Pak Tentara

Pak Tentara
Kepulangan


__ADS_3

Hai readers! Sebelum baca tolong tinggalin jejak kalian dulu ya dengan cara like, komen, vote dan favorite. Bila perlu kalian ajak teman teman yang lain buat baca karya Author supaya Author juga semangat nulisnya.


Pov Laras


1 mimggu kemudian


Aku baru saja mendapat kabar dari mas Zaki bahwa dia akan pulang lusa. Sungguh mendengar kabar itu aku sangat sangat bahagia akhirnya, suami yang ku tunggu tunggu pulang juga.


Seperti biasa malam ini aku kembali menonton sinetron favorite ku untuk menghilangkan rasa suntuk. Mataku fokus menatap layar tv seraya mulut mengunyah salad buah yang sempat ku buat tadi.


Tiba tiba terdengar suara mobil terparkir di halaman rumah saat aku sedang asik menonton. Karena penasaran akupun mengintipnya.


Ini sungguh? Mas Zaki?


Ya, mas Zaki. Dia pulang tapi, bukannya lusa? Apa ini mimpi, atau aku yang terlalu merindukannya sehingga aku berhalusinasi?


Ku tutup gorden dan kembali duduk di sofa seraya menenagkan diri dari halusinasi ini. Tak lama terdengar suara ketuka pintu. Sebelum membukanya ku kenakan hijab terlebih dahulu.


Ku buka pintu dengan perlahan dan berdirilah laki laki yang selama 3 bulan ini ku rinduka. Ini sungguh! Dengan cepat ku peluk tubuh tegap mas Zaki. Dia tersenyum membalas pelukanku dengan hangat.


Setelah, lama berpelukan di depan pintu kami masuk ke dalam kamar. Dia membawa beberapa barang bahkan juga makanan yang katanya sengaja dibelinya saat perjalanan pulang.


Ku bantu dia melepaskan baju doreng layarnya itu. Mas Zaki terus mengukir senyumnya menatap wajahku.


"Katanya lusa pulangnya?" Ku letakan bajunya ke keranjang baju kotor yang ada di dalam kamar.

__ADS_1


"Kenapa? Katanyanya kangen" aku tersenyum malu. Tiba tiba dia menariku higga jatuh ke dalam dekapannya.


"Mandi sana mas. Terus cukur jenggotnya, Laras geli" aku baru menyadari bahwa banyak sekali tumbuh bulu bulu halus di bagian wajahnya. Sungguh, aku benar benar geli.


"Keren ini, yangg" dia menciumi wajahku menggunakan jenggotnya itu dengan sengaja. Karena geli aku pun mendorongnya.


"Cukur atau nggak usah tidur sama Laras!" Mas Zaki melotot ketakutan.


"Iya iya mas cukur. Dikit dikit ngancem, mana ancemannya begitu lagi" aku tersenyum lucu mendengar mas Zaki ngomel sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.


Sambil menunggu dia mandi aku memutuskan menyiapkan baju gantinya dan setelah itu menyusun beberapa makanan yang dia bawa ke piring agar mas Zaki bisa langsung memakannya saat selesai mandi nanti.


Setelah selesai bergulat di dapur aku kembali mendudukan diri di sofa melanjutkan kegiatan menontonku yang tadi terjeda.


"Yangg?" Aku langsung menoleh saat mas Zaki keluar kamar dan memanggilku. Terlihat sudah wajah mulusnya tanpa bulu bulu seperti tadi. Aku tersenyum dan kembali mengarahkan pandanganku ke tv.


"Katanya kangen. Udah dateng kok dianggurin" aku seolah tuli.


"Tuli beneran kapok, ya" aku melotot takut. Takut dikutuk dong sama suami.


"Sana makan. Berat tahu kepala mas" ngalihin pembicaraan, hehe.


"Nggak ah, udah kenyang" ku tundukan pandangan menatap wajahnya, sedangkan dia mendongakan pandangannya menatap wajah ku. Seketika kami saling berpandangan. Dan..


Niatnya sih pengen marahin karena ya ngapain beli beli makanan kalau sudah kenyang? Kan mubazir. Eh, tapi koi malah (ya, gitulah readers. Cuma mereka yang tahu, hehe).

__ADS_1


♡♡♡


Pov Author


Berbeda dengan kisah Riyan dan Ningsih. Bukan kerinduan yang Ningsih rasakan tapi, kemarahanlah yang menyelimuti hatinya saat ini. Dia sudah benar benar geram oleh sang suami karena ulah Riyan di waktu itu. Terlihat dengan jelas saat ini, Riyan tengah duduk di ruang tamu tanpa berganti pakaian sekalipun sedangkan Ningsih berada di dalam kamar.


Ya, Ningsih mengunci pintu kamar agar Riyan tak bisa masuk. Untuk beberapa hari dia akan menyuruh sang suami tidur di ruang tamu. Ini semua hukuman untuknya agar tidak bersikap seperti itu lagi. Untung saja Ningsih tahu, coba tidak? Mau jadi apa Riyan di luar sana?


Aku benar benar menyesal joget dengan biduan itu, batin Riyan.


"Honey, buka dong pintunya. Abang mau tidur nih" Riyan mengetuk pintu kamar seraya membujuk bujuk sang istri agar mau membuka pintu untuknya.


"Tidur di luar!" Riyan tersentak kaget mendengar teriakan Ningsih. Dia tahu sekarang, bahwa Ningsih benar benar marah padanya.


Ternyata benar kata Zaki kalau istri marah bisa gawat! Gumamnya.


.


.


BERSAMBUNG


.


.

__ADS_1


Tuh! Riyan makanya jangan macem macem kena batunya kan sekarang, hahaha.


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, FAVORITE DAN KOMEN YA, SEMOGA MENGHIBUR. SEE YOU NEXT CHAPTER.


__ADS_2