
Hai readers! Sebelum baca tolong tinggalin jejak kalian dulu ya dengan cara like, komen, vote dan favorite. Bila perlu kalian ajak teman teman yang lain buat baca karya Author supaya Author juga semangat nulisnya.
Pov Laras
"Kamu dapet dari mana foto ini?" Bukannya menjawab mas Zaki malah bertanya balik padaku.
"Nggak penting! Jawab Laras mas, siapa perempuan itu?"
"Iya, mas jawab. Kamu tenang dulu dong. Jangan nangis, nanti mama denger"
"Biarin mama denger. Ceraikan aja Laras sekalian!" Mas Zaki melotot dia mendekat dan menariku ke dalam dekapannya. Aku memberontak namun, dia semakin mengeratkan pelukan itu.
"Jangan pernah berkata seperti itu! Mas nggak suka!" Aku tak perduli dengan perkataannya.
"Mas akan jelaskan. Ini nggak seperti apa yang kamu fikirkan!" Dia melepas pelukannya dan menghapus air mataku.
"Dia teman SMA mas, namanya Fiya. Fiya punya pacar, pacarnya itu teman satu letting mas waktu pendidikan. Fiya baru dapat kabar kalau pacarnya meninggal dalam penugasan beberapa hari lalu. Jujur, mas sedih karena pacarnya Fiya itu teman dekat mas. Mas juga nggak tahu kenapa Fiya bisa ada di sini dan bisa menghubungi mas kemarin. Dia meluk mas tiba tiba. Karena mas tahu seberapa sedihnya dia ya, akhirnya mas biarin dia meluk begitu aja karena niat mas saat itu cuman mau nenangin doang, yangg" aku menatap matanya dengan lekat mencari sebuah kejujuran dan sepertinya dia memang benar benar berkata jujur.
"Mas nggak ada maksud lain. Demi allah, yangg. Mas nggak mungkin dan nggak akan pernah khianati kamu. Susah payah mas dapetin kamu dan mas masih ingin mencari wanita lain? Nggak akan pernah. Kamu denger itu? Pegang omongan, mas ini"
Sungguh?
Ternyata aku sudah berburuk sangka dengannya. Maafkan Laras mas, batinku.
Aku menunduk. Rasa bersalah kini lah yang menyelimuti hatiku. Mas Zaki mengangkat daguku, terlihat senyum manis di bibirnya.
"Maukan maafin, mas?" Aku mengangguk kaku seolah terpesona dengan tatapannya itu.
"La-Laras juga minta maaf ya, mas" dia tersenyum menatapku, semakin lama kami bertatapan wajah mas Zaki semakin mendekat ke arah ku. Dan...
Tok..! Tok..! Tok..! (Suara ketukan pintu kamarku).
__ADS_1
Dengan cepat ku dorong tubuh mas Zaki hingga hampir terjatuh.
"Kok didorong sih, yangg?"
"Ras, ayo makan. Ajak Zaki sekalian!" Teriak mama dari balik pintu.
"I-iya ma" Mas Zaki menarik ku ketika ingin melangkahkan kaki keluar.
"Lepas!"
"Nggak mau!"
••••
"Zaki mana?" Tanya mama saat aku sudah tiba di dapur.
"Ada di kamar, ma"
"Sudah, sebentar lagi juga keluar" mama mengangguk.
Kali ini mama aku dan mas Zaki sudah berada di meja makan untuk makan siang bersama.
Baru saja ingin menyuapkan makanan ke dalam mulut tiba tiba aku merasa sangat begitu mual dan bau makananya terasa tak enak di hidungku. Padahal makanan ini adalah makanan kesukasnku.
"Huek.." Mas Zaki dan mama langsung menatapku heran.
"Sayang kenapa?"
"Ras, kamu kenapa?"
"Huek..!" Aku langsung berlari ke washtafel dapur dan memuntahkan isi perutku yang padahal masih kosong karena memang dari tadi aku belum memakan sesuatu.
__ADS_1
"Sayang, kamu baik baik aja?"
"Perut aku nggak enak, mas..Huek!" Lagi lagi aku muntah. Mas Zaki mengusap ngusap tengkuk ku lalu mengelap mulutku dengan tangannya sendiri tanpa jijik.
Ya allah, baik banget suamiku, batinku.
"Huek!" Dan muntah lagi.
"Ras, kamu kenapa? Ini pakai minyak kayu putih" mas Zaki meraih minyak kayu putih itu dari tangan mama dan mengusapkannya sedikit ke hidungku. Bukannya membaik, kepalaku malah mendadak pusing.
"Aduh, mas. Kepala Laras pusing"
"Yaudah, kita ke dokter ya" aku mengangguk.
"Mama ikut" dan akhirnya kami semua berangkat ke dokter. Btw, papa lagi dinas di luar kota. Makanya nggak ada.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
Tuh, siapa yang sudah suudzon sama Zaki? Hayo ngaku?😋
Kira kira Laras kenapa ya? 🤔
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, FAVORITE DAN KOMEN YA, SEMOGA MENGHIBUR. SEE YOU NEXT CHAPTER.
__ADS_1