
Malam ini Laras bersama beberapa teman temannya sedang kerja kelompok disalah satu caffe favorite yang ada di kota ini. Masing masing dari mereka saling membagi tugas ada yang menghitung RAB (Rencana Anggaran Biaya) dari proyek yang mereka survey beberapa hari lalu, ada yang mengetik, ada yang mencatat di buku note tentang rincian perhitungan cara mendapatkan RAB agar ketika dosen menanyakan hal tersebut mereka semua sudah siap dan bisa menjawabnya.
Zaki yang merasa lapar dan kebetulan sedang tidak ada makanan di rumah memutuskan untuk keluar mencari makan. Dia berhenti di salah satu caffe yang lumayan ramai dan membuatnya sedikit penasaran. Pelayan datang menghampirinya dan Zaki mulai memilih menu untuk dipesan.
"Saya mau yang ini sama minumnya yang ini" ujarnya seraya menunjuk menu yang dimaksud.
"Baik, mohon ditunggu ya pak" Zaki mengangguk dan pelayan berlalu pergi. Matanya menelusuri setiap inci caffe itu. Indah, itulah yang ada di dalam benaknya saat ini. Hingga pandangan matanya jatuh pada sesosok gadis yang selama ini selalu membuatnya penasaran serta jatuh cinta.
Gadis itu tidak lain dan tidak bukan adalah Laras. Gadis yang sedang duduk bersama beberapa temannya dengan mata terus memandang laptop yang ada dihadapannya dan terus mencuri perhatian Zaki meski sedang fokus seperti itu.
Matanya enggan menatap ke arah lain, bibirnya terus mengukir senyum dan jantungnya berdebar debar. Meski hanya memandang dari kejauhan itu sudah sangat membuat Zaki senang. Senggaknya dia bisa mengobati rasa rindu karena akhir akhir ini Laras selalu menghindar darinya.
"Ini pesanannya, pak" seketika lamunan Zaki buyar. Dia langsung terlihat salah tingkah seperti orang yang habis ketahuan mencuri. Iya dia telah mencuri, mencuri pandang dengan Laras, wkwk.
Melihat sang pelanggan gelagapan si pelayan tersenyum senyum menahan tawa dia meletakkan pesanan Zaki ke atas meja. Zaki mengucapkan terimakasih sedangkan pelayan berlalu pergi dengan raut wajah masih dengan menahan tawa.
Pindah ke Laras!
Masih disibukkan dengan tugas tugas yang amat sangat banyak Laras terus fokus pada laptop yang ada di hadapannya seolah tak ingin memindahkan pandangan itu agar fikirannya tidak terbagi. Dering nada ponsel Fifi, teman Laras membuyarkan konsentrasi mereka semua. Fifi yang juga merasa terganggu mengangkat telfon itu.
Raut wajah yang awalnya kesal sesaat berubah menjadi sebuah kepanikan. Air perlahan mulai menetes di pipi Fifi, Laras dan teman teman yang lain ikut panik melihat sang teman menangis. Mereka semua mencoba menenangkan Fifi yang saat ini sedang berurai air mata.
Melihat temannya mulai merasa tenang Laras mengajukan pertanyaan yang menjadi tanda tanya diantara mereka semua.
"Ayahku masuk rumah sakit, Ras. Hiks..hiks..hiks.." Tangisnya pecah. Laras merentangkan tangannya memberi tanda agar Fifi memeluknya. Laras berharap dengan pelukan itu akan membuat dia merasa lebih tenang.
"Sebaiknya kamu susul ayahmu ke rumah sakit, Fi" diusapnya punggung Fifi.
"Tapi, tugas ini?"
__ADS_1
"Udah. Ini semua biar kita yang ngerjain" timpal Aulia.
Laras, Andre dan Gio mengangguk. Fifi melepas pelukan itu dan di sana mulai terlihat senyumnya. Semua mulai merasa agak sedikit lega.
"Nih pakai motor aku. Biar kamu cepat sampai" Laras menyodorkan kunci motornya pada Fifi.
"Terus kamu pulangnya gimana?" Tanya Fifi.
"Aku bisa pesan ojol. Udah tenang aja, nggak usah fikirin aku" Fifi memeluk Laras dan mengucapkan banyak terimakasih. Laras mengangguk. Dengan cepat Fifi berlalu pergi menuju rumah sakit untuk mengecek kondisi sang ayah.
Pukul 22.53 pekerjaan Laras dan teman temannya selesai mereka semua langsung bersiap untuk pulang.
"Ras. Kamu udah pesen ojol?" Tanya Andre.
Ah, iya. Kenapa aku bisa melupakan itu? Batin Laras.
"Yaudah ikut aku aja" tawar Andre
"Nggak usah, ndre. Rumah aku sama kamu beda arah. Lagi pula nggak enak juga sama orang orang komplek, nanti aku malah digosipin macam macam" seperti itulah Laras selalu menolak jika diajak temannya berboncengan. Ojol pun Laras memilih supir yang wanita. Jikalau pria pun itu karena terpaksa.
"Beneran nih?" Laras mengangguk.
"Maaf ya, Ras. Aku nggak bisa antar kamu pulang. Aku aja nebeng Gio" sahut Aulia.
"Santai aja. Udah kalian pulang sana. Nanti keburu malam. Aku gampang"
"Kalau ada apa apa di jalan telfon kita ya, Ras" kata Gio.
"Iya. Tenang aja" Andre, Aulia dan Gio pun pulang atas perintah Laras.
__ADS_1
Laras berjalan ke depan caffe berharap menemukan taxi atau semacamnya karena memang malam sudah semakin larut. Hampir 20 menit Laras menunggu namun, dia tak kunjung menemukan alat transportasi untuk pulang. Dia semakin cemas dan gelisah.
Zaki yang sedari tadi terus memperhatikan Laras dari kejauhan juga ikut cemas. Ingin dia menawarkan tumpangan tapi, takut jika Laras menolak. Ya, sedari tadi Zaki belum pulang karena ingin menunggu Laras bukan bermaksud apa apa dia hanya khawatir akan kejadian yang seperti ini. Dan kekhwatirannya menjadi kenyataan, bukan?
Melihat Laras cemas dan gelisah Zaki semakin tak tega, ketakutannya akan ditolak hilang seketika. Mau tidak mau Laras harus pulang bersamaku, batinnya. Dengan cepat dia memberhentikan mobilnya di hadapan Laras. Zaki turun, dan di sana langsung terlihat wajah kaget sang wanita.
"Bapak?"
"Pulang bareng saya, Ras" Zaki langsung membukakan pintu mobil untuknya. Laras terdiam kaku. Dia bingung, entah harus menolak atau menerima mengingat malam yang semakin larut.
"Ayo" sambung Zaki.
"T-tapi"
"Udah ayo masuk. Nggak baik anak gadis pulang malam sendirian"
Entah apa yang ada di dalam fikiran Laras dia menurut apa yang dikatakan Zaki untuk masuk ke dalam mobil. Dan setelah itu..
.
.
BERSAMBUNG
.
.
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, FAVORITE DAN KOMEN YA, SEMOGA MENGHIBUR. SEE YOU NEXT CHAPTER.
__ADS_1