Pak Tentara

Pak Tentara
Marah Hebat


__ADS_3

Hai readers! Sebelum baca tolong tinggalin jejak kalian dulu ya dengan cara like, komen, vote dan favorite. Bila perlu kalian ajak teman teman yang lain buat baca karya Author supaya Author juga semangat nulisnya.


•••


Zaki yang kebetulan ingin pergi ke rumah Laras tadi tiba tiba dikejutkan karena melihat orang yang ingin ditemuinya sedang berboncengan dengan seorang pria yang tidak dia kenal. Melihat itu jelas Dia merasa cemburu dan memutuskan untuk mengikuti mereka.


Lagi lagi Zaki dibuat cemburu karena Laras dan pria itu terlihat dekat apalagi saat itu mereka sedang tertawa lepas bersama. Tangannya mengepal dan rahangnya mengeras. Dia tak menyangka Laras akan berbuat begitu.


Dulu aku jadi selingkuhan dan sekarang aku diselingkuhi! Batin Zaki.


Hingga terlihat mereka singgah di sebuah caffe dan memesan makanan. Zaki masih tak ingin menghampiri Laras dia ingin melihat sejauh apa mereka akan berbuat. Tibalah saat dimana Laras sedang mengobrol dengan pria itu dan ketika Laras ingin menyerahkan ponselnya pada Fajri Zaki langsung menarik Laras. Dia fikir mereka akan bertukar nomor telfon.


Ya, kesalah fahaman lah yang terjadi saat ini.


Zaki memang tahu Laras mempunyai seorang kakak namun, dia tak tahu bagaimana wajahnya. Fajri yang melihat adiknya di tarik sepert itu sangat marah, dia sudah siap melayangkan sebuah pukulan di wajah Zaki namun, dengan cepat Laras menghalangi.


Hampir semua orang yang ada di sana menatap mereka. Mata Zaki kini berubah menjadi merah karena dikuasai api kemarahan, dia membawa Laras keluar tanpa berkata apa apa.


"Mas, sakit" Zaki tak menghiraukan rintihan Laras emosinya sudah meluap luap sekarang.


"Hei, lepas!" Fajri tak bisa melihat adiknya kesakitan begitu.


"Mas!" Teriakan Laras berhasil membuat Zaki berhenti berjalan. Dengan tubuh dikuasai emosi Zaki menatap Laras tajam.


"Berani beraninya kamu menarik adik saya" dengan kasar Fajri menarik Laras ke arahnya, mencoba melindungi Laras dari Zaki.


"Apa, adik?" Zaki bertanya kembali seolah tak percaya apa yang dia dengar.


"Iya, Adik. Memang kenapa?" Zaki terdiam membisu menatap Laras yang saat ini sedang memegang tangannya karena merasa kesakitan.


"Kenapa diam?!" Tanya Fajri.


"Maaf" kata itulah sekarang yang keluar dari mulut Zaki. Terlihat sekali di sana wajah malunya. Emosi itu seketika menghilang karena dimakan oleh rasa malu.


"Enak saja minta maaf. Memang kau siapa, hah?! Seenaknya menarik adik ku begitu"

__ADS_1


"Kak, Dia mas Zaki calon suamiku" Laras membuka mulutnya agar perdebatan mereka tak menjadi jadi. Fajri diam menatap Zaki intens.


"Ras?" Laras membuang mukanya ke arah lain saat Zaki memanggilnya.


"Oo ternyata ini orangnya. Kasar sekali kamu" kata Fajri.


"Maaf, saya nggak tahu saya fikir-"


"Apa?!" Dengan cepat Fajri memotong pembicaraan Zaki.


"Kak, sudahlah. Ayo antar aku ke caffe" Laras berjalan menjauh dari hadapan Zaki.


"Ras? Mas minta maaf mas nggak bermaksud gitu, Ras" Fajri yang melihat pertengkaran itu mencoba berfikir positif atas tindakan yang dilakukan Zaki barusan. Dia tahu, sebetulnya Zaki tak bermaksud begitu.


Fajri tahu kok bagaimana jika seandainya dia ada di posisi Zaki, melihat calon istri jalan berdua dengan seorang pria yang tak dia kenal. Pasti fikiran negatif menguasainya.


"Ras, kamu selesain dulu tuh sama calon suamimu. Kalian udah mau nikah nggak baik berantem berantem"


mendengar apa yang kakanya katakan membuat Laras menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke belakang dimana disitu Zaki sedang berdiri menatap Laras nanar ada sebuah penyesalan yang teramat dalam jika dilihat dari mata itu.


Melihat Laras berhenti dan menatapnya seolah memberi Zaki lampu hijau. Dia langsung menghampiri Laras.


"Makasih ya, kak" kata Zaki pada Fajri.


"Santai aja. Jangan panggil kak, Fajri aja" Zaki mengangguk dan tersenyum.


Di dalam mobil tak ada percakapan sama sekali di antara Laras dan Zaki. Laras terus memegang tangannya yang merasa sakit dan sekarang mulai berubah warna menjadi merah. Zaki yang melihat itu merasa semakin bersalah.


Mengapa aku sangat kasar! Gumamnya.


"Ke dokter ya, Ras"


"Nggak perlu!" Laras membuang mukanya ke arah jendela.


"Mas minta maaf, Ras"

__ADS_1


Laras diam. Ada rasa kecewa yang teramat mendalam di dalam lubuk hatinya. Dia tak pernah menyangka jika Zaki akan berbuat sekasar ini. Perlahan lahan air matanya mulai menetes tanpa ia harapkan. Dengan cepat dia mengusap air mata itu dengan kasar.


"Ras?"


Laras masih diam.


Tiba tiba Zaki menepikan mobilnya dan menatap ke arah Laras yang melihat ke arah luar jendela. Dari pantulan kaca itu Zaki tahu bahwa Laras sedang menangis.


"Ras, lihat mas"


Bukannya melihat ke arah Zaki tapi, tangisannya semakin menjadi. Zaki semakin dibuat merasa bersalah dan bingung. Ingin sekali dia memukul dirinya sendiri saat ini juga karena ulahnya yang keterlaluan.


"Mas salah. Kamu mau pukul mas? Pukul sekarang, Ras. Kamu mau bales mas? Bales, Ras. Jangan diemin mas gini Ras mas nggak bisa"


"Laras kecewa sama, mas Zaki"


Bom, Hatu Zaki terasa tertusuk sesuatu setelah mendengar apa yang Laras katakan.


"Maafkan mas, Ras. Mas terlalu cemburu, mas takut kehilangan kamu, Ras" Zaki menunduk menyesali perbuatannya untuk kesekian kalinya.


"Laras nggak pernah larang mas cemburu. Tapi, kenapa mas seksar itu? Waktu itu mas bentak Laras dan sekarang mas tarik Laras lalu setelah ini apa lagi, mas? Mas bakal bunuh Laras?" Zaki benar benar bingung harus menjawab apa sekarang. Laras sangat begitu marah padanya.


"Jika tahu begini. Laras akan berfikir dua kali untuk menerima mas Zaki jadi suami Laras"


.


.


BERSAMBUNG


.


.


Wah, Laras marah besar itu. Apa yang akan terjadi setelah ini?

__ADS_1


Apa Laras akan berubah fikiran tentang pernikahannya?


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, FAVORITE DAN KOMEN YA, SEMOGA MENGHIBUR. SEE YOU NEXT CHAPTER.


__ADS_2