
Hai readers! Sebelum baca tolong tinggalin jejak kalian dulu ya dengan cara like, komen, vote dan favorite. Bila perlu kalian ajak teman teman yang lain buat baca karya Author supaya Author juga semangat nulisnya.
Pov Laras
Tak lama pesanan kami datang dan kami mulai memakannya.
"Mau coba punya, mas?" Dia melayangkan garpu berisi seiris daging ke hadapanku. Segera aku menggeleng kuat.
"Kenapa?"
"Nggak terlalu suka daging" dia menarik garpu itu dan memasukannya ke dalam mulutnya sendiri.
"Mas, mau coba punya kamu, boleh?"
"Boleh" ku sodorkan piring ke arahnya. Dia diam menatapku.
"Katanya mau coba. Itu dicoba" kataku.
"Ternyata selain tukang ngambek kamu juga nggak peka!" Katanya dengan nada kesal. Aku mengernyit heran.
"Suapin kek, Ras. Biar romantis gitu" aku tersenyum dan paham. Lalu kupotongkan disert itu dan kusuapi dia dengan lemah lembut. Mas Zaki tersenyum.
"Maaf, Laras bukan orang yang berpengalaman dalam hal seperti ini, mas"
Memang benar, pasalnya aku belum pernah pacaran dengan siapa pun sebelumnya. Mas Zaki tersenyum lagi.
"Terimakasih. Berarti mas adalah laki laki beruntung" aku tersenyum malu dan kembali melanjutkan makan begitupun dengan dia sampai makanan kami habis.
Saat ini kami sudah berada di dalam mobil, entah kemana lagi dia akan membawaku. Tiba tiba di tengah tengah perjalanan ponsel mas Zaki berdering ada panggilan telfon entah dari siapa. Dia langsung mengangkatnya.
"Waalaikumusalam"
"......"
"Oh, ya? Dapat dari mana lu nomor telfon gua, Mon?"
__ADS_1
Lalu setelah itu mas Zaki tertawa terbahak bahak. Entahlah, aku tak tahu dia menerima telfon dari siapa. Tak lama dia mengakhiri telfon itu dan menatapku.
"Tadi teman SMA mas di Jakarta" aku mengangguk.
"Pulang aja ya, mas. Laras bau nih" kataku sambil mengendus tubuh. Tingkahku ini berhasil membuat mas Zaki tertawa hebat. Kek orang kerasukan.
"Ih, kenapa ketawa? Tuh, kan bener. Kenapa mas nggak bilang dari tadi, sih!"
"Mas ketawa karena kamu lucu, Ras. Ngatain diri sendiri. Nggak kok, kamu nggak bau. Harum malahan" aku menatap matanya penuh selidik.
"Bohong, ya" dia tersemyum dan menggeleng lalu setelah itu mengangkat 2 jarinya ke atas. Aku yang melihat itu tersenyum lucu.
"Tetep aja Laras mau pulang. Ada janji sama temen habis ini"
Beberapa waktu lalu aku memang sudah janjian dengan Fifi, Andre dan Gio. Rencananya kami ingin membukas suatu usaha seperti caffe caffe kekinian dengan menyediakan minuman minuman yang viral viral pada masa ini. Dan hari ini, rencananya kami ingin bertemu dengan pemilik caffe yang akan kami sewa. Dan selanjutnya, nanti akan didiskusikan bersama di sana.
"Janjian sama siapa?"
"Kan Laras udah bilang sama temen"
"Maksudnya, cewek atau cowok?"
"Banci?"
"Ih, bukan. Maksud Laras ada cewek ada cowok juga. Mas ngeselin, ih" Mas Zaki tersenyum dan tiba tiba mengusap usap halus kepalaku. Jelas, aku kaget.
"Mas ikut, ya. Sekali kali lah kenalin mas sama temen temen kamu?" Aku mengangguk.
Setibanya di rumah, aku langsung mandi dan bersiap siap. Mas Zaki saat ini sedang duduk mengobrol bersama papa yang kebetulan hari ini tidak dinas. Mama berada di dapur sedang membuatkan minuman untuknya.
Setelah selesai bersiap siap, aku keluar dengan menggunakan baju kemeja panjang selutut dipasangkan dengan celana kulot berwarna moca dan kepala berbalut hijab segi empat berwarna moca sengaja kusenadakan dengan warna celana agar terlihat mecing.
"Udah?" Aku mengangguk.
"Eh, Kapten Zaki diminum dulu ini. Baru juga dibuatin" kata papa karena melihat mas Zaki ingin beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Jangan panggil kapten, pak. Sebentar lagi kan Zaki menjadi menantu di sini" katanya seraya duduk kembali.
"Iya, kamu juga jangan panggil pak panggil papa aja" Mas Zaki mengangguk dan tersenyum. Kemudian aku mendaratkan tubuh di samping mama. Ku raih ponsel yang sedari tadi bergetar aku tahu itu chat dari Gio karena memang aku sudah terlambat 15 menit.
"Ayo, mas. Kalau nggak Laras jalan sendiri aja"
"Ih kamu. Kasihan kan Zaki baru juga minum" sahut papa.
"Nggak papa kok, pa. Yaudah ayo"
Di dalam mobil!
Aku sibuk membalas chat Gio mencoba memberi dia pengertian karena sedari tadi dia marah marah akibat menunggu ku terlalu lama.
"Serius banget, Ras" aku meliriknya sekilas.
"Iya. Ini si Gio marah marah nungguin Laras kelamaan" jawabku sambil jari jemari asik mengetik setiap huruf demi huruf.
"Udah nggak usah dibales nanti juga ketemu"
Hm, sepertinya dia mulai cemburu lagi nih? Posesif sekali! Batinku.
"Nggak enak, mas. Jangan cemburu, ya" kataku memberi pengertian. Namun, tiba tiba diam menarik tangan kanan ku dan menggengamnya erat. Aku kaget dan langsung menatap matanya yang berbalut kaca mata hitam itu.
"Mas, jangan gini. Nanti nabrak" aku mencoba melepas pegangan tangannya namun, lagi lagi tak bisa, dia kuat sekali. Akhirnya, aku diam dan pasrah. Asal tidak macam macam saja.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
__ADS_1
Komen dong gimana menurut kalian tentang chapter ini. Author tunggu ya.
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, FAVORITE DAN KOMEN YA, SEMOGA MENGHIBUR. SEE YOU NEXT CHAPTER.