
Hai readers! Sebelum baca tolong tinggalin jejak kalian dulu ya dengan cara like, komen, vote dan favorite. Bila perlu kalian ajak teman teman yang lain buat baca karya Author supaya Author juga semangat nulisnya.
❤❤❤
Zaki dan Laras tengah berbaring di atas kasur saat ini. Terlihat jam menunjukan pukul 20.15, Mata mereka tertuju pada ponsel masing masing. Laras sibuk membuka buka sosial medianya dan menonton beberapa vlog youtube yang dianggapnya seru sedangkan Zaki disibukan dengan beberapa laporan dari anggota terkait lusa akan berlayar ke beberapa kota.
Baru saja Zaki membahas tentang hal yang perlu dibicarakan, tiba tiba saja dia mendapatkan telfon dari komandannya segera Zaki keluar kamar dan mengangkat telfon itu.
Kling! Ponsel Laraspun tiba tiba berbunyi ada chat masuk dari nomor tak dikenal.
📞WA:
0812********
"Selamat malam ibu. Ini dengan bu Suyono anggota pengurus dibagian set. Mohon ijin kami memperkenalkan diri"
Laras
"Oh, iya bu salam kenal juga ya. Mohon bimbingannya saya juga masih baru ini😁"
0812********
"Baik ibu"
"Saya mau memberitahukan bahwa lusa kita ada giat, ibu"
Laras
"Giat apa ya bu?"
0812********
"Pengantaran bapak bapak karena lusa akan layar ibu, pukul 07.00 sudah harus ada di dermaga ***. Lalu, setelah itu dilanjutkan dengan arisan rutin oleh seluruh ibu ibu Jalasenastri di Aula kantor dan sekaligus ibu meperkenalan diri"
Ya, Jalasenatri adalah organisasi para istri istri Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut. Di dalam Jalasenatri ini ada ikatan kepengurusan dan salah satu anggota pengurusnya itu bu Suryono.
Laras
"Gitu ya bu?"
"Perkenalannya gimana ya, bu?"
"Terus tenunya apa?"
0812*******
"Nanti akan saya kasih kertas, ibu tinggal nyontek aja, hehe. Untuk tenunya PSK ibu"
"Ibu sudah jahit untuk seragam PSK?"
__ADS_1
Untung aja udah sempat jahitin, batin Laras.
Laras
"😀makasih ya bu. Udah kok, udah saya jahit"
0812********
"Baik ibu"
Laras langsung menyimpan nomor WA bu Suyono di dalam kontaknya.
"Chatingan sama siapa, yangg?" Laras kaget tiba tiba Zaki sudah ada di sampingnya.
"Ini loh, mas. Sama bu Suyono" Zaki merebahkan kepalanya di atas perut sang istri.
"Ngapain?"
"Dia ngasih tahu kalau lusa ibu ibu termasuk Laras nganter bapak bapaknya yang mau layar ke dermaga"
"Biasanya juga nggak dianter"
"Ya mana Laras tahu. Memang mas layar berapa lama?"
"3 bulanan"
"Hah?" Kaget dong Laras. 3 bulan bukan waktu yang singkat. Apalagi mereka baru nikah.
"Iya Laras tahu. Cuma agak kaget aja"
"Makanya sebelum mas berangkat dikasih sangu dulu, yangg" Laras mengernyit.
"Kan uang mas yang pegang" Zaki tertawa dan langsung duduk. Dia beranjak dari kasur meraih dompetnya dan mengambil satu kartu ATM.
"Mulai sekarang kamu yang pegang"
"Mas aja. Laras nggak berani"
"Kenapa? Ini udah jadi hak kamu" Laras tersenyum dan meraihnya tak lupa dia mengucap terimakasih pada suaminya itu.
"Terus mas mau dikasih sangu berapa?" Lagi lagi Zaki tertawa mendengar Laras tak mengerti akan maksudnya.
"Bukan sangu uang sayang"
"Terus?"
"Sini mas kasih tahu" Zaki pun mulai meluncurkan aksinya. Dan selanjutnya hanya mereka yang tahu.
♤♤♤
__ADS_1
"Sayang? Bangun, udah subuh" Laras masih memejamkan matanya meski sedari tadi Zaki terus mengganggunya.
Lelah sakali sepertinya, hahaha, batin Zaki tertawa puas karena telah berhasil membuat sang istri lelah.
"Sholat, yuk" Dia berbisik di telinga Laras sehingga membuat Laras bergidik geli.
"Bentar, ih. Laras capek! Gara gara mas Laras begadang, sana sana" Laras mendorong dorong tubuh Zaki dengan kesal.
"Jadi nggak ikhlas nih tadi malam?"
"Ikhlas!"
"Bohong"
"Ikhlas mas ikhlas banget!" Laras langsung membuka matanya menatap Zaki. Tampak senyum di bibirnya.
"Kalau ikhlas berarti boleh tambah lagi dong" Laras langsung melotot.
"Nggak, nggak ada. Laras beneran capek ini, loh" Zaki tersenyum lalu mengelus halus kepala sang istri dan setelah itu dia mendaratkan kecupan hangat di keningnya.
"Maaf ya" Laras seakan terpesona dengan senyum suaminya dan dengan cepat dia mengangguk.
••○••
Pov Laras
Tepat dihari ini mas Zaki akan berlayar dan aku sudah siap untuk mengatarnya ke dermaga bersama dengan ibu ibu lainnya yang akan mengantarkan suaminya juga.
Sebelum mas Zaki naik ke kapal kami memutuskan untuk mengambil foto terlebih dahulu ya, lumayan lah untuk pengobat rindu nanti.
"Sayang, sehat sehat ya. Kalau ada apa apa telfon, mas" Dia meraih tanganku dan mengecupnya sangat begitu lama. Air mataku perlahan mulai menetes. Entahlah, padahal semalam aku sudah berjanji pada diri ini agar tak menangis saat pengantaran suamiku nanti.
"Jangan nangis, nanti bisa bisa mas nggak jadi berangkat" mas Zaki mengusap airmataku. Aku langsung memeluknya erat sangat erat. Diusapnya punggungku.
Setelah, acara bersedih sedihan selsesai, mas Zaki naik ke atas kapal. Dia melambaikan tangannya kearahku dengan cepat ku balas lambaian tangan itu. Tak lama setelah mas Zaki naik, kapal pun berangkat pandangan mataku ku padanya semakin lama semakin jauh dan jauh. Hingga saat ini kapal benar benar sudah tak ada lagi di dermaga.
Beginikah rasanya ditinggal suami? Sedih sekali. Bahkan aku sudah tahu bagaimana resiko menjadi seorang istri tentara tapi, kenapa saat ini aku seolah tak terima dengan semua itu. Apakah aku egois?
.
.
BERSAMBUNG
.
.
Gimana perasaan kalian jika menjadi Laras?
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, FAVORITE DAN KOMEN YA, SEMOGA MENGHIBUR. SEE YOU NEXT CHAPTER.