersenyum dan langsung menghampiri mereka, mencium telapak tangannya seraya meminta restu. Iya restu, hahaha.
"Kamu gadis yang hebat, semoga kalian segera menikah, ya"
"Pasti, ma. Iyakan, Ras?"
Aku benar benar kaget mendengar apa yang pak Zaki katakan. Memang aku ingin menikah muda tapi, masa iya diusia ku yang masih 19 tahun?
"Kok diem, nak?" Tanya ayah
Aku tersenyum kecil dan mengangguk.
"Selamat ya, bro. Doain semoga gua cepat dapat pasangan" kata pak Bayu yang juga turut hadir.
"Aamiin. Makanya sekali kali belajar setia" Tawa mereka pecah diikuti dengan para tamu lainnya.
🔷🔷🔷
Sekarang aku dan pak Zaki sedang berada di halaman depan rumah. Semua orang sengaja memberi kami waktu untuk mengobrol berdua. Mengingat ini sangat mendadak untuk ku.
"Apakah menyenangkan perjalanan kamu selama di Yogya?"
"Maafkan aku"
Apa? Dia memakai kata "aku" di dalam percakapan kami? Bukannya tadi di dalam masih makai "saya", iyakan?
"Untuk apa?"
"Untuk semua yang menimpamu beberapa waktu lalu" aku tersenyum dan mengangguk.
Tiba tiba dia mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya dan ketika dibuka kotak itu berisi sepasang cincin yang sangat begitu indah.
"Apa ini, pak?" Tanyaku heran.
"Cincin lamaran kita" sontak hal itu membuatku kaget.
"Kenapa repot repot sekali, pak?"
"Tidak repot. Ini sebagai penanda bahwa kamu sudah terikat denganku"
"Bapak terlalu berlebihan" dia tersenyum dan langsung meraih tanganku. Lalu, memasangkan satu cincin di jari manis ini. Setelah selesai, diserahkannya kotak itu padaku, yang masih berisi satu cincin lagi.
"Aku sudah memakaikan. Masa iya kamu nggak memakaikan di jari manisku?"
"Laras kan nggak nyuruh pak Zaki makein?"
__ADS_1
"Hm..begitu ya ter-" sebelum melanjutkan ucapannya aku langsung mengambil kotak itu dan memakaikan cincin itu di jari manisnya. Tampak senyum mengembang lebar di bibir pak Zaki.
"Terimakasih" aku mengangguk.
"Umur kamu berapa, Ras?"
"19 tahun"
"Saya 23. Kita beda 5 tahun. Belum terlalu jauh menurutku. Jadi, jangan panggil pak lagi"
"Terus?"
"Terserah. Sayang juga nggak papa" dengan cepat ku pukul lengannya kencang. Dia mengaduh. Aku tak perduli.
"Belum nikah udah KDRT"
"Belum nikah udah mau dipanggil sayang!"
"Berarti kalau udah nikah. Kamu panggil aku sayang, ya? Asik"
"Ih, siapa yang bilang?"
"Barusan. Secara nggak langsung kamu bilang gitu tadi"
Aku terdiam menyimpan malu.
"Aku bercanda. Panggil mas aja, Ras"
"Iya, pak. Eh..maksud Laras mas"
Deg...deg...deg...
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
Giman gimana?
Penasaran nggak kelanjutan kisah mereka?
Ikutin terus ya, tunggu chapter selanjutnya? Teken tobol Favoritenya suapaya kalian dapat notif kalau Author sudah up.
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, FAVORITE DAN KOMEN YA, SEMOGA MENGHIBUR. SEE YOU NEXT CHAPTER.
__ADS_1