
Hai readers! Sebelum baca tolong tinggalin jejak kalian dulu ya dengan cara like, komen, vote dan favorite. Bila perlu kalian ajak teman teman yang lain buat baca karya Author supaya Author juga semangat nulisnya.
•••
Laras tak bisa berkata apa apa melihat benda yang ada di tangan Zaki. Lagi lagi dia dibuat kaget dengan barang pemberiannya. Kali ini Zaki membelikan kalung berlian dengan bandul bertuliskan nama dirinya dan tulisan itu terukir dengan indah serta dihiasi berlian berlian kecil di sana sehingga membuatnya semakin mewah.
"Mas beli ini waktu layar di Balikpapan, kamu suka?"
Entah, Laras harus suka atau tidak. Jiia boleh jujur sebenarnya dia tak suka dibelikan barang barang mewah seperti ini. Laras tak ingin orang beranggapan bahwa dia memanfaatkan Zaki untuk mendapatkan barang barang itu. Padahal, sedikitpun Laras tak pernah meminta. Terlebih jika mama dan papanya tahu pasti mereka akan marah dan berfikiran kepada Laras yang tidak tidak.
"Untuk apa mas belikan Laras ini?"
"Kamu nggak suka, ya?" Zaki merasa jika Laras tak menyukai pemberiannya ini.
"Bukan begitu, mas. Rasanya, belum sepantasnya mas belikan barang barang seperti ini untuk Laras. Terkecuali jika Laras sudah menjadi istri mas Zaki toh, Laras nggak minta kan, mas? Jadi, buat apa mas belikan. Kenapa mas nggak tabung uangnya aja buat persiapan pernikahan kita? Daripada beli beli ginian, kan?" Zaki terdiam seolah memikirkan sesuatu.
Benar juga apa yang Laras katakan. Tapi, apa salah jika, aku ingin menyenangkan hatinya? Batin Zaki.
"Mas, bukan maksud Laras menolak. Tapi, ini terlalu indah jika mas berikan pada Laras yang masih berstatus calon istri. Laras harap mas ngerti, ya" Laras mencoba memberi pengertian pada Zaki agar dia tak salah sangka.
"Mas cuman mau nyenengin kamu, Ras"
"Dengan beri Laras kesetiaan saja Laras sudah senang, mas" Zaki dibuat tersenyum oleh calon istrinya ini. Dia merasa bersyukur mempunyai Laras dihidupnya.
"Mas simpan saja kalung ini. Laras ingin kalung ini jadi mahar pernikahan kita" rasanya ingin sekali Zaki memeluknya sekarang juga namun, dia ingat Laras bukan wanita sembarangan.
__ADS_1
Di pegang tangannya saja tidak mau kalau tidak dipaksa apalagi dipeluk, gumam Zaki.
"Mas, nggak marah, kan?" Laras menundukkan wajahnya karena merasa tak enak. Segera Zaki menggeleng kuat.
"Terimakasih, Ras. Mas janji bakal setia" Laras mengangkat kembali kepalanya dia tersenyum dan mengangguk percaya.
♡♡♡
Laras, Zaki, Aisyah dan Erwin saat ini sedang duduk di meja makan. Aisyah sengaja memasak banyak agar calon mantunya juga ikut makan bersama mereka. Tersedia berbagai macam lauk dan sayuran. Soal rasa, jangan ditanya.
"Ras, ambilkan Zaki makan" dengan hati hati Laras mengambilkan makanan untuk Zaki. Di mulai dari secentong nasi, lalu dia bertanya pada sang calon suami ingin memakan dengan lauk apa? Zaki menunjuk ke arah ayam, sayur capcai, dan terakhir perkedel kentang. Setelah selesai, segera Laras menyerahkan piring itu padanya.
"Terimakasih" Laras tersenyum dan mengangguk. Setelah mama dan papanya makan kini giliran Laras yang mengambil makanan. Zaki menatap Laras heran.
"Laras memang begitu, dia selalu menunggu mama dan papa makan baru dia mengambil makanan. Katanya biar menghormati orang tua" sahut Aisyah seolah tahu rasa heran Zaki.
Zaki mengembangkan senyumnya menatap Laras yang sedang makan di sampingnya. Rasa rasanya dia terpesona atas kesopanan, kesederhanaan dan apa adanya Laras.
"Ras?" Laras menoleh ke arah Aisyah.
"Bulan depan kak Fajri kan pelantikan. Kamu bisakan ikut mama dan papa ke kota M?"
"Pengen sih, ma. Tapikan Laras dan mas Zaki pengajuan dan tentunya itu perlu persiapan"
"Iya ya. Mama kok sampe lupa. Yaudah, nggak papa kalian siapin aja untuk acara pernikahan kalian nanti" Laras mengangguk.
__ADS_1
SINGKAT CERITA!
Tibalah hari dimana Laras dan Zaki akan melakukan pengajuan.
Ya, tepat hari ini adalah hari pengajuan nikah di kantor Zaki setelah beberapa persiapan yang cukup padat mereka lewati beberapa hari yang lalu. Dan sekarang adalah penentu pernikahan mereka, Laras dan Zaki harus melakukan beberapa tes terlebih di sidang oleh komandan dan istri komandan untuk menanyakan bagaimana latar belakang Laras.
Hampir seharis mereka melakukan tes hingga Laras merasa lelah. Ingin sekali dia menyerah namun, Zaki terus menguatkan dan memberi semangat.
"Sedikit lagi, Ras. Ini sudah mau diujung gerbang masa mau mundur sih. Nggak kasihan sama, mas?" Begitulah Zaki menasehatinya.
Akhirnya, berkat kata kata itu dan mengingat perjuangnnya dulu hingga hari ini Laras kembali mendapatkan semangat. Dia tersenyum menatap wajah Zaki yang pasti juga lelah.
"Bismillah ya, mas" Zaki mengangguk dan tersenyum seolah mendapatkan semangat lebih setelah melihat Laras kembali tersenyum
.
.
BERSAMBUNG
.
.
Siapa yang nanti nanti pernikahan mereka? Sebentar lagi readers, sabar ya :)
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, FAVORITE DAN KOMEN YA, SEMOGA MENGHIBUR. SEE YOU NEXT CHAPTER.