
Saat ini Aisyah tengan menyiapakan sarapan pagi untuk anak dan suaminya sebelum mereka melakukan aktivitas. Sudah tertata rapi berbagai lauk dan sayur di atas meja makan. Segera Aisyah memanggil Laras dan Erwin.
Setelah semua sudah berkumpul di meja makan Aisyah mengambilkan nasi dan beberapa lauk untuk sang suami. Sedangkan Laras, membiarkan mama dan papanya makan terlebih dahulu barulah dia mengambil makanan. Ini sudah menjadi kebiasaannya untuk menghormati orang tua.
"Pa, emang benar Resya mau dijodohin sama kapten Zaki?" Tanya Aisyah seraya menyerahkan piring berisi makanan untuk sang suami.
Deg..mendengar itu sungguh Laras sangat kaget.
Memang cocok sih mereka yang satunya dokter dan yang satunya perwira, batin Laras.
Ah, kenapa aku jadi seperti orang yang merana, aneh kamu Laras, gumamnya.
"Ya nggak tahu. Memang kamu tahu darimana?" Tanya Erwin yang juga ikut merasa kaget. Aisyah pun menceritakan tentang kejadian kemarin pagi saat ibu ibu komplek belanja sayur di halaman komplek.
"Loh, bukannya Resya itu ditaksir sama Ridho tamtama baru itu?" Kata Erwin.
"Iya, tapi, bu Martinnya (mama Resya) nggak mau. Nggak selevel katanya sedangkan si Resya kan calon dokter. Masa iya sih, nikah sama tamtama katanya begitu" jelas Aisyah dengan nada agak sedikit kesal.
"Ya nggak papa, memang kenapa? Kan hak orang memilih calon pendamping untuk anaknya" sahut Erwin.
"Ya nggak papa juga, pa"
"Kamu ya Ras bila perlu kalau cari suami jangan yang berpangkat. Pangkat nggak menjamin kebahagiaan kok" sambung Aisyah pada sang putri. Laras mengernyit heran.
"Loh, kok jadi ke Laras sih, ma?"
"Ya nggak bisa gitu juga, ma. Siapa tahu jodoh Laras nanti seorang perwira. Kita mau apa? Masa iya kita menentang takdir" timpal Erwin.
Daripada mendengar perdebatan itu Laras memilih pergi ke kampus sebelum pembicaraan menjadi kemana mana. Tapi, tak lupa dia pamit dan mencium telapak tangan mama dan papanya sebelum pergi.
Saat, berada di parkiran rumah terlihat Zaki sedang memasang sepatu di halaman rumahnya. Ya, rumah mereka saling berhadap hadapan (jadi, rumah Laras itu berada di hadapan rumah para perwira). Laras memundurkan motor matic miliknya yang selalu dia pakai untuk kemana mana.
Zaki yang melihat bahwa sedang ada Laras di depan rumahnya mendadak mengukir senyum di bibir. Sepertinya, ada yang sedang jatuh cinta, wkwk.
__ADS_1
Laras menoleh sebentar ke arah Zaki yang sedang tersenyum menatapnya dari jauh. Melihat itu, Laras pun ikut tersenyum sembari memberi hormat agar tak dikira sombong.
"Ras?!" Seseorang tiba tiba menepuk pundak Laras yang sudah ingin menancap gas. Dia langsung menoleh.
"Rudi? Kenapa?"
Rudi adalah teman satu komplek Laras bahkan satu kampus dan satu kelas dengannya. Nampak Rudi sudah mengenakan baju rapi disertai tas ransel yang melekat dipunggungnya bersiap ingin pergi ke kampus sama seperti Laras.
"Aku ikut ya, motor ku dipakai sama bapak"
"Boleh tapi, aku yang bawa. Kamu duduk di belakang aja"
"Lah, kenapa? Aku kan cowok"
"Mau atau nggak usah ikut sekalian" dengan terpaksa Rudi naik.
Laras memang tak suka di bonceng dengan seorang pria kecuali papa dan kakaknya. Laras takut si pria nanti akan mencari kesempatan dalam kesempitan dan terlebih takut jika orang salah sangka dan menganggap bahwa pria yang memboncengnya adalah pacar Laras. Jadi, dia menggunakan cara ini. Hal ini berlaku untuk siapa saja termasuk teman temannya.
Zaki yang melihat Laras berboncengan dengan Rudi tadi merasa agak sedikit aneh dengan dirinya. Pasalnya, di dalam hati Zaki terukir rasa kekesalan dan marah padahal, dia tahu dan yakin bahwa itu hanya teman Laras. Namun, dia tak bisa membohongi perasaannya. Semakin hari Laras semakin membuatnya penasaran dan jantuh cinta.
"Kapten Zaki?" Panggil Erwin.
Betapa kagetnya Zaki, disebalahnya sudah berdiri sosok ayah wanita yang di pikirannya tadi. Zaki langsung berdiri.
"I-iya pak, ada apa?" Tanyanya grogi.
Aku harus profesional, urusan pribadi tak bisa di bawa bawa ke kantor, batinnya.
"Siap. Mohon ijin, saya sudah siap mau berangkat ke pos. Mohon arahan, ijin"
Erwin mendapatkan tugas di luar kota untuk beberapa bulan kedepan dan komandan posnya adalah Zaki jadi, sebelum berangkat Erwin memutuskan untuk meminta arahan terlebih dahulu kepada Zaki agar tak terjadi permasalahan ketika nanti sudah tiba di sana.
"Hm...iya pak. Kalau begitu kapan pak Erwin mau berangkat? Kebetulan pos sedang kosong"
__ADS_1
"Siap. Sore ini, mohon ijin"
"Iya silahkan pak" tiba tiba Zaki mengeluarkan dompet dari saku celananya dan mengeluarkan uang seratusan 5 lembar.
"Ini pak untuk ongkos ke sana" diberikannya uang itu pada Erwin. Dan Erwin meraihnya.
"Siap. Terimakasih, ijin" Zaki mengangguk
....
Di kampus pukul 15.45
"Rud. Mau ikut pulang bareng?" Tawar Laras.
"Ah, enggak deh. Aku bareng Kevin aja"
"Yaudah" Laras langsung berlalu pergi menuju parkiran untuk mengambil motornya dan setelah itu pulang. Saat ingin tiba di rumah Laras melewati rumah Resya dan disitu kebetulan sedang ada Zaki yang diundang oleh bu Martin (istrinya pak Martin) untuk makan bersama keluarganya. Sebetulnya, Zaki sudah sempat menolah namun, bu Martin memaksa dan Zaki juga merasa tak enak jika menolak rezeki. Kebetulan dia juga sedang lapar dan tak ada makanan di rumah.
Laras yang melihat itu merasa ada tombak yang menusuk dadanya. Ada apa dengan dadaku kenapa rasanya perih sekali? Mungkin, benar pak Zaki dijodohkan dengan kak Resya, ah sudahlah aku ini siapa? Hanyalah anak seorang kopral dan tak pantas bersanding dengan orang seperti pak Zaki, batin Laras.
Apa? Bersanding? Apa yang ku fikirkan. Benar benar sudah gila aku ini. Begitulah isi hati dan fikiran Laras saling bergulat satu sama lain.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, FAVORITE DAN KOMEN YA, SEMOGA MENGHIBUR. SEE YOU NEXT CHAPTER.
__ADS_1