Pak Tentara

Pak Tentara
Terluka


__ADS_3

Hai readers! Sebelum baca tolong tinggalin jejak kalian dulu ya dengan cara like, komen, vote dan favorite. Bila perlu kalian ajak teman teman yang lain buat baca karya Author supaya Author juga semangat nulisnya.


••••


Hari ini hari kedua para prajurit, perwira, komandan dan ibu ibu pengurus termasuk Laras mempersiapkan acara family gathering besok. Terlihat dengan jelas saat ini Laras sedang berbicara santai dengan ibu ketua bersama ibu ibu perwira lainnya. Kebetulan Ningsih hari ini tidak hadir karena masih kurang enak badan makanya dia tak ada.


Setelah asik mengobrol, ibu ketua dan komandan pamit pergi karena ada urusan pribadi, mereka mempercayakan pekerjaan semua ini ke para perwira untuk megawasi kerja anggota.


Laras dan ibu ibu perwira lainnya ikut turun tangan membantu pengurus. Kebetulan hari ini Nisya nggak dibawa sama bu Suryono jadi, Laras tak bisa bermain main dengannya.


Laras asik menyusun nyusun meja bahkan juga mengangkatnya, tentu saja dia tak sendirian. Pada saat Laras mengangkat meja itu bersama dengan bu Udin tiba tiba dia menyenggol sebuah gelas kaca dan gelas itu jatuh ke atas kaki Laras yang kebetulan sedang tidak memakai alas. Gelas itu pecah dan ada butiran butiran beling menempel di kakinya sehingga membuat kaki Laras terluka, berlumuran darah.


"Ya allah, ibu!" teriakan bu Udin berhasil membut semua orang menujukan matanya ke arah Laras. Zaki yang sedang berbincang bincang santai dengan Riyan dan Aryo langsung melihat ke arah teriakan itu.


Mata Zaki langsung tertuju pada sang istri yang saat ini sedang terduduk kesakitan sambil memegang kakinya. Zaki langsung berlari ke arah Laras.


"Sayang, kenapa? Kok bisa sih. Kamu ceroboh" Laras menangis dan langsung di gendong Zaki masuk ke dalam ruangannya.


Zaki memanggil orang kesehatan untuk memebrsihkan luka Laras. Karena lukanya cukup dalam dan ada beberapa robekan sehingga membuat kakinya harus dijahit. Dia tak pernah membayangkan bagaimana rasanya dijahit, pasti menyakitkan!


Laras menangis saat jarum mulai menancap di kakinya untuk membius, agar ketika proses menjahit nanti kaki Laras akan mati rasa supaya tak merasakan sakit.


"Sakit, mas"


"Iya, mas tahu. Sini peluk" Zaki memeluknya dan Laras menggigit baju Zaki sampai bolong.

__ADS_1


"Sudah selesai, ijin" Kata Nando (orang kesehatan) saat sudah selesai menjahit kaki Laras.


"Oh, iya. Makasih"


"Siap! Ini ada obat dan antibiotik untuk bu Zaki supaya lukanya cepat kering dan sembuh. Nanti kalau mau lepas jahitan bisa ke rumah sakit atau panggil saya lagi, ijin" terang Nando.


"Iya sekali lagi makasih" Zaki meregoh saku celana keluarlah dompetnya, dia mengambil uang 50.000an dua lembar.


"Ini untuk kamu" awalnya Nando sempat menolak. Tapi, karena Zaki memaksa akhirnya, dia menerima uang itu.


"Sayang, udah selesai" kata Zaki saat Nando sudah keluar dari ruangannya.


Laras yang masih menangis dalam pelukan sang suami perlahan lahan melepaskan pelukan itu dan menatap kakinya yang sekarang sudah terbalut perban.


"Kamu gigit baju mas ini, sayang?" Laras mengangguk tanpa dosa seraya menghapus air matanya. Zaki mendenggus halus lalu tersenyum.


"Laras lepas. Kaki Laras sumuk, mas"


"Lain kali jangan dilepas lagi. Fungsinya sepatu atau sandal itu melindungi kaki. Kamu ini, gimana sih!" Mulai keluar deh jurus omelan Zaki.


"Iya iya maaf!"


"Ini bukan tentang maaf. Ini tentang kecerobohan kamu. Gimana kalau seandanya yang jatuh bukan gelas? Atau seandainya pisau yang jatuh, apa nggak luka parah kaki kamu, itu?!" Zaki marah begini bukan bermaksud apa apa. Dia hanya khawatir hal seperti ini akan terulang lagi. Jadi, sebagai suami sebisa mungkin dia menasehati istrinya. Ya, meskipun agak sedikit tegas sih!


"Iya, mas. Maaf" Laras menundukan kepalanya karena merasa bersalah tak bisa menjaga diri.

__ADS_1


"Iya. Mas juga minta maaf. Mas takut ini keulang lagi, kamu ngerti kan, sayang?" Laras mengangguk. Melihat sang istri tertunduk sedih, tentu membuat Zaki merasa bersalah. Dia kembali memeluk Laras.


"Maaf ya, mas marah marah" Laras mengangguk di dalam dekapan sang suami.


"Yaudah, tunggu obat biusnya habis. Mas antar kamu pulang"


"Tapi, kan --"


"Nggak ada tapi tapian. Kamu harus istirahat, besok nggak usah ikut acara"


"Kok gitu sih, mas?"


"Mas bilang nggak tetap nggak!" Laras mendenggus kesal dan menjauhkan tubuhnya dari suaminya itu.


.


.


BERSAMBUNG


.


.


Gimana nih tanggapan kalian tentang chapter ini?

__ADS_1


Buat Laras, cepet sembuh ya☺.


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, FAVORITE DAN KOMEN YA, SEMOGA MENGHIBUR. SEE YOU NEXT CHAPTER.


__ADS_2